A series video for celebrating the International Day of Forests

Category Archives:Forestry

A series video for celebrating the International Day of Forests

These videos had been submitted to @FAOForestry as a small contribution from some Indonesian Foresters to celebrate the International Day of Forests 2017 under hastags #loveforests and #intlForestDay

First video:

Second video:

Third video:

Fourth video:

Fifth video:

Sixth video:

Note:

All actor in those videos are researchers from Balai Penelitian Kehutanan Makassar (Environment and Forestry Research and Development Institute of Makassar)

Category Archives:Forestry

#loveforests

Herewith would like to share the video compiled by @FAOForestry regarding the Internal Day of Forests. The compiled video is a compilation expression on celebrating the #IntlForestDay from all over the world and my video is one of it. Please have a look in the link below – #loveforests #intlForestDay:

or

<blockquote class=”twitter-video” data-lang=”en”><p lang=”en” dir=”ltr”>Thanks to all who made a video for the <a href=”https://twitter.com/hashtag/LoveForests?src=hash”>#LoveForests</a> campaign for International Day of Forests! Here&#39;s a compilation! <a href=”https://twitter.com/hashtag/IntlForestDay?src=hash”>#IntlForestDay</a> <a href=”https://t.co/zcboiXj8zN”>pic.twitter.com/zcboiXj8zN</a></p>&mdash; FAO Forestry (@FAOForestry) <a href=”https://twitter.com/FAOForestry/status/845230262761902080″>March 24, 2017</a></blockquote>
<script async src=”//platform.twitter.com/widgets.js” charset=”utf-8″></script>

 

 

Category Archives:Forestry

Hutan rakyat dirawat, kualitas kayu lebih baik, petani sejahtera, pembelajaran dari pelatihan MTG di Bulukumba, Sulawesi Selatan

Salah satu alasan dilaksanakannya kegiatan pelatihan MTG (Master TreeGrower) oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Balai Penelitian Kehutanan Makassar (BPKM) pada bulan Mei 2015, seperti dikatakan oleh Kadishutbun Kab. Bulukumba, Ir. Misbawati A. Wawo, MM., bahwa sebagai satu-satunya kabupaten di Indonesia yang menerima, melaksanakan dan menyebarluaskan pelatihan untuk peningkatan kapasitas petani hutan rakyat dengan metode MTG ini, Bulukumba menunjukkan komitmennya untuk meningkatkan taraf hidup petani-petani hutan rakyatnya dari lahan-lahan hutan rakyat yang mereka miliki – dengan memperkenalkan paradigma baru kepada petani hutan rakyat.

Ditahun-tahun ke depan, pelatihan MTG ini akan diupayakan dilaksanakan secara berkelanjutan dan tepat sasaran. Untuk itu Dishutbun Kab. Bulukumba akan terus bekerja sama dengan peneliti-peneliti sosial ekonomi BPKM untuk men-training petani-petani hutan rakyat Bulukumba.

Namun dalam kesempatan penutupan kegiatan pelatihan MTG yang bertempat di areal pengembangan perlebahan di Dusun Takkue, Desa Seppang, Kabupaten Bulukumba, Kadishutbun Bulukumba kembali menyatakan kekhawatirannya jika ilmu-ilmu yang didapat dalam pelatihan ini tidak diaplikasikan oleh petani, petani akan kehilangan kesempatan untuk merawat areal hutan rakyatnya untuk menghasilkan kualitas yang lebih baik lagi. “Tujuan mereka diikutkan dalam pelatihan MTG ini agar mereka dapat meningkat pendapatannya dari kualitas kayu yang lebih baik yang dimilikinya yang tentunya akan membuat harga jual kayunya lebih tinggi, sebagai akibat dari keikutsertaan mereka dalam pelatihan ini.

“Sangat disayangkan jika mereka tidak menyerap ilmu ini dengan baik dan tidak mengaplikasikannya.” Demikian tambah Kadishut Kab. Bulukumba.

Pernyataan Kadishut tersebut beralasan. Terlihat dari masih banyak peserta di hari terakhir kegiatan MTG yang masih ‘gugup’ tentang bagaimana mempraktekan sebagian ilmu MTG ini – terutama dalam hal pengukuran seperti mengukur volume kayu, basal area pohon dan tegakan serta penerapannya untuk menentukan penjarangan pohon.

