Tag Archive forest

#loveforests

Herewith would like to share the video compiled by @FAOForestry regarding the Internal Day of Forests. The compiled video is a compilation expression on celebrating the #IntlForestDay from all over the world and my video is one of it. Please have a look in the link below – #loveforests #intlForestDay:

IFRAME Embed for Youtube

or

<blockquote class=”twitter-video” data-lang=”en”><p lang=”en” dir=”ltr”>Thanks to all who made a video for the <a href=”https://twitter.com/hashtag/LoveForests?src=hash”>#LoveForests</a> campaign for International Day of Forests! Here&#39;s a compilation! <a href=”https://twitter.com/hashtag/IntlForestDay?src=hash”>#IntlForestDay</a> <a href=”https://t.co/zcboiXj8zN”>pic.twitter.com/zcboiXj8zN</a></p>&mdash; FAO Forestry (@FAOForestry) <a href=”https://twitter.com/FAOForestry/status/845230262761902080″>March 24, 2017</a></blockquote>
<script async src=”//platform.twitter.com/widgets.js” charset=”utf-8″></script>

 

 

Tags, ,

Forest and farm facility. Making a difference

Below is the video that is produced by FAO is talking about making a difference for our forest and forestry by listening to many ideas. Happy watching.

Tags, , , , , ,

Petani hutan rakyat perlu mengenal pasar?

 

1409175289598023882

Di Yogyakarta, tepatnya di Hotel Inna Garuda, di Jalan Malioboro no. 60, kemarin (27 Agustus 2014) berlangsung pertemuan tahunan kegiatan penelitian yang merupakan kerjasama dua negara – bilateral, antara Indonesia (dalam hal ini berada dalam tanggung jawab Kementerian Kehutanan) dan Australia (dalam hal ini didanai serta dalam tanggung jawab ACIAR – Australian Center for International Agricultural Research).

Kegiatan penelitian ini sendiri dikerjakan secara kolaboratif antar beberapa institusi seperti misalnya:

    • The Australian National University, Canberra, Australia,
    • The University of Melbourne, Melbourne, Australia
    • The University of Queensland, Queensland, Australia
    • Pusat Penelitian Perubahan Iklim dan Kebijakan Kehutanan, yang berlokasi di Bogor,
    • CIFOR (Centre of International Forestry Research) , yang berlokasi di Bogor.
    • Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, di Yogyakarta,
    • Balai Penelitian Kehutanan Makassar, yang berlokasi di Makassar,
    • WWF Indonesia, yang berlokasi di Mataram, NTB, dan
    • Trees for Trees, LSM yang berlokasi di Pati, Jawa Tengah

Menghubungkan petani hutan rakyat dengan pasar? Dan mengapa perlu dihubungkan? Apakah mereka tidak dapat menghubungkan dirinya sendiri dengan pasar?

Sementara kegiatan penelitian yang berjangka waktu kurang lebih empat setengah tahun (berakhir di tanggal 30 September 2015) ini melakukan beberapa hal seperti misalnya: Melakukan analisis terkait dimensi sosial CBCF (Community Based Commercial Forestry – Kehutanan komersial yang berbasis masyarakat), melakukan evaluasi rantai nilai, penelitian mengenai meningkatkan kapasitas petani hutan, yang terkait dengan keputusan investasi petani terkait dengan lahan hutan rakyatnya.

Sebagai informasi, hutan rakyat diartikan sebagai tanaman komoditas kehutanan (yang membentuk hutan) yang ditanam di lahan milik rakyat atau masyarakat (petani), bukan di lahan perusahaan maupun lahan negara.

Kembali kepada beberapa pertanyaan di atas, pada pertanyaan pertama ditanyakan tentang hubungan petani hutan rakyat dengan pasar. Berdasarkan hasil penelitian maupun pengamatan, sejauh ini, ternyata terlihat bahwa petani hutan rakyat belum dapat dikatakan ‘familiar’ dengan situasi pasar kayu. Berapa harga kayu, berapa harga log, apakah ada perbedaan antara harga kayu yang baik dengan yang tidak baik, berapa range-nya, serta bagaimana kriteria kayu yang baik menurut kriteria pasar ataupun industri, dan informasi-informasi seperti itu sangat minim diketahui oleh masyarakat.  Padahal dalam masa sekarang ini, telah diakui bahwa petani hutan rakyat adalah bagian tidak terpisahkan, atau dapat dikatakan sebagai aktor utama dalam kehutanan yang bersifat komersial (CBCF).

Kalau kemudian timbul pertanyaan, apakah perlu dihubungkan? Jawabannya mungkin bisa ya ataupun tidak. Hanya saja, dari pengamatan, lebih banyak yang menjawab bersedia untuk dihubungkan dengan pasar. Alasan utamanya adalah mereka masih belum merasa bisa berhubungan ataupun terhubung dengan pasar.

