Green Hospital Blogging competition: what a sad saga

Category Archives:Opinion

Green Hospital Blogging competition: what a sad saga

Green Hospital Blogging Competition nampaknya harus berakhir dengan menyedihkan (what a sad saga). Hal ini akibat dari minimnya rasa tanggung jawab (malah kalau boleh dibilang tidak ada) pihak RSUD Daya Kota Makassar didalam menyelesaikan hak dan kewajiban para peserta lomba Green Hospital. Apalagi terhadap para pemenang yang sudah jelas apa saja hadiah yang harus diterimanya, dan hadiah-hadiah tersebut sudah ada peruntukkannya dan sudah diadakan, tinggal diserahkan oleh pihak RSUD Daya Kota Makassar.

Ini bermula dari terjadinya pergantian pimpinan di RSUD Daya Kota Makassar. Program Green Hospital direncanakan dan dicanangkan pada saat pimpinan RSUD Daya Kota Makassar masih dipimpin oleh dr. St Saenab, M.Kes. Beliaulah penggagas dan penyemangat kegiatan Green Hospital di rumah sakit tersebut. Penggantian beliau terjadi pada saat kegiatan Green Hospital sedang berjalan dan mendekati tahap akhir penerimaan tulisan dari para peserta lomba. Pengganti beliau, rupanya tidak paham dan tidak mengerti tentang kegiatan Green Hospital, terlebih lagi, bahwa penggantinya ini tidak paham (atau tidak mau paham?) bahwa kegiatan ini terkait dengan masyarakat luas. Tidak bisa dihentikan begitu saja, apalagi dengan alasan yang mengada-ada dan tidak jelas. Kegiatan ini memang diselenggarakan oleh institusi lokal (RSUD Daya Kota Makassar) tetapi berskala nasional. Terbukti dari tulisan-tulisan yang masuk dari pelbagai daerah, bukan hanya Makassar.

Terkait dengan masyarakat, tentu kita harus dahulukan kepentingan masyarakat. Menghentikan lomba sebelum waktunya, menunda-nunda penyerahan hadiah hingga waktu yang tidak jelas, merupakan pengabaian terhadap penuntasan kewajiban terhadap masyarakat. Sehingga, seperti yang sudah saya sarankan, seharusnya pihak Rumah Sakit Daya bisa menunjukkan apresiasinyaterhadap masyarakat yang telah bersusah payah berpartisipasi didalam kegiatan Green Hospital ini.

Linihijau adalah pihak yang dimintakan bantuan oleh RSUD Daya Kota Makassar untuk membantu mengelola kegiatan Green Hospital Blogging Competition. Kami merasa aneh pula dengan sikap RSUD Daya ini yang sepertinya tidak bermasalah dengan akibat dari pengabaian-pengabaian yang telah dilakukannya, tidak bermasalah dengan potensi tercorengnya nama RSUD Daya akibat ‘ulah’nya sendiri.

Kami sudah banyak memberikan masukan terhadap pihak RS Daya, namun, nampaknya apa yang kami lakukan adalah bak meludah ke langit. Kami pun diabaikan.

Melihat pengabaian tersebut, kami – dengan surat bertanggal 5 September 2013 – telah menarik diri dari membantu & mendukung kegiatan ini. Kami serahkan kembali semua tanggung jawab (yang sudah memang sepantasnya) yang tadinya dibebankan kepada pihak Linihijau, kembali kepada pihakl RS Daya. Kami sangat prihatin melihat kondisi seperti ini, tetapi RSUD Daya Kota Makassar sepertinya tetap bergeming dengan sikapnya dan memilih ‘berhadapan’ dengan masyarakat.

Dibagian bawah dari postingan ini, kami sertakan isi surat terakhir yang kami kirimkan kepada pihak RS Daya, tentang progres kegiatan Green Hospital Blogging Competition selama ini. Kami masih berharap agar pihak RS Daya dapat mempertimbangkan untuk dapat mengambil keputusan  bijak terkait permasalahan ini, minimal dengan memenuhi hak-hak para pemenang lomba dengan menyerahkan hadiah-hadiah yang sudah menjadi hak para pemenang.

Kepada para peserta lomba dan pemenang, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya karena kami tidak dapat ‘mengawal’ kegiatan ini dengan baik hingga batas waktu sesuai dengan tata waktu yang telah direncanakan dan mohon maaf pula karena kami tidak berhasil meyakinkan pihak RSUD Daya Kota Makassar agar mau memenuhi kewajibannya yang sudah sangat jelas merupakan tanggung jawab pihak RSUD Daya Kota Makassar.