Namun dengan upaya keras pemateri-pemateri yang juga adalah peneliti-peneliti sosial ekonomi dari BPKM, kekhawatiran dan kegugupan para peserta MTG dapat diminimalisir. Minimal para peserta menguasai dasar-dasar yang perlu diketahui dan dikuasai sebagai seorang petani hutan rakyat yang MTG.

Kepala Dishutbun Kabupaten Bulukumba, yang juga adalah seorang yang ‘concern’ dengan pengembangan lebah madu di Kabupaten Bulukumba ini kemudian berkomitmen akan melakukan penyegaran bagi mereka, (hanya) alumni-alumni MTG yang serius menerapkan MTG di lahan atau kebunnya masing-masing pasca pelatihan.

“Bukan apa-apa, mereka nanti perlu penyegaran karena kan pada akhirnya mereka-mereka juga yang untung, para petani hutan rakyat, bukan kami. Kami, pihak Dishutbun, hanya berusaha memfasilitasi mereka agar meningkat kapasitasnya, menghasilkan kayu yang berkualitas baik dan kelak memiliki harga jual yang tinggi, seperti nyanyian Mars Petani Hutan Rakyat yang sering dinyanyikan selama pelatihan MTG.” Demikian tambah Misbawati, yang juga memiliki lahan hutan rakyat yang sering dipergunakan untuk kegiatan pelatihan serta penelitian, dalam sambutan penutupan pelatihanMTG tersebut.

Mars Petani Hutan Rakyat?

Selama pelatihan, para peserta yang adalah petani hutan rakyat ini diperkenalkan kepada lagu yang berjudul Mars Petani Hutan Rakyat, dengan tagline: ‘Pelihara Pohonmu’. Lagu yang mengadopsi lagu Dimana Anak Kambing Saya ini telah digubah lirik atau syairnya oleh Bugi Sumirat dan Achmad Rizal. Lirik tersebut untuk memotivasi para peserta pelatihan MTG agar dapat mengingat bahwa melalui MTG, mereka diperkenalkan pada paradigma baru bahwa tanaman kehutananpun perlu dirawat (paradigma lama, tanaman kehutanan setelah ditanam tidak memerlukan perawatan sebagaimana tanaman/komoditas pertanian/perkebunan) serta mengapa mereka perlu merawat pohon-pohonnya, merawat hutan rakyatnya.

Syair lengkap lagu Mars Petani Hutan Rakyat tersebut adalah sebagai berikut:

MARS PETANI HUTAN RAKYAT

Pelihara Pohonmu

Diadopsi dari lagu: Dimana anak kambing saya

Syair/lirik: Bugi Sumirat dan Achmad Rizal

Mana dimana meter kayu saya, Meter kayu saya ada dalam kantongku,

Mana dimana gaus kayu saya, Gaus kayu saya juga dalam kantongku.

Kemana kita bawa? Kemana kita bawa? Pasti dibawa ‘tuk pelihara pohon kita.

Knapa-kenapa harus plihara pohon. Harus plihara pohon supaya harga tinggi.

Knapa-kenapa harus plihara pohon. Harus plihara pohon supaya harga tinggi.

Kalau harganya tinggi! Kalau harganya tinggi! Pasti yang untung PETANI  HUTAN  RAKYAT!

Kalau harganya tinggi! Kalau harganya tinggi! Pasti yang untung PETANI  HUTAN  RAKYAT!

Lagu diatas, pelatihan MTG ini, dengan kerjasama yang erat antara Balai Penelitian Kehutanan Makassar dengan Dishutbun Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan merupakan bekal-bekal bagi petani hutan rakyat untuk bertransform menjadi petani hutan rakyat yang MTG, yang mau merubah paradigma lama menjadi paradigma baru: Hutan rakyat perlu dirawat untuk menghasilkan kayu yang berkualitas lebih baik. Kualitas kayu lebih baik, harga jualpun meningkat. Harga jual meningkat, petani hutan rakyatlah yang akan menikmatinya.

Benar demikian, bukan?

