Indahnya Menginspirasi, Indahnya Berbagi, Indahnya Wajah Anak-anak Itu

Category Archives:Social capital

Indahnya Menginspirasi, Indahnya Berbagi, Indahnya Wajah Anak-anak Itu

Indahnya alam Kabupaten Toraja Utara yang dinikmati oleh para relawan sepanjang perjalanan pergi dan pulang menuju dan dari lokasi pelaksanaan Kelas Inspirasi Toraja Utara sangat memukau.

Memukau keindahannya, memukau keunikannya. Menambah rasa syukur kita kehadirat Sang Maha Pencipta.

Terlebih, keindahan itu dinikmati saat kita akan memberikan keindahan pula kepada anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) melalui Kelas Inspirasi, tepatnya Kelas Inspirasi Toraja Utara yang baru dilaksanakan untuk kali pertama ini (KITorut1)  (liputan tentang pra pelaksanaan KITorut1 dapat dilihat di sini).

Pelaksanaan KITorut1 itu sendiri dilaksanakan pada hari Senin, 14 Maret 2016.  Ratusan relawan KITorut1 yang telah mengikuti briefing di Ruang Pola kantor Bupati Toraja Utara pada hari Sabtu, 12 Maret 2016 bersiap menginspirasi anak-anak usia SD di hari Senin pagi itu.

Mereka yang terbagi ke dalam 13 (tigabelas) kelompok yang tersebar di 13 sekolah dari 8 (delapan) kecamatan di Kabupaten Toraja Utara ini terlihat bersemangat berangkat menuju lokasi sehari sebelumnya, yaitu hari Minggu, 13 Maret 2016.

Ada yang berangkat dengan naik truk, rental mobil hingga berkendaraan motor. Tidak semua berjalan lancar, ada yang terjebak lumpur becek hingga perlu didorong, maklum malam hari sebelumnya, Toraja Utara diguyur hujan lebat.

Namun situasi demikian tidak menyurutkan semangat para relawan, termasuk mereka yang mendapat lokasi di kecamatan yang tidak terdapat aliran listrik.

Relawan-relawan yang jumlahnya ratusan dan datang dari berbagai latar belakang profesi maupun asal tempat tinggal tersebut disebar dengan SD tujuan seperti dalam daftar berikut ini (sumber: mbak Ambun Bara’ Allo):

1. SDN 3 Kec. Buntao’, fasilitator relawan: Risa,

2. SDN 5 Kec. Rantebua, fasilitator relawan: Kanor,

3. SDN 5 Kec. Rindingallo, fasilitator relawan: Sastika Latika,

4. SDN 1 Kec. Sopai, fasilitator relawan: Eka,

5. SDN 10 Kec. Sa’dan, fasilitator relawan: Rony Salinding & Ucu’,

6. SDN 5 Kec. Kapalapitu, Fasilitator relawan: Cahaya Yahya & Ni Nyoman Anna M,

7. SDN 2 Kec. Rindingallo, fasilitator relawan: Ambun Bara’ Allo,

8. SDN 3 Kec. Bangkelekila’, fasilitator relawan: Djasriel Cido Ido, Vicky Yusuf & Thomas Lembang,

9. SDN 6 Kec. Kapalapitu, fasilitator relawan: Hernita Rantepasang,

10. SDN 9 Kec. Sopai, fasilitator relawan: Ahmæd Rianto Tarawen,

11. SDN 7 Kec. Rantebua, fasilitator relawan: Carlos Pongtambing, Manaek Bara’ Allo & Inno Angga,

12. SDN 6 Kec. Sesean Suloara’, fasilitator relawan: Zulkifli Sukarta,

13. SDN 4 Kec. Rantebua, fasilitator relawan: Yabes & Aurina Kumizaiko.

Di lokasi pelaksanaan Kelas Inspirasi, mereka menginap di rumah penduduk ataupun di wisma, tergantung dari ketersediaan akomodasi di tempat tujuan.