Demikian yang dapat kami sampaikan.

Terima kasih

@kangbugi

Lampiran: Surat terakhir yang kami kirimkan untuk Direktur RS Daya.

Makassar, 20 September 2013

Nomor     : 10/IX/I/LH/2013

Lampiran : 1 berkas

Perihal     : Laporan Lengkap

Kepada Yth.,

Ibu Direktur RSUD Daya

Di

Tempat

Dengan hormat,

Bersama ini kami menyampaikan laporan terkait dengan kegiatan Lomba Green Hospital. Adapun  laporan ini merupakan rangkaian dari laporan-laporan sebelumnya yang sudah kami kirimkan kepada RSUD Daya kota Makassar yaitu pada tanggal sebagai berikut:

  1. Laporan pelaksanaan kegiatan pertama telah dikirimkan pada tanggal 13 Juni 2013 (seperti terlampir).
  2. Laporan pelaksanaan kegiatan kedua telah dikirimkan pada tanggal 2 Agustus 2013 (seperti terlampir).
  3. Laporan pelaksanaan kegiatan ketiga telah dikirimkan pada tanggal 5 September 2013 (seperti terlampir).

Dari laporan-laporan yang kami kirimkan tersebut, tidak ada satupun yang mendapat tanggapan dari pihak RSUD Daya Kota Makassar, sehingga kami, selaku pihak yang diminta bantuan untuk menyelenggarakan lomba Green Hospital ini menjadi bingung, sebetulnya kegiatan ini milik dan tanggung jawab siapa. Seolah-olah, kami lebih bertanggung jawab dari yang berkepentingan itu sendiri (RSUD Daya).

Namun demikian ada beberapa hal yang patut diperhatikan dan akan saya utarakan disini, yaitu:

  • Bahwa di awal kegiatan lomba Green Hospital, dengan disosialisasikan kegiatan lomba Green Hospital ini, melalui website RSUD Daya (rsudaya.org – dengan taglinenya: ‘towards the green hospital in Indonesia‘ – menuju Green Hospital di Indonesia)  dan website-website lain seperti: Kompasiana, Blogdetik, Linihijau, blog-blog pribadi dan ditambah dengan jalur facebook dan twitter, kegiatan ini telah berhasil melakukan sosialisasi tentang Green Hospital terhadap kurang lebih 3700an orang/pembaca (data sampai dengan tanggal 3 Juli 2013), dan jumlah ini terus bertambah dari waktu ke waktu (bukti terlampir). Walau dukungan dari RSUD Daya itu sendiri tidak signifikan dengan gencarnya proses sosialisasi Green Hospital seperti yang telah direncanakan, seperti misalnya: Tidak dipasangnya spanduk yang sudah dibuat sebagai bentuk sosialisasi bagi masyarakat di sekitar RSUD Daya; tidak disebarluaskannya poster-poster tentang lomba Green Hospital ini yang telah dicetak; tidak dikirimkannya pemberitahuan tentang pelaksanaan kegiatan ini melalui email ke media massa maupun institusi-institusi terkait seperti yang sudah disampaikan; tidak dilakukan update informasi terhadap kegiatan Green Hospital yang telah dilakukan oleh RSUD Daya selama ini melalui website yang telah disediakan (seperti dikeluhkan oleh banyak peserta lomba – sangat minimnya informasi yang bisa diperoleh dari website RSUD Daya – terkait kegiatan Green Hospital yang telah dilakukannya).
  •  Namun demikian, walau dengan keterbatasan kondisi seperti telah disebutkan di atas, dalam lomba ini telah berhasil menjaring sebanyak 73 buah tulisan tentang Green Hospital (keseluruhan tulisan yang masuk berjumlah diatas seratus tulisan, tetapi setelah diseleksi dengan kesesuaian peraturan lomba, maka dapat terjaring sebanyak 73 buah tulisan. Dari 73 tulisan ini dipilih 3 pemenang – juara 1 s/d 3 serta 17 tulisan pendukung lainnya untuk dapat disusun menjadi sebuah buku tentang Green Hospital). Rata-rata tulisan yang masuk (baik dimuat dalam tulisan-tulisan tersebut, maupun melalui media lain berisi pula apresiasi mereka, penghargaan mereka terhadap upaya yang telah dilakukan oleh RSUD Daya didalam mensosialisasikan Green Hospital. Dan mereka mengapresiasi pula bahwa RSUD Daya-lah sebagai rumah sakit pertama di Indonesia yang peduli akan pentingnya memperhatikan lingkungan di lingkungan rumah sakit (Green Hospital).
  • Tanggapan-tanggapan yang muncul sangatlah positif terkait dengan kegiatan Green Hospital ini, hanya saja, nampaknya kegiatan ini harus berakhir anti klimaks. Sejak saya mendapat pemberitahuan tentang keinginan RSUD Daya (melalui drg. Nona) untuk memundurkan proses lomba ini hingga waktu yang tidak ditentukan (dikatakan oleh drg. Nona  s/d sekitar bulan Oktober) serta dengan alasan yang tidak dimengerti. Terkait dengan rencana ini saya sudah mengajukan beberapa pertimbangan melalui laporan saya tertanggal 2 Agustus 2013, tentang kemungkinan akibat buruk yang mungkin timbul bagi RSUD Daya jika perlombaan diperpanjang tanpa batas waktu yang jelas, karena proses sudah terpampang dengan jelas dimana jadwal tersebut telah disetujui oleh pihak RSUD Daya. Mengingat laporan yang saya sampaikan tidak ditanggapi, saya berusaha ‘memperlama’ sedikit prosesnya. Dan betul saja, penundaan yang belum seberapa itu mendapat respon yang kurang baik, terutama dari peserta lomba. Mereka semua sudah merasa antusias untuk mengetahui siapa pemenangnya dan hingga menjadi buku. Mulailah dampak buruk itu bermunculan. Kata-kata yang kurang pantas didengar bermunculan melalui twitter, website maupun blog, yang pada umumnya menyatakan kebingungan, kekecewaan, dan perasaan dilecehkan oleh RSUD Daya terhadap profesi penulis, bahkan ada yang berniat melakukan somasi. Beberapa pertanyaan (yang nadanya tidak terlalu kasar) yang bisa dikutip seperti tertera dalam lampiran. Inilah anti klimaks yang terjadi, diawal lomba/sosialisasi, nama RSUD Daya mengemuka dengan apresiasi terhadap kegiatan Green Hospitalnya, namun di penghujung lomba, nama RSUD Daya tercoreng dengan sikapnya sendiri.
  • Melihat desakan yang muncul, yang semakin deras, para juri merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut, terutama tidak mau dianggap melecehkan profesi penulis dengan mengulur-ulur jadwal pengumuman tanpa alasan yang jelas, akhirnya para juri menyerahkan wewenang tersebut kembali kepada pihak RSUD Daya yaitu agar pihak RSUD Daya dapat sesegera mungkin mengumumkan nama-nama pemenangnya secara resmi kemudian memberikan hadiah yang sudah disiapkan dan memang sudah menjadi hak para pemenang itu. Penyerahan ini disampaikan melalui email dan website resmi RSUD Daya. Dengan upaya ini, para juri membebaskan diri  dari tanggung jawab moral yang tidak semestinya.
  •  Semoga pihak RSUD Daya dapat secara bijak menyelesaikan persoalan ini, dimana permintaan penyerahan hadiah serta proses selanjutnya seperti yang sudah dijanjikan terus bermunculan (beberapa komentar seperti dalam kutipan terlampir).

Demikian penyampaian kami, semoga dapat dijadikan perhatian.

Terima kasih atas perhatiannya.

Hormat saya.

ttd

Bugi Sumirat

(Founder/Chief on Board)

 

Tembusan, disampaikan kepada Yth.,

  1. Bp. Walikota Kota Makassar, di Makassar
  2. Bp. Sekretaris Daerah Kota Makassar, di Makassar

 

Category Archives:Opinion

Social Good Summit 2012

Senin, (24/9) di Jakarta digelar acara Social Good Summit 2012 yang diselenggarakan oleh UNDP bekerja sama dengan IDBlognetwork. Seorang sahabat blogger, Brad @indobrad melaporkan kegiatan yang dihadiri oleh perwakilan blogger tersebut di blognya. Berikut tulisan selengkapnya, yang berjudul “Pikir-Pikir Perubahan Iklim”.

***

Bumi semakin panas. So what?