Semoga bermanfaat

Mei 2015

@Kangbugi [catatan: foto-foto: koleksi pribadi & Abdul Kadir W]

Telah diposting secara lengkap di : http://www.kompasiana.com/bugisumirat/hutan-rakyat-dirawat-kualitas-kayu-lebih-baik-petani-sejahtera-pembelajaran-dari-pelatihan-mtg-di-bulukumba-sulawesi-selatan_555fe07c719773f9108b4576

Category Archives:Forestry

Petani Hutan Rakyat Perlu Pintar Membuat Keputusan, Pembelajaran Dari Pelatihan MTG Di Bulukumba, Sulawesi Selatan

Jika hari pertama pelatihan MTG (Master TreeGrower), penekanan diberikan kepada pengenalan MTG serta bagaimana hubungan petani hutan rakyat terhadap pasar kayu – yang merupakan muara dari kayu-kayu yang ditanam oleh petani, maka hari kedua pelatihan MTG (Master TreeGrower) di Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan (Rabu, 20/05/2015) memberikan catatan tersendiri yang perlu diketahui. Kadishutbun Kab. Bulukumba Seperti dalam arahannya di hari kedua yang diberikan kepada seluruh peserta pelatihan MTG, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Bulukumba, Ir. Misbawati A. Wawo, MM., mengatakan bahwa pihak Dishutbun Kabupaten Bulukumba selalu memperhatikan kepentingan petani hutan rakyat di wilayahnya, termasuk dengan mengadakan pelatihan MTG ini.

Hanya saja, Bagaimana petani hutan rakyat memanfaatkan hasil pelatihan ini, berpulang kepada para petani hutan rakyat itu sendiri, mau atau tidak mengaplikasikan hasil-hasil yang diperolehnya dari pelatihan MTG. Karena pelatihan MTG ini membekali petani hutan rakyat agar dapat menghasilkan kayu yang berkualitas sehingga memiliki harga jual yang lebih baik (tinggi). Kadishutbun Kabupaten Bulukumba betul.

Materi pelatihan MTG dihari kedua memberikan kesempatan kepada petani untuk belajar tentang pengukuran dan pengelolaan (manajemen) hutan rakyat, disertai praktik-praktik singkat.

Pengukuran yang diberikan kepada petani hutan rakyat terkait materi pengukuran pohon, log dan tegakan serta pengukuran tinggi, diameter dan basal area.

Sementara materi manajemen atau pengelolaan hutan rakyat memberikan petani hutan rakyat pilihan-pilihan manajemen atau pengelolaan hutan rakyat agar petani hutan rakyat dapat nantinya memutuskan bagaimana petani hutan rakyat mengelola lahannya, termasuk pemangkasan dan penjarangan yang baik (pruning dan thinning). Untuk mempraktikan pengukuran dan pengelolaan, petani hutan rakyat dibekali alat meter kayu dan gaus (gauge) yang merupakan alat pengukuran kayu yang berfungsi memberikan pertimbangan kepada petani kapan petani perlu melakukan pemangkasan maupun penjarangan tanaman-tanaman kehutanan di lahan miliknya.

Pelatihan Master TreeGrower ini memberikan banyak pilihan-pilihan maupun pertimbangan-pertimbangan kepada petani hutan rakyat untuk bagaimana petani hutan rakyat memutuskan pengelolaan lahannya atau hutannya sesuai dengan pilihannya maupun kehendaknya.

Setelah selesai mengikuti pelatihan MTG, para peserta diharapkan menjadi seorang ‘master’ atau guru atau ahli, yang memiliki keahlian yang memadai untuk memperbaiki kondisi hutan rakyatnya dengan keputusan yang dibuatnya sendiri selaku seorang petani hutan rakyat. “Anda harus menentukan jalan anda sendiri (sebagai petani hutan rakyat), karena kalau hanya mengikuti seseorang, maka anda tidak mengetahui dimana anda akan berhenti.” Demikian seperti disampaikan pemateri pengelolaan hutan rakyat, Ir. Achmad Rizal HB. MT.

Untuk menambah keyakinan para peserta bahwa petani hutan rakyat adalah pemimpin/manajer lahan hutan rakyat miliknya. Master TreeGrower (MTG) memiliki beberapa kriteria yang perlu dimiliki petani hutan rakyat agar dapat disebut sebagai seorang ahli di bidangnya, yaitu ahli dalam membuat keputusan yang baik bagi diri dan keluarganya maupun lahan hutan rakyat miliknya.