Apapun itu, tidak ada guratan kekecewaan yang muncul dari para relawan, ‘they enjoyed ‘the party’ though‘, seperti seliweran foto-foto keriangan dan kegembiraan yang muncul di akun facebook dengan hastag #KITorut1.

Saya sendiri (profesi: peneliti Sosiologi Kehutanan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan – Balai Penelitian Kehutanan Makassar) tergabung ke dalam tim 3, yang dikomandani mbak Sastika Latika, bersama beberapa relawan lainnya yaitu: mbak Mery Sita (profesi: karyawan BRI Makale) , mbak Nur Hasanah (profesi: fotografer profesional), mas Epon Tambing (profesi: karyawan Pemda Kabupaten Toraja Utara), mas Weldyanto Rusli Tandingan (profesi: karyawan Samsat kota Makale).

Kegiatan ini didukung oleh penyiapan dokumentasi kegiatan yang dilakukan secara ciamik oleh mas Rama Meoly, mas Michael Sancai dan kawan-kawan.

Awalnya masih zero sekali ‘ilmu’ tentang menginspirasi ini. Tidak tahu bagaimana polanya, bagaimana mekanismenya, bagaimana menginspirasi mereka, anak-anak, agar tidak salah dalam menginspirasi.

Boleh kan punya kekhawatiran demikian ya. Tapi untunglah briefing yang diberikan dua hari sebelum pelaksanaan cukup membuat ‘terang’ tentang dimana, apa dan bagaimana proses kegiatan KITorut1 ini. Walau tetap saja ‘nervous’ saat akan menghadapi our little kidos di kelas. Dimana nervous ini lebih kepada bagaimana ‘menghidupkan’ suasana agar menjadi fun buat mereka dan mereka enjoy serta happy saat mendengarkan apa yang kita akan sampaikan, that’s will be a big challenge, bukan hanya terhadap saya, tetapi beberapa peserta lainpun (terutama yang baru mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi ini) mengkhawatirkan hal yang sama.

Video si Otan di Youtube: https://youtu.be/kpve_tgeuhY

Yang pasti, di kegiatan KITorut1 ini saya ditemani oleh si Otan, boneka tangan (hand puppet) Orang Utan, yang belakangan ini kerap menjadi teman baik saat saya melakukan kegiatan mendongeng.

Si Otan akan menjadi teman bagi anak-anak tersebut dalam mendengarkan apa profesi yang saya jalani sekarang ini.

Kenervous-an kami pun berkurang banyak dengan baiknya pelaksanaan kegiatan KITorut1 ini yang ditunjukkan dengan baik dan tertibnya panitia-panitia KITorut1 dalam membantu serta memfasilitasi para relawan pengajar untuk melakukan kegiatan kerelawanannya. Para relawan menjadi sangat terbantukan sekali. Mereka humble dan warm dalam membantu/memfasilitasi para relawan pengajar/fotografer dan videografer ini.

Namanya juga relawan, segalanya diambil dari kocek sendiri, jadi tidak ada kata rugi di sini. Makan bayar sendiri, transport bayar sendiri, akomodasi bayar sendiri, tapi kami enjoy-enjoy saja tuh. Padahal tidak sedikit yang merogoh koceknya untuk digunakan untuk transport dari tempat yang jauh.

Sebut saja misalnya relawan dari Papua, Jakarta, wilayah Sumatera dan lain sebagainya. Termasuk panitia lokal yang telah melaksanakan survei lokasi, persiapan dan lain sebagainya sejak jauh-jauh hari agar pelaksanaan KITorut1 ini dapat berlangsung sukses dan lancar.

Tapi ‘panggilan menginspirasi’ itu memang mengalahkan segalanya.

Saya yakin mereka dan kita, ikhlas dan bahagia melaksanakannya.

Bukan begitu?

Karena memang tidak semua dapat berpikiran dan berpandangan seperti itu. Contohnya saat saya bercerita kepada seorang rekan sekerja tentang apa dan bagaimana itu Kelas Inspirasi, serta betapa enjoy dan happynya saya bisa berpartisipasi dalam kegiatan KITorut1 ini.