 Selama ini, hampir sebagian besar petani hutan rakyat akan berhubungan dengan pedagang antara (middleman), dari proses yang terkait proses jual beli serta proses penebangan, hingga informasi harga di pasar diperoleh dari pedagang antara. Sepertinya akan masih memerlukan waktu yang panjang untuk sampai tidak memiliki pola seperti itu.

 Dari pertemuan di Yogyakarta tersebut, makin terkuak perlunya ‘menghubungkan’ petani hutan rakyat dengan pasar, sebagai bagian dari kehutanan komersial, dimana petani hutan rakyat adalah aktor utama dari pembangunan kehutanan. Sebagai aktor utama, sudah sewajarnya kalau pihak yang mendapat keuntungan dari CBCF itu adalah mereka, petani hutan rakyat

 Dari hasil penelitian ACIAR tersebut, diperkenalkan metode MTG – MTG approach (MTG = Master Tree Grower), yang digagas oleh Rowan Reid, yang adalah konsultan sekaligus dosen di University of Melbourne. Dalam metode ini, yang dilaksanakan dalam bentuk training, peserta pelatihan – yang sebagian besar pesertanya adalah anggota kelompok tani, diberikan dan diperkenalkan dengan industri kayu, untuk memberikan pemahaman, kemana muara dari kayu yang mereka tanam. Karena muaranya adalah terutama untuk dijual, disamping untuk digunakan sesuai keperluan pemiliknya, maka mereka perlu diberikan pemahaman tentang ‘pasar’ yang akan dihadapinya kelak. Hasil awal membuktikan bahwa metode ini efektif dalam merubah paradigma mereka tentang keuntungan yang akan mereka peroleh dari pengelolaan hutan rakyat yang selama ini mereka telah lakukan (di kesempatan lain akan saya uraikan lebih jauh tentang program MTG ini).

 1409176016522830992

Acara pembukaan annual meeting

Dalam pidato pembukaannya, baik yang disampaikan (secara tertulis) oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kepala Badan Litbang Kehutanan, keduanya menekankan akan pentingnya para pihak untuk terus-menerus menyadari bahwa manusia (baca: petani hutan serta masyarakat di sekitar hutan lainnya) adalah aktor utama dalam pembangunan kehutanan dan yang diuntungkan dari pembangunan kehutanan tersebut – disamping keuntungan lain seperti misalnya untuk perbaikan lingkungan. Beranjak dari situ pulalah harapan terhadap hasil penelitian yang dilakukan oleh ACIAR – Kementerian Kehutanan (dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam kolaborasi tersebut diatas) itu.

1409176150833454773

Dr. Digby Race – Perwakilan ACIAR (sebelah kiri)

Yogyakarta, August 2014

 @kangbugi

Keterangan:

– foto-foto adalah dokumen pribadi

Reblogged from my article published at: http://sosbud.kompasiana.com/2014/08/28/petani-hutan-rakyat-perlu-mengenal-pasar-mekanisme-pemasaran-kayu-671142.html

Tags, ,

Leadership Required: Ensuring Local Communities Benefit from Climate Finance

Source: Blog RECOFTC

A vicious cycle exists in the financing of climate change activities. So said Myrna Cunningham, president of the UN Permanent Forum on Indigenous Issues, during the opening session of the 2012 Climate Investment Fund Partnership Forum in Istanbul, Turkey (November 6-7, 2012). Financiers of climate compatible development activities, particularly the private sector, require deliverables to be met and view the limited capacity typical of rural communities as reasons to circumvent them and engage with ‘higher capacity’ actors. The opening session of the Forum underscored the need for climate financing investments, by banks and by the private sector, to be profitable.

to continue reading, please visit: http://recoftc.wordpress.com/2012/11/09/leadership-required-ensuring-local-communities-benefit-from-climate-finance/

Tags, , ,

Bambu, pertanda adat dan manfaatnya di Sulawesi Selatan

Lasugi/Alasugi/Balla yang dibangun di depan rumah (dok. pribadi)

Lasugi/Alasugi/Balla yang dibangun di depan rumah (dok. pribadi)

Masyarakat di Sulawesi Selatan menyebutnya dengan Alasugi, Lasugi, atau bahkan kadang disebut Balli. Saya mengenal nama ini sewaktu melakukan kunjungan lapangan ke Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu sebuah bangunan sederhana di depan rumah penduduk.

Rumah Panggung - Kab. Bulukumba (dok. pribadi)

Rumah Panggung – Kab. Bulukumba (dok. pribadi)

Bukan sekedar bangunan biasa, walau (hanya) terbuat dari bambu. Masyarakat menyebutnya dengan Alasugi atau Lasugi atau Balli,  adalah sebutan untuk ‘gapura’ yang terbuat berbahan dasar bambu. Dipasang didepan rumah sebagai gapura dan memiliki fungsi pertanda bahwa di rumah tersebut akan dilangsungkan suatu acara besar, yaitu pernikahan, dan pernikahan yang dilakukannya adalah yang penuh ritual dan bermartabat.