Kriteria-kriteria tersebut adalah: 1. Anda (petani) sendiri yang membuat keputusan: mau menanam pohon apa di lahan anda. 2. Tidak ada “jenis tanaman” dan “cara yang paling baik” dalam menanam pohon. 3. Setiap petani atau lahan itu berbeda, maka kondisi hutan rakyat pasti akan berbeda pula. 4. Anda harus bertanggung jawab atas keputusan yang anda buat sendiri.

Hal terpenting lainnya, disebutkan bahwa seorang ‘master’ (MTG) itu tidak pernah berhenti belajar.

Belajar untuk dapat membuat keputusan mana yang lebih baik untuk kepentingan pengelolaan lahan hutan rakyatnya.

Semoga bermanfaat.

Mei 2015

@kangbugi

(foto-foto dokumentasi pribadi)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/bugisumirat/petani-hutan-rakyat-perlu-pintar-membuat-keputusan-pembelajaran-dari-pelatihan-mtg-di-bulukumba-sulawesi-selatan_555cd793739773911a308736

Category Archives:Forestry

Petani hutan rakyat perlu mengenal pasar?

 

1409175289598023882

Di Yogyakarta, tepatnya di Hotel Inna Garuda, di Jalan Malioboro no. 60, kemarin (27 Agustus 2014) berlangsung pertemuan tahunan kegiatan penelitian yang merupakan kerjasama dua negara – bilateral, antara Indonesia (dalam hal ini berada dalam tanggung jawab Kementerian Kehutanan) dan Australia (dalam hal ini didanai serta dalam tanggung jawab ACIAR – Australian Center for International Agricultural Research).

Kegiatan penelitian ini sendiri dikerjakan secara kolaboratif antar beberapa institusi seperti misalnya:

    • The Australian National University, Canberra, Australia,
    • The University of Melbourne, Melbourne, Australia
    • The University of Queensland, Queensland, Australia
    • Pusat Penelitian Perubahan Iklim dan Kebijakan Kehutanan, yang berlokasi di Bogor,
    • CIFOR (Centre of International Forestry Research) , yang berlokasi di Bogor.
    • Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, di Yogyakarta,
    • Balai Penelitian Kehutanan Makassar, yang berlokasi di Makassar,
    • WWF Indonesia, yang berlokasi di Mataram, NTB, dan
    • Trees for Trees, LSM yang berlokasi di Pati, Jawa Tengah

Menghubungkan petani hutan rakyat dengan pasar? Dan mengapa perlu dihubungkan? Apakah mereka tidak dapat menghubungkan dirinya sendiri dengan pasar?

Sementara kegiatan penelitian yang berjangka waktu kurang lebih empat setengah tahun (berakhir di tanggal 30 September 2015) ini melakukan beberapa hal seperti misalnya: Melakukan analisis terkait dimensi sosial CBCF (Community Based Commercial Forestry – Kehutanan komersial yang berbasis masyarakat), melakukan evaluasi rantai nilai, penelitian mengenai meningkatkan kapasitas petani hutan, yang terkait dengan keputusan investasi petani terkait dengan lahan hutan rakyatnya.

Sebagai informasi, hutan rakyat diartikan sebagai tanaman komoditas kehutanan (yang membentuk hutan) yang ditanam di lahan milik rakyat atau masyarakat (petani), bukan di lahan perusahaan maupun lahan negara.

Kembali kepada beberapa pertanyaan di atas, pada pertanyaan pertama ditanyakan tentang hubungan petani hutan rakyat dengan pasar. Berdasarkan hasil penelitian maupun pengamatan, sejauh ini, ternyata terlihat bahwa petani hutan rakyat belum dapat dikatakan ‘familiar’ dengan situasi pasar kayu. Berapa harga kayu, berapa harga log, apakah ada perbedaan antara harga kayu yang baik dengan yang tidak baik, berapa range-nya, serta bagaimana kriteria kayu yang baik menurut kriteria pasar ataupun industri, dan informasi-informasi seperti itu sangat minim diketahui oleh masyarakat.  Padahal dalam masa sekarang ini, telah diakui bahwa petani hutan rakyat adalah bagian tidak terpisahkan, atau dapat dikatakan sebagai aktor utama dalam kehutanan yang bersifat komersial (CBCF).