Pertanyaan pertama yang keluar dari bibirnya adalah,”Siapa yang bayar? Siapa sponsornya?” Ketika saya jawab bahwa sebagai relawan kami tidak dibayar bahkan kami merogoh kocek kami untuk itu, secara otomatis, iapun berkomentar,”Wah …. rugi dong kalau begitu … !” Saya hanya merespon,”Yah … tergantung dari sisi mana sih kita melihatnya pak.

Kalau buat saya, saya malah merasa beruntung, bukan rugi. Insya Allah bisa dicatat menjadi salah satu amal saya nantinya.” Mungkin dia makin bingung ya mendengar jawaban saya hehehe tapi … EGP deh hehe.

To be honest, pengalaman mengikuti Kelas Inspirasi Toraja Utara kemarin ini, yang merupakan pengalaman pertama saya mengikuti Kelas Inspirasi, buat saya, tidak merugikan, bahkan menguntungkan.

Menguntungkan karena saya hanya mendapatkan dan hanya mendapatkan yang indah-indah saja.

Indah saat bertemu teman-teman sesama relawan yang baru, yang tidak saya kenal sebelumnya, tetapi kemudian menjadi kenal bahkan terjalin networking yang baik setelahnya. Berarti kita telah menjalankan yang diperintahkan agama, yaitu menjalin tali silaturahmi.

Indah saat berbagi menginspirasi anak-anak kita di SD nun jauh di sana. Mengikuti upacara bendera bersama mereka, melihat bagaimana mereka, sebagian, berpakaian sederhana (ada yang pakai sepatu, ada yang pakai sendal, bahkan ada yang tidak mengenakan alas kaki sama sekali) namun tetap memperlihatkan semangatnya, antusiasmenya mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi ini.

Indah saat melihat bagaimana mereka menjadi begitu akrab dengan kita – para pengajar – yang tidak pernah dikenal sebelumnya, bahkan bertemupun belum pernah. Bercanda bersama, bernyanyi bersama, tertawa bersama. Bahkan di akhir acara, believe it or not, mereka minta tanda tangan kita semua lho…. Ada yang meminta di buku tulisnya ada yang hanya di secarik kertas … wow … so amazing. Sepertinya mereka mengatakan,”melalui tanda tangan ini kami akan mengingatmu.” Ah … don’t worry kids, kami pun akan mengenang moment Kelas Inspirasi ini, forever.

Indah saat melihat mereka sebelum penutupan Kelas Inspirasi, menuliskan cita-cita mereka di selembar kertas kecil berwarna-warni kemudian menggantungkan di ‘pohon cita-cita’ sebagai perlambang bahwa mereka memiliki cita-cita dan memiliki keinginan untuk mewujudkannya. Selamat ya anak-anak.

Keindahan lain adalah saat kami dapat dengan leluasa menikmati keindahan alam Toraja Utara yang indah, seperti telah saya sampaikan di awal tulisan ini. Termasuk kami dapat mengunjungi Pahlawan dari Toraja: Pongtiku.

Apalagi kemudian panitia menempatkan acara evaluasi sekaligus penutupan Kelas Inspirasi Toraja Utara 1 ini di kompleks Tongkonan – rumah-rumah adat Toraja di daerah Sa’dan to’ Barana’ yang indah itu.

Bila demikian yang terjadi, bisakah kita melihat dimana kerugiannya? Kalau saya sih tidak.

Saya bahkan semakin dapat merasakan betapa indahnya berbagi, betapa indahnya dapat menginspirasi, apalagi melihat wajah-wajah mereka, anak-anak itu, semakin indah rasanya.