Bermartabat yang bagaimana?

Lasugi/Alasugi/Balla didalam rumah - latar belakang puade pengantin (dok. pribadi)

Lasugi/Alasugi/Balla didalam rumah – latar belakang puade pengantin (dok. pribadi)

Konon alasugi ini, sekali dipasang tidak boleh dirubuhkan hingga ia rubuh atau hancur dengan sendirinya. Karena setelah pesta pernikahan usai, Alasugi menjadi lambang bahwa di rumah itu telah dilangsungkan pernikahan – ritual adat yang dihormati dan dihargai – bahwa si empunya rumah mampu melaksanakan acara pernikahan itu, dengan cara yang baik, yang semestinya – mendapatkan jodoh yang terbaik serta dari keluarga yang baik-baik pula, dan itu adalah suatu kebanggaan tersendiri, suatu kesan yang bermartabat.

Berfoto di depan lasugi - perhatikan susunan bambu 3 rangkap sebagai tanda kebangsawanan(dok. pribadi)

Berfoto di depan lasugi – perhatikan susunan bambu 3 rangkap sebagai tanda kebangsawanan(dok. pribadi)

Ada pula ornamen bambu yang dipasang didalam rumah, selain yang diluar tersebut, yang secara tradisional melambangkan asal-usul keluarga. Saya berkesempatan bersilaturahmi dengan kawan lama yang baru melangsungkan perkawinan putri pertamanya. Berdasarkan asal-usulnya, istri kawan saya ini masih keturunan bangsawan, sehingga dibuatlah ornamen dari bambu yang menunjukkan asal usulnya. Apa itu cirinya, jika diperhatikan, nampak bahwa ornamen bambu yang disusun memiliki tiga lapis bambu – tanda kebangsawanan.

Kesan bermartabat, semartabat menggunakan bambu sebagai bahan baku pembuatan Alasugi. Ternyata menggambarkan martabat dari sudut pandang lingkungan.

Apa maksudnya?

Mari kita lihat dari bahan dasar yang digunakannya, yaitu bambu.

Mengapa Bambu? Hal itu belum terungkap secara jelas kecuali alasan mudah didapat dan mudah dalam pembuatannya, hanya saja, terlepas dari alasan yang sederhana itu, dari kacamata lingkungan, bambu memiliki manfaat yang sangat banyak, yaitu antara lain:
– Bambu yang dikategorikan sebagai HHBK (hasil hutan bukan kayu – NTFP/non timber forest product) sudah sejak lama dikenal dan digunakan oleh masyarakat, terutama masyarakat sekitar hutan dan memiliki nilai ekonomi yang dapat digunakan oleh masyarakat.
– Tanaman bambu merupakan sumber pangan, rumah tangga, mebeler, bahan pembuatan rumah, souvenir, alat musik,  hingga digunakan dalam bagian dari (upacara) ritual adat.
– Tanaman bambupun dikenal dapat digunakan sebagai tanaman untuk reboisasi, karena sifatnya yang mudah tumbuh, memiliki daya adaptasi terhadap lingkungan yang tinggi serta kemampuannya untuk menyerap air yang efektif & sumber penghasil Oksigen yang baik.
– pemanfaatan bambu bagi konstruksi bangunan tahan gempa, serta rancangan perumahan rumah sangat sederhana yang menggunakan bahan bambu untuk  tiang, dinding, kuda-kuda dan atap.

Di bagian lain di Sulawesi Selatan, masyarakat Suku Toraja memiliki rumah adat khas yang menggunakan bahan baku utama bambu. Rumah adat tersebut dinamakan tongkonan1).  Tongkonan – karena terbuat dari bambu –  memiliki sirkulasi udara yang baik serta bernilai arsitektur yang unik.

Bambu, selama budaya melibatkannya, tidak akan habis dibutuhkan keberadaannya. Budidaya bambu yang berkelanjutan menjadi penting. Melaksanakan adat yang berimplikasi positif terhadap semangat untuk melestarikan budaya dan budidaya bambu.

Makassar, 20 Juli 2012

 

Bugi Sumirat

 

Note:

1) Tongkonan berarti tempat duduk. Dalam riwayatnya, Tongkonan digunakan sebagai tempat untuk berkumpul para bangsawan suku Toraja – dalam pertemuan itu biasanya digunakan untuk mendiskusikan problema-problema yang terkait dengan adat istiadat dan lain sebagainya.

