Petani Hutan Rakyat Perlu Pintar Membuat Keputusan, Pembelajaran Dari Pelatihan MTG Di Bulukumba, Sulawesi Selatan

Author Archives : @kangbugi

Petani Hutan Rakyat Perlu Pintar Membuat Keputusan, Pembelajaran Dari Pelatihan MTG Di Bulukumba, Sulawesi Selatan

Jika hari pertama pelatihan MTG (Master TreeGrower), penekanan diberikan kepada pengenalan MTG serta bagaimana hubungan petani hutan rakyat terhadap pasar kayu – yang merupakan muara dari kayu-kayu yang ditanam oleh petani, maka hari kedua pelatihan MTG (Master TreeGrower) di Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan (Rabu, 20/05/2015) memberikan catatan tersendiri yang perlu diketahui. Kadishutbun Kab. Bulukumba Seperti dalam arahannya di hari kedua yang diberikan kepada seluruh peserta pelatihan MTG, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Bulukumba, Ir. Misbawati A. Wawo, MM., mengatakan bahwa pihak Dishutbun Kabupaten Bulukumba selalu memperhatikan kepentingan petani hutan rakyat di wilayahnya, termasuk dengan mengadakan pelatihan MTG ini.

Hanya saja, Bagaimana petani hutan rakyat memanfaatkan hasil pelatihan ini, berpulang kepada para petani hutan rakyat itu sendiri, mau atau tidak mengaplikasikan hasil-hasil yang diperolehnya dari pelatihan MTG. Karena pelatihan MTG ini membekali petani hutan rakyat agar dapat menghasilkan kayu yang berkualitas sehingga memiliki harga jual yang lebih baik (tinggi). Kadishutbun Kabupaten Bulukumba betul.

Materi pelatihan MTG dihari kedua memberikan kesempatan kepada petani untuk belajar tentang pengukuran dan pengelolaan (manajemen) hutan rakyat, disertai praktik-praktik singkat.

Pengukuran yang diberikan kepada petani hutan rakyat terkait materi pengukuran pohon, log dan tegakan serta pengukuran tinggi, diameter dan basal area.

Sementara materi manajemen atau pengelolaan hutan rakyat memberikan petani hutan rakyat pilihan-pilihan manajemen atau pengelolaan hutan rakyat agar petani hutan rakyat dapat nantinya memutuskan bagaimana petani hutan rakyat mengelola lahannya, termasuk pemangkasan dan penjarangan yang baik (pruning dan thinning). Untuk mempraktikan pengukuran dan pengelolaan, petani hutan rakyat dibekali alat meter kayu dan gaus (gauge) yang merupakan alat pengukuran kayu yang berfungsi memberikan pertimbangan kepada petani kapan petani perlu melakukan pemangkasan maupun penjarangan tanaman-tanaman kehutanan di lahan miliknya.

Pelatihan Master TreeGrower ini memberikan banyak pilihan-pilihan maupun pertimbangan-pertimbangan kepada petani hutan rakyat untuk bagaimana petani hutan rakyat memutuskan pengelolaan lahannya atau hutannya sesuai dengan pilihannya maupun kehendaknya.

Setelah selesai mengikuti pelatihan MTG, para peserta diharapkan menjadi seorang ‘master’ atau guru atau ahli, yang memiliki keahlian yang memadai untuk memperbaiki kondisi hutan rakyatnya dengan keputusan yang dibuatnya sendiri selaku seorang petani hutan rakyat. “Anda harus menentukan jalan anda sendiri (sebagai petani hutan rakyat), karena kalau hanya mengikuti seseorang, maka anda tidak mengetahui dimana anda akan berhenti.” Demikian seperti disampaikan pemateri pengelolaan hutan rakyat, Ir. Achmad Rizal HB. MT.

Untuk menambah keyakinan para peserta bahwa petani hutan rakyat adalah pemimpin/manajer lahan hutan rakyat miliknya. Master TreeGrower (MTG) memiliki beberapa kriteria yang perlu dimiliki petani hutan rakyat agar dapat disebut sebagai seorang ahli di bidangnya, yaitu ahli dalam membuat keputusan yang baik bagi diri dan keluarganya maupun lahan hutan rakyat miliknya.