Semoga bermanfaat,

Makassar, 17 Maret 2016

@kangbugi
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/bugisumirat/indahnya-menginspirasi-indahnya-berbagi-indahnya-wajah-anak-anak-itu_56ea6d9fba9373dc2f536d23

Category Archives:Social capital

Pemuda Indonesia Harus Berpikiran Jauh ke Depan

Saat briefing persiapan Kelas Inspirasi Toraja Utara yang dilaksanakan hari Sabtu, 12 Maret 2016, Bupati Toraja Utara, Frederik Bati’ Sorring, dalam sambutan yang disampaikan dihadapan relawan pengajar, videografer dan fotografer Kelas Inspirasi Toraja Utara di Ruang Pola Kantor Bupati Toraja Utara menekankan bahwa Kelas Inspirasi  telah mengambil langkah yang jauh ke depan.

Berpikiran jauh melebihi jangkauan pemikiran 20 tahun ke depan. “Apa yang dilakukan Kelas Inspirasi adalah hal yang teramat sangat penting untuk memotivasi munculnya inspirasi-inspirasi pada generasi muda kita, generasi muda Indonesia.” Demikian tambah Frederik.

Hari itu, ratusan relawan pengajar, videografer dan fotografer dari berbagai penjuru tanah air yang terpanggil untuk mengisi kegiatan Kelas Inspirasi Toraja Utara hadir di Ruang Pola Kantor Bupati Toraja Utara untuk memantapkan langkah mereka mempersiapkan diri memberikan inspirasi bagi murid-murid SD di beberapa kecamatan di Toraja Utara.

Di Ruang Pola tersebut, para relawan di beri informasi awal tentang apa itu Kelas Inspirasi, bagaimana menerapkannya saat para relawan itu nantinya terjun langsung di lapangan, apa yang harus dan jangan dilakukan, hingga apa manfaat Kelas Inspirasi bagi para relawan dan terutama bagi para murid-murid SD yang menjadi kegiatan Kelas Inspirasi ini berlangsung.

Relawan-relawan Kelas Inspirasi Toraja Utara Di acara perkenalan para relawan saat briefing tersebut diketahui ternyata sangat beragam latar belakang profesi yang digeluti para relawan. Misalnya: Peneliti, Wira Usaha, Pendeta, Dokter, anggota TNI AL, Pengusaha Perminyakan, Fotografer, Videografer dan lain sebagainya.

Di Toraja Utara, Kelas Inspirasi baru pertama kali ini diadakan yaitu pada tanggal 14 Maret nanti di beberapa kecamatan di Toraja Utara. Carlos, selaku Koordinator Kelas Inspirasi Toraja Utara, saat memberikan sambutan mengatakan bahwa diharapkan para relawan dapat menghayati prinsip dasar Kelas Inspirasi, yaitu “Sekali berbagi, seumur hidup menginspirasi.”

Sebenarnya apa itu Kelas Inspirasi? Kelas Inspirasi merupakan bagian dari gerakan Indonesia Mengajar yang digagas oleh Anies Baswedan.

Tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas pendidikan bangsa.

Kelas Inspirasi, seperti disebutkan dalam modul dikatakan bahwa melalui Kelas Inspirasi: ‘Indonesia Mengajar ingin mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia.

Kelas Inspirasi adalah kegiatan yang memberi pengalaman mengunjungi dan mengajar sehari pada beberapa Sekolah Dasar (SD), dengan muatan informasi dan inspirasi tentang berbagai profesi.

Harapannya, para siswa akan memiliki lebih banyak pilihan cita-cita serta menjadi lebih termotivasi untuk memiliki mimpi yang besar.

Kontak dengan beberapa SD diharapkan dapat berkembang nantinya menjadi lebih banyak gagasan dan kegiatan yang melibatkan kontribusi kaum profesional.’

Mulia kan ya? Insya Allah.

Walau pelaksanaan Kelas Inspirasi hanya dilakukan selama satu hari, ya … sehari saja, tetapi diharapkan akan dapat berkontribusi terhadap inspirasi untuk seumur hidupnya, baik untuk para relawan, maupun para siswa SD yang menjadi tujuan kegiatan Kelas Inspirasi ini.

