Komoditas kehutanan baru sebatas komoditas investasi

Category Archives:Wawancara

Komoditas kehutanan baru sebatas komoditas investasi

hutan

Itu yang terekam ketika saya melakukan kegiatan penelitian pendahuluan di suatu desa di provinsi Sulawesi Selatan.

“Ibu punya tanaman kayu di kebun ibu?” begitu tanya saya kepada responden yang merupakan anggota kelompok tani hutan – yang lebih dikenal dengan istilah kelompok tani penghijauan (karena asal muasal terbentuknya kelompok tani adalah adanya program penghijauan yang merupakan program lanjutan kegiatan dari pusat).

 ”Punya, misalnya sengon, bitti, gmelina dan sedikit jati”, jawabnya.

 Demikian seterusnya tanya jawab berlangsung seputar tanaman apa yang dimiliki di lahan miliknya sekaligus menanyakan seputar penghasilan rumah tangganya.

 Yang menarik adalah sewaktu responden tersebut menyebutkan mengenai sumber penghasilannya. Disebutkan antara lain bahwa penghasilannya berasal dari: ternak yang ia miliki (seperti misalnya ayam dan sapi), kemudian dari tanaman komoditas perkebunan dan pertanian yang ia miliki (seperti: coklat, vanili, sawah), tanpa menyebut tanaman kayu yang ia miliki seperti telah disebutkan di atas.

 Saya kemudian menanyakan mengapa tanaman-tanaman kayunya tidak dimasukkan sebagai salah satu sumber penghasilan rumah tangganya. Responden itu kemudian melanjutkan bahwa tanaman kayunya baru akan digunakan (baca: dijual) jika ada keperluan mendesak, seperti biaya sekolah anak maupun biaya menikahkan anak. Atau digunakan sebatas untuk memperbaiki rumah (kebanyakan rumah di daerah masih menggunakan rumah asli adat Bugis/Makassar, yaitu rumah panggung yang berbahan utama kayu.

 Program-program kehutanan yang dibuat banyak yang mengarah kepada peningkatan pendapatan petani hutan melalui sektor kehutanan (untuk petani hutan yang menanam tanaman komoditas kehutanan di lahan milik sendiri, dikenal dengan istilah hutan rakyat/farm forest). Agar program Hutan Rakyat ini terlihat gaungnya, menjadi sangat penting para petani hutan diberikan pemahaman untuk menghitung sumber pendapatannya dari sektor kehutanan dengan antara lain diberikan kapan waktu masa panen kayu serta proses peremajaannya (penanaman kembali) termasuk nilai jualnya per meter kubik di pasaran (yang juga terungkap bahwa hal ini belum banyak diketahui oleh petani hutan). Dengan demikian, petani hutan akan semakin paham tentang daur tanaman kehutanan yang dimilikinya dan memasukkannya kedalam ‘perhitungan’ (siklus) sumber pendapatan rumah tangganya.

 Sebagai gambaran pada saat dilakukan wawancara terungkap bahwa harga kayu di pasaran lokal (yang diterima perusahaan kayu setempat) untuk jenis kayu karet adalah Rp. 300.000/m3, kayu rakyat (tanpa memperdulikan jenis kahyunya) sebesar Rp. 300.000 – Rp. 400.000/m3. Sementara diluar industri kayu tersebut, kayu sengon adalah Rp. 600.000/m3 dan kayu gmelina (jati putih) bisa mencapai harga Rp. 900.000/m3.

 Makassar, 14 Februari 2012

 BS

picture source : http://balitbangda.kutaikartanegarakab.go.id/wp-content/uploads/2011/01/Doyo-2.jpg