Sebuah diskusi digelar antara UNDP dengan para blogger Senin malam (24/Sep/2012) lalu yang bertempat di kantornya di Jakarta. Dalam diskusi ini UNDP hendak merumuskan pemikiran bersama dengan para aktivis media sosial di Indonesia dan khususnya para blogger mengenai isu-isu hangat tentang lingkungan hidup dan perubahan iklim dunia. Sebenarnya diskusi ini digelar tidak hanya di Jakarta saja namun di seluruh dunia dalam rangka Social Good Summit 2012, sebuah meetup berskala global yang mempertemukan aktivis masyarakat dari berbagai sektor dan bersama-sama memikirkan masalah dan solusi yang menghadang warga dunia, yakni perubahan iklim yang semakin drastis.

Saya datang malam itu dengan pikiran kosong; dalam arti siap menerima masukan apa saja dan mengeluarkan opini apa saja yang terpikir di kepala tanpa menjejali otak dengan referensi dan pemahaman mendalam tentang isu-isu terbaru. Dan ketika diskusi dibuka oleh Anjari Umarianto selaku moderator, kesan bahwa saya tidak sendirian langsung terasa. Meski semua peserta yang hadir paham apa saja isu umum yang mengancam bumi kita, hanya sedikit yang benar-benar menyadari keseriusan masalah dan sudah melakukan langkah-langkah tertentu untuk mencegahnya. Yang saya pikirkan dan utarakan saat itu adalah bahwa saya telah menyadari bahwa perubahan iklim dan pemanasan global telah sampai pada titik ‘no turning back’ dan usaha apa pun yang kita lakukan tidak akan mampu menghentikan gejala alam ini. Dengan segera saya lalu dimasukkan ke dalam kelompok ‘pesimistis’ oleh Eyang Anjari dan yah, mungkin itu ada benarnya.

Saya sudah sebut di atas bahwa saya datang apa-adanya dan siap belajar. Jadi bagaimana status bumi kita sekarang? Berikut beberapa fakta yang terdengar dalam diskusi Senin lalu:

1. Sekitar 900 juta penduduk Asia-Pasifik hidup di bawah garis kemiskinan; 70% di antaranya tidak mendapat akses ke fasilitas sanitasi dasar seperti air bersih.

2. Pertumbuhan mobil pribadi di Jakarta melebihi 10% per tahun; tercepat di Asia.

3. Gas metana ekses produksi pertanian menyumbang 18% terhadap pemanasan global; asap kendaraan bermotor di seluruh dunia menyumbang 13%.

4. Garis pantai sepanjang 5 kilometer di Muara Gembong, Bekasi, telah habis oleh abrasi pantai dan menyapu rumah-rumah penduduk di kampung nelayan.

5. Dalam 10 tahun terakhir, terlepas dari segala kampanye lingkungan hidup global, kondisi bumi terus memburuk dan eskalasinya semakin mengkhawatirkan.

Apa yang bisa kita lakukan sekarang kalau upaya apapun tidak membuahkan hasil dan bumi lama-lama akan ‘mati’ juga? Sejenak pandangan pesimis ini mengemuka begitu jelas sehingga saya merinding sendiri membayangkan seperti apa bumi yang akan kita tinggalkan bagi anak-cucu kita.

Mitigasi & Adaptasi

Seberapa berat pun kondisi bumi kita, saya sadar bahwa kita tidak memiliki bumi lain dan inilah satu-satunya taruhan masa kini dan masa depan umat manusia yang harus kita pertahankan dan perbaiki. Tindakan radikal berupa mitigasi mutlak perlu dan telah banyak dilakukan di seluruh dunia guna meminimalisir dampak bencana dan menghindari sebanyak mungkin jatuhnya korban. Dari data-data di atas nyata bahwa masyarakat miskin adalah lapis pertama yang akan terdampak oleh bencana lingkungan; curah hujan yang abnormal saja mampu mematikan beberapa mata pencaharian petani dan nelayan. Selain mitigasi, kita juga perlu beradaptasi dengan kondisi lingkungan baru yang, meski tidak semakin nyaman, paling tidak masih sedikit memberi ruang bernafas bagi penghuninya.

Dari pemaparan umum tentang kondisi lingkungan hidup, diskusi lalu mengerucut ke arah bagaimana kita sebagai aktivis media sosial dapat berperan sebagai agen perubahan perilaku masyarakat terhadap pelestarian lingkungan. Blogger maupun pegiat media internet lainnya tak urung telah menjadi patokan bagi perilaku masyarakat umum karena eksistensi kita di media melebihi yang lain dan kita sanggup membawa pesan-pesan penting untuk tujuan yang lebih baik. Sekian usulan sudah terdengar namun saya mencatat beberapa yang berkesan saja:

1. Suarakan status bumi dan langkah-langkah antisipasi bencana melalui jaringan internet di segala kanal.

2. Ubah pandangan orang melalui tulisan mendalam yang persuasif guna meningkatkan kesadaran akan lingkungan hidup.

3. Beri teladan dengan aktif melakukan sesuatu bagi kelestarian lingkungan melalui tindakan nyata sambil terus menyuarakannya di media sosial.