Tags, , , , , , ,

Nice shots in estuary

the team

the team

It was on Lengkese village, Takalar District, South Sulawesi Province, when I and Rotarian colleagues visited Pesantren Darul Aman did a survey to observe whether Pesantren location was suitable for clean water and sanitation project. On that occasion, we were shown by a beautiful & tranquil estuary area – surrounding pesantren area – which were so impressive.

I found also that there was a Trembesi tree amongst ‘mangrove’ area – enriched the atmosphere.

Below are some photos, please enjoy.

Thanks,

Cheers,

Bugi

[Note: all photos are Bugi Sumirat’s collection]

Estuary area

Estuary area

Milkfish pond

Milkfish pond

Constructing traditional wooden high house

Constructing traditional wooden high house

The river

The river
Mangrove

Mangrove

the river bank

the river bank

Mangrove 'troops'

Mangrove 'troops'

mixed composition

mixed composition

Trembesi tree - enriched the situation

Trembesi tree - enriched the situation

 

Tags, , , ,

OMOT vs Bahasa Lokal

Betul juga apa yang disampaikan seorang yang bekerja di perusahaan kayu ketika saya melakukan perjalanan dinas ke suatu kabupaten di Sulawesi Selatan beberapa waktu yang lalu, yang menyoroti masalah sosialisasi kehutanan.

Kenapa memangnya?

Tags, Read More

Komoditas kehutanan baru sebatas komoditas investasi

Itu yang terekam ketika saya melakukan kegiatan penelitian pendahuluan di suatu desa di provinsi Sulawesi Selatan.

“Ibu punya tanaman kayu di kebun ibu?” begitu tanya saya kepada responden yang merupakan anggota kelompok tani hutan – yang lebih dikenal dengan istilah kelompok tani penghijauan (karena asal muasal terbentuknya kelompok tani adalah adanya program penghijauan yang merupakan program lanjutan kegiatan dari pusat).

 “Punya, misalnya sengon, bitti, gmelina dan sedikit jati”, jawabnya.

 Demikian seterusnya tanya jawab berlangsung seputar tanaman apa yang dimiliki di lahan miliknya sekaligus menanyakan seputar penghasilan rumah tangganya.

 Yang menarik adalah sewaktu responden tersebut menyebutkan mengenai sumber penghasilannya. Disebutkan antara lain bahwa penghasilannya berasal dari: ternak yang ia miliki (seperti misalnya ayam dan sapi), kemudian dari tanaman komoditas perkebunan dan pertanian yang ia miliki (seperti: coklat, vanili, sawah), tanpa menyebut tanaman kayu yang ia miliki seperti telah disebutkan di atas.

 Saya kemudian menanyakan mengapa tanaman-tanaman kayunya tidak dimasukkan sebagai salah satu sumber penghasilan rumah tangganya. Responden itu kemudian melanjutkan bahwa tanaman kayunya baru akan digunakan (baca: dijual) jika ada keperluan mendesak, seperti biaya sekolah anak maupun biaya menikahkan anak. Atau digunakan sebatas untuk memperbaiki rumah (kebanyakan rumah di daerah masih menggunakan rumah asli adat Bugis/Makassar, yaitu rumah panggung yang berbahan utama kayu.

 Program-program kehutanan yang dibuat banyak yang mengarah kepada peningkatan pendapatan petani hutan melalui sektor kehutanan (untuk petani hutan yang menanam tanaman komoditas kehutanan di lahan milik sendiri, dikenal dengan istilah hutan rakyat/farm forest). Agar program Hutan Rakyat ini terlihat gaungnya, menjadi sangat penting para petani hutan diberikan pemahaman untuk menghitung sumber pendapatannya dari sektor kehutanan dengan antara lain diberikan kapan waktu masa panen kayu serta proses peremajaannya (penanaman kembali) termasuk nilai jualnya per meter kubik di pasaran (yang juga terungkap bahwa hal ini belum banyak diketahui oleh petani hutan). Dengan demikian, petani hutan akan semakin paham tentang daur tanaman kehutanan yang dimilikinya dan memasukkannya kedalam ‘perhitungan’ (siklus) sumber pendapatan rumah tangganya.

 Sebagai gambaran pada saat dilakukan wawancara terungkap bahwa harga kayu di pasaran lokal (yang diterima perusahaan kayu setempat) untuk jenis kayu karet adalah Rp. 300.000/m3, kayu rakyat (tanpa memperdulikan jenis kahyunya) sebesar Rp. 300.000 – Rp. 400.000/m3. Sementara diluar industri kayu tersebut, kayu sengon adalah Rp. 600.000/m3 dan kayu gmelina (jati putih) bisa mencapai harga Rp. 900.000/m3.

 Makassar, 14 Februari 2012

 BS

picture source : http://balitbangda.kutaikartanegarakab.go.id/wp-content/uploads/2011/01/Doyo-2.jpg

Tags, , , , ,