Sebagai informasi, karena namanya juga relawan, jadi betul-betul kegiatan yang memerlukan kerelaan ‘tingkat tinggi’ mereka (kami) tidak ada yang dibayar lho ….. hanya berkontribusi semaksimal mungkin.

Saya sendiri yang akan berpartisipasi dalam kegiatan Kelas Inspirasi Toraja Utara (masuk kedalam Tim 3 – SD 5 Rindingallo, Kecamatan Rindingallo, Toraja Utara, dengan koordinator tim: Sastika), sudah tidak sabar ingin bertemu mereka, para siswa SD tersebut, dengan harapan bahwa kontribusi saya dapat bermanfaat untuk kedua belah pihak, saya dan mereka, para siswa SD tersebut.

Walau profesi utama saya adalah seorang peneliti di bidang sosiologi kehutanan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tetapi nanti, saat Kelas Inspirasi, saya akan membagikan pengalaman saya dengan profesi lain, yaitu seorang Pendongeng Lingkungan (topik tetap tidak jauh dengan bidang pekerjaan saya: Kehutanan dan Lingkungan Hidup) dengan bantuan our new family member: si Otan.

Moga manfaat.

Toraja Utara, 13 Maret 2016

@kangbugi PS:

Terima kasih untuk para panitia relawan Kelas Inspirasi Toraja Utara yang sudah sangat-sangat ‘berkeringat’ mempersiapkan kegiatan ini. Pengalaman bagaimana praktik Kelas Inspirasi akan disampaikan setelah kegiatan itu berlangsung yaaaa ;)

Foto-foto dalam postingan ini milik: Bugi Sumirat dan Sastika

Telah diposting secara lengkap di: http://www.kompasiana.com/bugisumirat/pemuda-indonesia-harus-berpikiran-jauh-ke-depan_56e4aee8c5afbd7c088b456b

Category Archives:Social capital

Hutan rakyat dirawat, kualitas kayu lebih baik, petani sejahtera, pembelajaran dari pelatihan MTG di Bulukumba, Sulawesi Selatan

Salah satu alasan dilaksanakannya kegiatan pelatihan MTG (Master TreeGrower) oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Balai Penelitian Kehutanan Makassar (BPKM) pada bulan Mei 2015, seperti dikatakan oleh Kadishutbun Kab. Bulukumba, Ir. Misbawati A. Wawo, MM., bahwa sebagai satu-satunya kabupaten di Indonesia yang menerima, melaksanakan dan menyebarluaskan pelatihan untuk peningkatan kapasitas petani hutan rakyat dengan metode MTG ini, Bulukumba menunjukkan komitmennya untuk meningkatkan taraf hidup petani-petani hutan rakyatnya dari lahan-lahan hutan rakyat yang mereka miliki – dengan memperkenalkan paradigma baru kepada petani hutan rakyat.

Ditahun-tahun ke depan, pelatihan MTG ini akan diupayakan dilaksanakan secara berkelanjutan dan tepat sasaran. Untuk itu Dishutbun Kab. Bulukumba akan terus bekerja sama dengan peneliti-peneliti sosial ekonomi BPKM untuk men-training petani-petani hutan rakyat Bulukumba.

Namun dalam kesempatan penutupan kegiatan pelatihan MTG yang bertempat di areal pengembangan perlebahan di Dusun Takkue, Desa Seppang, Kabupaten Bulukumba, Kadishutbun Bulukumba kembali menyatakan kekhawatirannya jika ilmu-ilmu yang didapat dalam pelatihan ini tidak diaplikasikan oleh petani, petani akan kehilangan kesempatan untuk merawat areal hutan rakyatnya untuk menghasilkan kualitas yang lebih baik lagi. “Tujuan mereka diikutkan dalam pelatihan MTG ini agar mereka dapat meningkat pendapatannya dari kualitas kayu yang lebih baik yang dimilikinya yang tentunya akan membuat harga jual kayunya lebih tinggi, sebagai akibat dari keikutsertaan mereka dalam pelatihan ini.

“Sangat disayangkan jika mereka tidak menyerap ilmu ini dengan baik dan tidak mengaplikasikannya.” Demikian tambah Kadishut Kab. Bulukumba.