Topik penting lainnya yang mengemuka adalah bagaimana kita menciptakan kampanye yang sesuai sasaran agar isu yang nampak berat ini menjadi fun dan mampu memengaruhi orang lain dengan cepat. Beberapa teman mengusulkan event-event seru seperti lomba menulis, video, sampai traveling yang dikemas khusus untuk kampanye lingkungan. Mas Tomi Soetjipto, Communication Analyst UNDP di Indonesia bahkan sampai menayangkan video kampanye lingkungan yang pernah dibuat dan membuka kesempatan dikritik seluas-luasnya oleh peserta yang hadir. Berikut video dalam Bahasa Indonesia yang berdurasi 42 detik ini:

 

Think Big, Start Small, Act Now

Meski berawal dari diskusi yang sangat global, langkah-langkah mitigasi dan adaptasinya ternyata sangat sederhana, yaitu mulai dari diri kita sendiri. Eka Situmorang, seorang blogger sekaligus kawan baik saya ternyata telah melakukan sesuatu yang sangat sederhana tapi mengenai sasaran, yakni diet kantong plastik. Ke mana-mana Eka selalu membawa tas kain dan menolak tiap kali ditawari kantong plastik oleh kasir pasar swalayan. Saya pun teringat pada Lita Uditomo yang disiplin memilah sampah di rumahnya serta mendukung komunitas Depok Berkebun dengan cara memanfaatkan lahan kosong di tempat tinggalnya guna ditanami pohon dan tanaman yang bermanfaat. Lalu apa yang bisa saya lakukan? Berikut beberapa komitmen saya:

1. Diet kantong plastik dengan ikut membawa tas kain dari sekarang dan mengurangi penggunaan plastik.

2. Meminimalisir penggunaan kertas dengan memanfaatkan kertas bekas untuk keperluan sehari-hari.

3. Menghemat listrik.

Sangat sederhana bukan? Sempat pula terbersit pemikiran bahwa usaha ini akan menemui jalan buntu ketika sampah yang sudah dipilah sebelum dibuang, misalnya, akan dicampur lagi oleh dinas kebersihan kota yang tidak paham pentingnya pelestarian lingkungan. Untuk itu langkah lain yang patut pula ditempuh adalah berkomunikasi secara positif dengan para penentu kebijakan publik agar mengambil tindakan yang pro-lingkungan hidup melalui tulisan-tulisan kita di blog dan media lainnya.

Saya akui, saya masih pesimis karena usaha-usaha kita seolah sporadis dan belum juga nampak hasilnya. Namun sekali lagi, kita tidak memiliki bumi lain. Yang kita wajib lakukan sekarang adalah mengajak sebanyak mungkin orang untuk berbuat sesuatu bagi keberlangsungan hidup dan masa depan kita.

Terima kasih kepada UNDP dan IDBlogNetwork atas undangan diskusi yang sangat mencerahkan.

Sumber: indobrad.web.id

Category Archives:Opinion

Global Warming Vs Petani

Ditulis oleh Toto Sugiharto @gunungkelir

Dalam Perjalanan saya ke Jakarta menggunakan Kereta api saya duduk bersebelahan dengan seorang pemuda yang kebetulan memiliki tujuan yang sama ke Jakarta , sesaat setelah berbasa basi kami pun terlibat ngobrol dan saling berbasa basi mengisi perjalanan.

Ketika saling menanyakan untuk apa ke jakarta maka saya hanya menjawab untuk bertemu dengan teman dan menjenguk saudara di Jakarta agar tidak memperpanjang kalimat, Kemudian saya yang berbalik bertanya :

“Mas Ke Jakarta dalam rangka apa..?” saya Balik bertanya kepada nya

” saya ke Jakarta untuk bertemu dengan teman teman untuk membahas Program penanganan Pemanasan Global atau Global Warming.

“ ia menjawab dengan penuh semangat

Kemudian saya iseng bertanya tentang hal yang mendasar mengenai Global Warming mengenai penyebab dan dampak dari pemanasan global bagi kita semua.

” Mas Apa sebenarnya Global Warming atau pemanasan Global itu apa penyebabnya dan apa dampaknya …..i?” saya bertanya padanya sambil menawari makanan ringan.