Kalau kemudian timbul pertanyaan, apakah perlu dihubungkan? Jawabannya mungkin bisa ya ataupun tidak. Hanya saja, dari pengamatan, lebih banyak yang menjawab bersedia untuk dihubungkan dengan pasar. Alasan utamanya adalah mereka masih belum merasa bisa berhubungan ataupun terhubung dengan pasar.

 Selama ini, hampir sebagian besar petani hutan rakyat akan berhubungan dengan pedagang antara (middleman), dari proses yang terkait proses jual beli serta proses penebangan, hingga informasi harga di pasar diperoleh dari pedagang antara. Sepertinya akan masih memerlukan waktu yang panjang untuk sampai tidak memiliki pola seperti itu.

 Dari pertemuan di Yogyakarta tersebut, makin terkuak perlunya ‘menghubungkan’ petani hutan rakyat dengan pasar, sebagai bagian dari kehutanan komersial, dimana petani hutan rakyat adalah aktor utama dari pembangunan kehutanan. Sebagai aktor utama, sudah sewajarnya kalau pihak yang mendapat keuntungan dari CBCF itu adalah mereka, petani hutan rakyat

 Dari hasil penelitian ACIAR tersebut, diperkenalkan metode MTG – MTG approach (MTG = Master Tree Grower), yang digagas oleh Rowan Reid, yang adalah konsultan sekaligus dosen di University of Melbourne. Dalam metode ini, yang dilaksanakan dalam bentuk training, peserta pelatihan – yang sebagian besar pesertanya adalah anggota kelompok tani, diberikan dan diperkenalkan dengan industri kayu, untuk memberikan pemahaman, kemana muara dari kayu yang mereka tanam. Karena muaranya adalah terutama untuk dijual, disamping untuk digunakan sesuai keperluan pemiliknya, maka mereka perlu diberikan pemahaman tentang ‘pasar’ yang akan dihadapinya kelak. Hasil awal membuktikan bahwa metode ini efektif dalam merubah paradigma mereka tentang keuntungan yang akan mereka peroleh dari pengelolaan hutan rakyat yang selama ini mereka telah lakukan (di kesempatan lain akan saya uraikan lebih jauh tentang program MTG ini).

 1409176016522830992

Acara pembukaan annual meeting

Dalam pidato pembukaannya, baik yang disampaikan (secara tertulis) oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kepala Badan Litbang Kehutanan, keduanya menekankan akan pentingnya para pihak untuk terus-menerus menyadari bahwa manusia (baca: petani hutan serta masyarakat di sekitar hutan lainnya) adalah aktor utama dalam pembangunan kehutanan dan yang diuntungkan dari pembangunan kehutanan tersebut – disamping keuntungan lain seperti misalnya untuk perbaikan lingkungan. Beranjak dari situ pulalah harapan terhadap hasil penelitian yang dilakukan oleh ACIAR – Kementerian Kehutanan (dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam kolaborasi tersebut diatas) itu.

1409176150833454773

Dr. Digby Race – Perwakilan ACIAR (sebelah kiri)

Yogyakarta, August 2014

 @kangbugi

Keterangan:

- foto-foto adalah dokumen pribadi

Reblogged from my article published at: http://sosbud.kompasiana.com/2014/08/28/petani-hutan-rakyat-perlu-mengenal-pasar-mekanisme-pemasaran-kayu-671142.html

Category Archives:Forestry

Green Hospital Blogging competition: what a sad saga

Green Hospital Blogging Competition nampaknya harus berakhir dengan menyedihkan (what a sad saga). Hal ini akibat dari minimnya rasa tanggung jawab (malah kalau boleh dibilang tidak ada) pihak RSUD Daya Kota Makassar didalam menyelesaikan hak dan kewajiban para peserta lomba Green Hospital. Apalagi terhadap para pemenang yang sudah jelas apa saja hadiah yang harus diterimanya, dan hadiah-hadiah tersebut sudah ada peruntukkannya dan sudah diadakan, tinggal diserahkan oleh pihak RSUD Daya Kota Makassar.