Pernyataan Kadishut tersebut beralasan. Terlihat dari masih banyak peserta di hari terakhir kegiatan MTG yang masih ‘gugup’ tentang bagaimana mempraktekan sebagian ilmu MTG ini – terutama dalam hal pengukuran seperti mengukur volume kayu, basal area pohon dan tegakan serta penerapannya untuk menentukan penjarangan pohon.

Namun dengan upaya keras pemateri-pemateri yang juga adalah peneliti-peneliti sosial ekonomi dari BPKM, kekhawatiran dan kegugupan para peserta MTG dapat diminimalisir. Minimal para peserta menguasai dasar-dasar yang perlu diketahui dan dikuasai sebagai seorang petani hutan rakyat yang MTG.

Kepala Dishutbun Kabupaten Bulukumba, yang juga adalah seorang yang ‘concern’ dengan pengembangan lebah madu di Kabupaten Bulukumba ini kemudian berkomitmen akan melakukan penyegaran bagi mereka, (hanya) alumni-alumni MTG yang serius menerapkan MTG di lahan atau kebunnya masing-masing pasca pelatihan.

“Bukan apa-apa, mereka nanti perlu penyegaran karena kan pada akhirnya mereka-mereka juga yang untung, para petani hutan rakyat, bukan kami. Kami, pihak Dishutbun, hanya berusaha memfasilitasi mereka agar meningkat kapasitasnya, menghasilkan kayu yang berkualitas baik dan kelak memiliki harga jual yang tinggi, seperti nyanyian Mars Petani Hutan Rakyat yang sering dinyanyikan selama pelatihan MTG.” Demikian tambah Misbawati, yang juga memiliki lahan hutan rakyat yang sering dipergunakan untuk kegiatan pelatihan serta penelitian, dalam sambutan penutupan pelatihanMTG tersebut.

Mars Petani Hutan Rakyat?

Selama pelatihan, para peserta yang adalah petani hutan rakyat ini diperkenalkan kepada lagu yang berjudul Mars Petani Hutan Rakyat, dengan tagline: ‘Pelihara Pohonmu’. Lagu yang mengadopsi lagu Dimana Anak Kambing Saya ini telah digubah lirik atau syairnya oleh Bugi Sumirat dan Achmad Rizal. Lirik tersebut untuk memotivasi para peserta pelatihan MTG agar dapat mengingat bahwa melalui MTG, mereka diperkenalkan pada paradigma baru bahwa tanaman kehutananpun perlu dirawat (paradigma lama, tanaman kehutanan setelah ditanam tidak memerlukan perawatan sebagaimana tanaman/komoditas pertanian/perkebunan) serta mengapa mereka perlu merawat pohon-pohonnya, merawat hutan rakyatnya.

Syair lengkap lagu Mars Petani Hutan Rakyat tersebut adalah sebagai berikut:

MARS PETANI HUTAN RAKYAT

Pelihara Pohonmu

Diadopsi dari lagu: Dimana anak kambing saya

Syair/lirik: Bugi Sumirat dan Achmad Rizal

Mana dimana meter kayu saya, Meter kayu saya ada dalam kantongku,

Mana dimana gaus kayu saya, Gaus kayu saya juga dalam kantongku.

Kemana kita bawa? Kemana kita bawa? Pasti dibawa ‘tuk pelihara pohon kita.

Knapa-kenapa harus plihara pohon. Harus plihara pohon supaya harga tinggi.

Knapa-kenapa harus plihara pohon. Harus plihara pohon supaya harga tinggi.

Kalau harganya tinggi! Kalau harganya tinggi! Pasti yang untung PETANI  HUTAN  RAKYAT!

Kalau harganya tinggi! Kalau harganya tinggi! Pasti yang untung PETANI  HUTAN  RAKYAT!