” Pemanasan global adalah meningkatnya suhu rata rata yang di sebebkan oleh beberapa efek termasuk efek rumah kaca dan banyak lagi pak termasuk meningkatnya carbon yang di hasilkan oleh kendaraan bermotor yang akhirnya menciptakan penyekat di atmosfir dan meningkatkan efek pemanasan terhadap bumi pak ” dia Menjelaskan dengan panjang lebar.

Sesampai di stasiun Purwokerto kereta berhenti sejenak dan setelah berjalan kembali dan kami pun terlibat pembicaraan kembali dan iapun melanjutkan menerangkan mengenai dampak pemanasan global terhadap banyak hal yang sebenarnya saya pun sudah mengerti, namun memang sudah merupakan kebiasaan saya selalu berlagak tidak mengerti dengan hal tersebut untuk bermaksud menambah atau melengkapi informasi maupun wawasan mengenai hal tersebut.

Pembicaraanpun kami lanjutkan sampai pada penanganan serta program program untuk mereduksi dn mengatasi pemanasan global tersebut dan saya juga setuju dengan cara paling mudah yaitu dengan mereduksi karbon atau mengurangi jumlah karbon dengan cara menanam banyak pohon, menanam pohon memang sangatlah efektif untuk mengikat karbon di udara yang kemudian memecahnya dalam proses fotositetis dan menyerap kedalam kayunya.

Panjang lebar dia berbicara tentang global warming yang kemudian mengerucut setelah saya bertanya pada dia mengenai program program pengendalian global warming yang di konsepkan dia dan kawan kawan.

Sejauh ini ternyata masih berkutat di tingkat konsep dan perencanaan mereka dan kawan kawannya sedangkan saya juga di ajaknya untuk ikut untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini, dalam bathin saya berkata wah saya udah di ajak juga sama kang Suryaden DKK untuk masalah seperti ini.

Kemudian saya bertanya secara pribadi apa yang telah ia lakukan secara real dalam masalah ini dan Diapun masih sampai pada melakukan kampanye serta sosialisasi di mana mana .

Waktu berjalan semakin larut malam dan saya mengakhiri pembicaraan dan dalam benak saya berkata “ ah kamu masih berjalan di atas aplikasi saya telah tanam ribuan pohon mahoni dan albasiah dengan tujuan menyelamatkan perut saya dan berefek menahan karbon wakakakakaka “

Saya akhirnya menyadari dan berterima kasih untuk para petani di lingkungan saya yang selalu mengajak saya untuk menanam pohon di sisi untuk penghijauan dan makanan ternak rupanya berfungsi juga menahan carbon dan lebih jauh tanpa sadar mereka mengajari saya untuk ikut menyelamatkan dunia dari isu global warming.

Tanpa sadar mereka memikirkan lingkungan dan berdampak secara nasional bahkan internasional ……

Hidup Petani Indonesia

Trus apa yang sudah anda lakukan ……..?

_______________________

Kontributor TOTOK SUGIHARTO adalah blogger-entrepreneur berdomisili di RT : 07 /01 Katerban . Desa Donorejo. Kec .Kaligesing . Kab Purworejo . Jawa  Tengah . Indonesia. Sukses dalam menjalankan usaha Ternak Kambing Etawa melalui penjualan langsung dan sosial media. Kontributor dapat dihubungi melalui Email : totok_kelir@yahoo.co.id atau twitter @gunungkelir

 

Category Archives:Opinion

Social approach for forestry development in Indonesia is a requirement to increase community welfare

The title above is adequately long. It intended to emphasise the main concern need to be put in Forestry sector, i.e.; community welfare, Forestry development and sociology approach.

In the Research Expose Seminar that was held by FORDA Makassar (Balai Penelitian Kehutanan Makassar) at Swiss-Bel Inn, Makassar – 28 June 2012, under the seminar theme: the Role of Science and Technology for Forestry Development and Community Welfare in Wallace region, I delivered paper presentation entitled: Increasing Social Capital of Farmer Forest Groups sustainably. Read More

Category Archives:Opinion

OMOT vs Bahasa Lokal

omot

Betul juga apa yang disampaikan seorang yang bekerja di perusahaan kayu ketika saya melakukan perjalanan dinas ke suatu kabupaten di Sulawesi Selatan beberapa waktu yang lalu, yang menyoroti masalah sosialisasi kehutanan.

Kenapa memangnya? Read More