Ini bermula dari terjadinya pergantian pimpinan di RSUD Daya Kota Makassar. Program Green Hospital direncanakan dan dicanangkan pada saat pimpinan RSUD Daya Kota Makassar masih dipimpin oleh dr. St Saenab, M.Kes. Beliaulah penggagas dan penyemangat kegiatan Green Hospital di rumah sakit tersebut. Penggantian beliau terjadi pada saat kegiatan Green Hospital sedang berjalan dan mendekati tahap akhir penerimaan tulisan dari para peserta lomba. Pengganti beliau, rupanya tidak paham dan tidak mengerti tentang kegiatan Green Hospital, terlebih lagi, bahwa penggantinya ini tidak paham (atau tidak mau paham?) bahwa kegiatan ini terkait dengan masyarakat luas. Tidak bisa dihentikan begitu saja, apalagi dengan alasan yang mengada-ada dan tidak jelas. Kegiatan ini memang diselenggarakan oleh institusi lokal (RSUD Daya Kota Makassar) tetapi berskala nasional. Terbukti dari tulisan-tulisan yang masuk dari pelbagai daerah, bukan hanya Makassar.

Terkait dengan masyarakat, tentu kita harus dahulukan kepentingan masyarakat. Menghentikan lomba sebelum waktunya, menunda-nunda penyerahan hadiah hingga waktu yang tidak jelas, merupakan pengabaian terhadap penuntasan kewajiban terhadap masyarakat. Sehingga, seperti yang sudah saya sarankan, seharusnya pihak Rumah Sakit Daya bisa menunjukkan apresiasinyaterhadap masyarakat yang telah bersusah payah berpartisipasi didalam kegiatan Green Hospital ini.

Linihijau adalah pihak yang dimintakan bantuan oleh RSUD Daya Kota Makassar untuk membantu mengelola kegiatan Green Hospital Blogging Competition. Kami merasa aneh pula dengan sikap RSUD Daya ini yang sepertinya tidak bermasalah dengan akibat dari pengabaian-pengabaian yang telah dilakukannya, tidak bermasalah dengan potensi tercorengnya nama RSUD Daya akibat ‘ulah’nya sendiri.

Kami sudah banyak memberikan masukan terhadap pihak RS Daya, namun, nampaknya apa yang kami lakukan adalah bak meludah ke langit. Kami pun diabaikan.

Melihat pengabaian tersebut, kami – dengan surat bertanggal 5 September 2013 – telah menarik diri dari membantu & mendukung kegiatan ini. Kami serahkan kembali semua tanggung jawab (yang sudah memang sepantasnya) yang tadinya dibebankan kepada pihak Linihijau, kembali kepada pihakl RS Daya. Kami sangat prihatin melihat kondisi seperti ini, tetapi RSUD Daya Kota Makassar sepertinya tetap bergeming dengan sikapnya dan memilih ‘berhadapan’ dengan masyarakat.

Dibagian bawah dari postingan ini, kami sertakan isi surat terakhir yang kami kirimkan kepada pihak RS Daya, tentang progres kegiatan Green Hospital Blogging Competition selama ini. Kami masih berharap agar pihak RS Daya dapat mempertimbangkan untuk dapat mengambil keputusan  bijak terkait permasalahan ini, minimal dengan memenuhi hak-hak para pemenang lomba dengan menyerahkan hadiah-hadiah yang sudah menjadi hak para pemenang.

Kepada para peserta lomba dan pemenang, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya karena kami tidak dapat ‘mengawal’ kegiatan ini dengan baik hingga batas waktu sesuai dengan tata waktu yang telah direncanakan dan mohon maaf pula karena kami tidak berhasil meyakinkan pihak RSUD Daya Kota Makassar agar mau memenuhi kewajibannya yang sudah sangat jelas merupakan tanggung jawab pihak RSUD Daya Kota Makassar.

Demikian yang dapat kami sampaikan.

Terima kasih

@kangbugi

Lampiran: Surat terakhir yang kami kirimkan untuk Direktur RS Daya.

Makassar, 20 September 2013

Nomor     : 10/IX/I/LH/2013

Lampiran : 1 berkas

Perihal     : Laporan Lengkap

Kepada Yth.,

Ibu Direktur RSUD Daya

Di

Tempat

Dengan hormat,

Bersama ini kami menyampaikan laporan terkait dengan kegiatan Lomba Green Hospital. Adapun  laporan ini merupakan rangkaian dari laporan-laporan sebelumnya yang sudah kami kirimkan kepada RSUD Daya kota Makassar yaitu pada tanggal sebagai berikut:

  1. Laporan pelaksanaan kegiatan pertama telah dikirimkan pada tanggal 13 Juni 2013 (seperti terlampir).
  2. Laporan pelaksanaan kegiatan kedua telah dikirimkan pada tanggal 2 Agustus 2013 (seperti terlampir).
  3. Laporan pelaksanaan kegiatan ketiga telah dikirimkan pada tanggal 5 September 2013 (seperti terlampir).