Lagu diatas, pelatihan MTG ini, dengan kerjasama yang erat antara Balai Penelitian Kehutanan Makassar dengan Dishutbun Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan merupakan bekal-bekal bagi petani hutan rakyat untuk bertransform menjadi petani hutan rakyat yang MTG, yang mau merubah paradigma lama menjadi paradigma baru: Hutan rakyat perlu dirawat untuk menghasilkan kayu yang berkualitas lebih baik. Kualitas kayu lebih baik, harga jualpun meningkat. Harga jual meningkat, petani hutan rakyatlah yang akan menikmatinya.

Benar demikian, bukan?

Semoga bermanfaat

Mei 2015

@Kangbugi [catatan: foto-foto: koleksi pribadi & Abdul Kadir W]

Telah diposting secara lengkap di : http://www.kompasiana.com/bugisumirat/hutan-rakyat-dirawat-kualitas-kayu-lebih-baik-petani-sejahtera-pembelajaran-dari-pelatihan-mtg-di-bulukumba-sulawesi-selatan_555fe07c719773f9108b4576

Category Archives:Social capital

Peneliti Litbang Kehutananpun belajar dari Jokowi

Dalam kunjungan kerjanya di kantor Balai Penelitian Kehutanan Makassar (BPKM) beberapa waktu lalu (13/10/2014), Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Prof. San Afri Awang, menekankan beberapa hal penting yang  perlu menjadi perhatian peneliti khususnya lingkup BPKM.

Yang pertama adalah,”Peneliti itu harus banyak melakukan kegiatan membaca – meneliti atau membuat gagasan – serta menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan.”

Selanjutnya Kepala Badan juga menekankan,”Peneliti itu harus bisa Bahasa Inggris, harus bisa ngomong Inggris.”

Lantas apa hubungannya dengan Presiden Jokowi?

Pada hari kamis beberapa waktu lalu, dalam kegiatan TiMTEng (Thirty Minutes Talking in English) di ruang Kelompok Peneliti Sosial Ekonomi Kehutanan (Kelti Sosek) BPKM, peserta TiMTEng mencoba menelaah pidato Presiden Joko Widodo – yang diunggah dari youtube.

Kegiatan ini sebagai implementasi dari tugas peneliti seperti disampaikan Kepala Badan di atas.

Yang dilakukan adalah menelaah dengan cara memperhatikan dan membahas pidato Presiden Jokowi tersebut. Presiden menyampaikan pidatonya dalam bentuk presentasi itu dihadapan sekitar 1500 Chief Executive Officers (CEO). CEO-CEO tersebut merupakan peserta pertemuan puncak Asia -Pacific Economic Cooperation (APEC) CEO Summit yang diselenggarakan di Beijing, China pada tanggal 13/10/2014 lalu.

Hasil penting dari telaahan peserta TiMTEng antara lain seperti diungkapkan salah seorang peserta, yaitu Ramdana Sari atau Wiwik, peneliti dari Kelti Silvikultur yang menyatakan,”Pidato pak Jokowi sama dengan prinsip-prinsip mengkomunikasikan ilmu pengetahuan (sain), yaitu ABC.” Wiwik menyandarkan pendapatnya itu kepada pendapat dalam buku yang ditulis Malmfors, et al. (2005) yang berjudul Writing and Presenting Scientific Papers.

Dalam bukunya itu, Malmfors menyatakan bahwa dalam mengkomunikasikan sain, perlu memperhatikan tiga hal utama, yaitu ABC. A untuk (accurate) akurat dan Audience-adapted: menyesuaikan dengan audiens yang dihadapinya/targetnya; B (Brief) untuk singkat – hindari penggunaan kata-kata yang tidak perlu, serta C (Clear) yaitu jelas.

Dalam presentasinya, walau bukan presentasi ilmiah, Presiden Jokowi telah mempraktekan prinsip ABC tersebut, dalam rangka ‘mendiseminasikan’ Indonesia kepada pihak luar, audiensnya (para CEO APEC). Serupa dengan apa yang ada dalam dunia penelitian, hasil-hasil penelitian pun perlu didiseminasikan.