Dari laporan-laporan yang kami kirimkan tersebut, tidak ada satupun yang mendapat tanggapan dari pihak RSUD Daya Kota Makassar, sehingga kami, selaku pihak yang diminta bantuan untuk menyelenggarakan lomba Green Hospital ini menjadi bingung, sebetulnya kegiatan ini milik dan tanggung jawab siapa. Seolah-olah, kami lebih bertanggung jawab dari yang berkepentingan itu sendiri (RSUD Daya).

Namun demikian ada beberapa hal yang patut diperhatikan dan akan saya utarakan disini, yaitu:

  • Bahwa di awal kegiatan lomba Green Hospital, dengan disosialisasikan kegiatan lomba Green Hospital ini, melalui website RSUD Daya (rsudaya.org – dengan taglinenya: ‘towards the green hospital in Indonesia‘ – menuju Green Hospital di Indonesia)  dan website-website lain seperti: Kompasiana, Blogdetik, Linihijau, blog-blog pribadi dan ditambah dengan jalur facebook dan twitter, kegiatan ini telah berhasil melakukan sosialisasi tentang Green Hospital terhadap kurang lebih 3700an orang/pembaca (data sampai dengan tanggal 3 Juli 2013), dan jumlah ini terus bertambah dari waktu ke waktu (bukti terlampir). Walau dukungan dari RSUD Daya itu sendiri tidak signifikan dengan gencarnya proses sosialisasi Green Hospital seperti yang telah direncanakan, seperti misalnya: Tidak dipasangnya spanduk yang sudah dibuat sebagai bentuk sosialisasi bagi masyarakat di sekitar RSUD Daya; tidak disebarluaskannya poster-poster tentang lomba Green Hospital ini yang telah dicetak; tidak dikirimkannya pemberitahuan tentang pelaksanaan kegiatan ini melalui email ke media massa maupun institusi-institusi terkait seperti yang sudah disampaikan; tidak dilakukan update informasi terhadap kegiatan Green Hospital yang telah dilakukan oleh RSUD Daya selama ini melalui website yang telah disediakan (seperti dikeluhkan oleh banyak peserta lomba – sangat minimnya informasi yang bisa diperoleh dari website RSUD Daya – terkait kegiatan Green Hospital yang telah dilakukannya).
  •  Namun demikian, walau dengan keterbatasan kondisi seperti telah disebutkan di atas, dalam lomba ini telah berhasil menjaring sebanyak 73 buah tulisan tentang Green Hospital (keseluruhan tulisan yang masuk berjumlah diatas seratus tulisan, tetapi setelah diseleksi dengan kesesuaian peraturan lomba, maka dapat terjaring sebanyak 73 buah tulisan. Dari 73 tulisan ini dipilih 3 pemenang – juara 1 s/d 3 serta 17 tulisan pendukung lainnya untuk dapat disusun menjadi sebuah buku tentang Green Hospital). Rata-rata tulisan yang masuk (baik dimuat dalam tulisan-tulisan tersebut, maupun melalui media lain berisi pula apresiasi mereka, penghargaan mereka terhadap upaya yang telah dilakukan oleh RSUD Daya didalam mensosialisasikan Green Hospital. Dan mereka mengapresiasi pula bahwa RSUD Daya-lah sebagai rumah sakit pertama di Indonesia yang peduli akan pentingnya memperhatikan lingkungan di lingkungan rumah sakit (Green Hospital).
  • Tanggapan-tanggapan yang muncul sangatlah positif terkait dengan kegiatan Green Hospital ini, hanya saja, nampaknya kegiatan ini harus berakhir anti klimaks. Sejak saya mendapat pemberitahuan tentang keinginan RSUD Daya (melalui drg. Nona) untuk memundurkan proses lomba ini hingga waktu yang tidak ditentukan (dikatakan oleh drg. Nona  s/d sekitar bulan Oktober) serta dengan alasan yang tidak dimengerti. Terkait dengan rencana ini saya sudah mengajukan beberapa pertimbangan melalui laporan saya tertanggal 2 Agustus 2013, tentang kemungkinan akibat buruk yang mungkin timbul bagi RSUD Daya jika perlombaan diperpanjang tanpa batas waktu yang jelas, karena proses sudah terpampang dengan jelas dimana jadwal tersebut telah disetujui oleh pihak RSUD Daya. Mengingat laporan yang saya sampaikan tidak ditanggapi, saya berusaha ‘memperlama’ sedikit prosesnya. Dan betul saja, penundaan yang belum seberapa itu mendapat respon yang kurang baik, terutama dari peserta lomba. Mereka semua sudah merasa antusias untuk mengetahui siapa pemenangnya dan hingga menjadi buku. Mulailah dampak buruk itu bermunculan. Kata-kata yang kurang pantas didengar bermunculan melalui twitter, website maupun blog, yang pada umumnya menyatakan kebingungan, kekecewaan, dan perasaan dilecehkan oleh RSUD Daya terhadap profesi penulis, bahkan ada yang berniat melakukan somasi. Beberapa pertanyaan (yang nadanya tidak terlalu kasar) yang bisa dikutip seperti tertera dalam lampiran. Inilah anti klimaks yang terjadi, diawal lomba/sosialisasi, nama RSUD Daya mengemuka dengan apresiasi terhadap kegiatan Green Hospitalnya, namun di penghujung lomba, nama RSUD Daya tercoreng dengan sikapnya sendiri.
  • Melihat desakan yang muncul, yang semakin deras, para juri merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut, terutama tidak mau dianggap melecehkan profesi penulis dengan mengulur-ulur jadwal pengumuman tanpa alasan yang jelas, akhirnya para juri menyerahkan wewenang tersebut kembali kepada pihak RSUD Daya yaitu agar pihak RSUD Daya dapat sesegera mungkin mengumumkan nama-nama pemenangnya secara resmi kemudian memberikan hadiah yang sudah disiapkan dan memang sudah menjadi hak para pemenang itu. Penyerahan ini disampaikan melalui email dan website resmi RSUD Daya. Dengan upaya ini, para juri membebaskan diri  dari tanggung jawab moral yang tidak semestinya.
  •  Semoga pihak RSUD Daya dapat secara bijak menyelesaikan persoalan ini, dimana permintaan penyerahan hadiah serta proses selanjutnya seperti yang sudah dijanjikan terus bermunculan (beberapa komentar seperti dalam kutipan terlampir).

Demikian penyampaian kami, semoga dapat dijadikan perhatian.

Terima kasih atas perhatiannya.

Hormat saya.

ttd

Bugi Sumirat

(Founder/Chief on Board)

 

Tembusan, disampaikan kepada Yth.,

  1. Bp. Walikota Kota Makassar, di Makassar
  2. Bp. Sekretaris Daerah Kota Makassar, di Makassar

 

Category Archives:Forestry

Leadership Required: Ensuring Local Communities Benefit from Climate Finance

Source: Blog RECOFTC

A vicious cycle exists in the financing of climate change activities. So said Myrna Cunningham, president of the UN Permanent Forum on Indigenous Issues, during the opening session of the 2012 Climate Investment Fund Partnership Forum in Istanbul, Turkey (November 6-7, 2012). Financiers of climate compatible development activities, particularly the private sector, require deliverables to be met and view the limited capacity typical of rural communities as reasons to circumvent them and engage with ‘higher capacity’ actors. The opening session of the Forum underscored the need for climate financing investments, by banks and by the private sector, to be profitable.

to continue reading, please visit: http://recoftc.wordpress.com/2012/11/09/leadership-required-ensuring-local-communities-benefit-from-climate-finance/

Category Archives:Forestry

Social approach for forestry development in Indonesia is a requirement to increase community welfare

The title above is adequately long. It intended to emphasise the main concern need to be put in Forestry sector, i.e.; community welfare, Forestry development and sociology approach.

In the Research Expose Seminar that was held by FORDA Makassar (Balai Penelitian Kehutanan Makassar) at Swiss-Bel Inn, Makassar – 28 June 2012, under the seminar theme: the Role of Science and Technology for Forestry Development and Community Welfare in Wallace region, I delivered paper presentation entitled: Increasing Social Capital of Farmer Forest Groups sustainably. Read More