Diseminasi hasil penelitian telah diakui pula oleh Kepala BPKM, Ir. Misto, MP, sebagai hal yang penting, terutama dalam menaikkan peran institusi riset, seperti BPKM (07/11/2014).

Hasil telaahan lain dari peserta TiMTEng terhadap pidato Presiden Jokowi yang berguna sebagai media pembelajaran, terutama bagi para peneliti dalam melakukan kegiatan mendiseminasikan hasil-hasil penelitiannya, adalah: -          Bahasa Inggris yang digunakan adalah simple English. Bahasa Inggris yang sederhana, mudah dimengerti tapi tepat sasaran (straight to the point), bukan Bahasa Inggris yang berbunga-bunga ataupun yang sulit.

Kembali kepada nasihat Kepala Badan – “agar peneliti harus bisa ngomong Inggris“, untuk peneliti yang dituntut melakukan presentasi dalam Bahasa Inggris, presentasi Presiden Jokowi dapat dijadikan contoh.

Presentasi yang dimuat dalam bentuk power point ini mengambil format mengikuti prinsip-prinsip komunikasi populer, yaitu penting, menarik dan relevan – serta sangat memperhatikan unsur latar belakang audiens.

Secara lebih luas, hal-hal terkait komunikasi populer telah dibahas baru-baru ini dalam pelatihan menulis populer yang diselenggarakan oleh FORDA bekerjasama dengan CIFOR (29/10/2014) (info lengkap dapat dilihat pada link berikut: http://balithutmakassar.org/forda-dan-cifor-bekerjasama-gelar-pelatihan-penulisan-artikel-populer/).

Hal lain, Presiden Joko Widodo sangat memperhatikan efisiensi waktu presentasi. Presentasi yang sangat ABC tersebut, hanya membutuhkankan waktu sekitar tiga belas menit saja, tidak lebih.

Sementara kita seringkali menjumpai pemateri-pemateri yang tidak menggunakan waktu presentasinya secara efisien. Moderator telah mengingatkan waktu presentasi telah berakhir, namun masih banyak hal-hal prinsip yang belum disampaikan oleh si pemateri.

Terlepas dari isi atau konten presentasinya, cara Presiden Jokowi menyampaikan presentasinya di hadapan para CEO APEC, dapat memberikan pelajaran positif terutama bagi para peneliti.

Semoga bermanfaat

@kangbugi

Sudah diposting pula secara lengkap di: http://www.kompasiana.com/bugisumirat/peneliti-litbang-kehutananpun-belajar-dari-jokowi_54f3ba56745513932b6c7ebc

Category Archives:Social capital

Leadership Required: Ensuring Local Communities Benefit from Climate Finance

Source: Blog RECOFTC

A vicious cycle exists in the financing of climate change activities. So said Myrna Cunningham, president of the UN Permanent Forum on Indigenous Issues, during the opening session of the 2012 Climate Investment Fund Partnership Forum in Istanbul, Turkey (November 6-7, 2012). Financiers of climate compatible development activities, particularly the private sector, require deliverables to be met and view the limited capacity typical of rural communities as reasons to circumvent them and engage with ‘higher capacity’ actors. The opening session of the Forum underscored the need for climate financing investments, by banks and by the private sector, to be profitable.

to continue reading, please visit: http://recoftc.wordpress.com/2012/11/09/leadership-required-ensuring-local-communities-benefit-from-climate-finance/

Category Archives:Social capital

Social approach for forestry development in Indonesia is a requirement to increase community welfare

The title above is adequately long. It intended to emphasise the main concern need to be put in Forestry sector, i.e.; community welfare, Forestry development and sociology approach.

In the Research Expose Seminar that was held by FORDA Makassar (Balai Penelitian Kehutanan Makassar) at Swiss-Bel Inn, Makassar – 28 June 2012, under the seminar theme: the Role of Science and Technology for Forestry Development and Community Welfare in Wallace region, I delivered paper presentation entitled: Increasing Social Capital of Farmer Forest Groups sustainably. Read More