Kriteria-kriteria tersebut adalah: 1. Anda (petani) sendiri yang membuat keputusan: mau menanam pohon apa di lahan anda. 2. Tidak ada “jenis tanaman” dan “cara yang paling baik” dalam menanam pohon. 3. Setiap petani atau lahan itu berbeda, maka kondisi hutan rakyat pasti akan berbeda pula. 4. Anda harus bertanggung jawab atas keputusan yang anda buat sendiri.

Hal terpenting lainnya, disebutkan bahwa seorang ‘master’ (MTG) itu tidak pernah berhenti belajar.

Belajar untuk dapat membuat keputusan mana yang lebih baik untuk kepentingan pengelolaan lahan hutan rakyatnya.

Semoga bermanfaat.

Mei 2015

@kangbugi

(foto-foto dokumentasi pribadi)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/bugisumirat/petani-hutan-rakyat-perlu-pintar-membuat-keputusan-pembelajaran-dari-pelatihan-mtg-di-bulukumba-sulawesi-selatan_555cd793739773911a308736

MTG (Pelatihan Petani Hutan Rakyat) Sangat diperlukan untuk Petani, Pembelajaran dari Bulukumba, Sulawesi Selatan

“Perlu sekali dilakukan pembinaan/pelatihan yang berkelanjutan terhadap petani hutan rakyat, karena sangat bermanfaat bagi mereka.” Demikian salah satu butir pernyataan Staf Ahli Pembangunan, saat membacakan sambutan tertulis Bupati Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, Bapak H. Zainuddin Hasan dalam pembukaan acara Gelar Teknologi MTG (Master TreeGrower) Training yang bertempat di Hotel Agri, Bulukumba tanggal 19 Mei 2015.

Pelatihan ini sendiri, yang merupakan kerjasama antara Balai Penelitian Kehutanan Makassar (BPKM) dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan dan berlangsung selama 3 (tiga) hari hingga tanggal 21 Mei 2015.

Pelatihan MTG Bulukumba Lebih lanjut, Bupati Bulukumba berpesan bahwa MTG sangat diperlukan oleh petani dan berharap training MTG ini dapat dilakukan secara rutin setiap tahunnya dan Kabupaten Bulukumba memiliki alumni MTG terbesar di Indonesia.

Apalagi, saat ini, atas inisiatif Kepala Dishutbun Bulukumba, Ir. Misbawati A. Wawo, MM., Kabupaten Bulukumba menjadi satu-satunya kabupaten di Indonesia yang melaksanakan pelatihan terhadap petani hutan rakyat dengan menggunakan metode atau pola MTG (Master TreeGrower) yang sudah jelas manfaatnya bagi para petani.

Alasannya – seperti yang pernah disampaikannya kepada saya dalam satu kesempatan,”Saya ingin petani hutan rakyat Bulukumba menjadi petani yang pintar yang maju yang dapat meningkat kesejahteraannya dari sektor kehutanan serta dapat ikut berkompetisi di dunia kehutanan yang bersifat komersial (commercial forestry).”

Sementara pelatihan MTG itu sendiri, seperti dikatakan Kepala Seksi Data dan Informasi BPKM – mewakili Kepala BPKM, Ir. Misto, MP., yang berhalangan hadir, pelatihan MTG untuk petani hutan rakyat merupakan sebuah hasil penelitian yang terbukti efektivitasnya yang sedang dikembangkan di Indonesia, sebagai bagian dari kerjasama penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (Badan Litbanghut) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Australian Center for International Agriculture Research (ACIAR).

Suasana Pelatihan MTG Bulukumba MTG merupakan (pendekatan) pelatihan yang pertama kali diperkenalkan oleh Rowan Reid – seorang petani hutan rakyat dan dosen di Australia. Rowan juga mendirikan Yayasan Agroforestry Australia (Australian Agroforestry Foundation). Inti dari pelatihan MTG ini, yang diciptakan sejak tahun 1996 ini, adalah pelatihan yang menekankan pada ‘membuka’ wawasan petani hutan (khususnya petani hutan rakyat) agar memiliki pertimbangan dalam pengambilan keputusan (decision making) yang lebih baik lagi.

Petani perlu memahami bahwa menanam tanaman kehutanan ternyata memerlukan perawatan. Tanaman kehutanan tidak hanya ditanam kemudian dibiarkan begitu saja hingga waktu panen nanti.

Hal lain lagi adalah bahwa petani hutan rakyat harus memiliki pengetahuan tentang pasar kayu yang akan dihadapinya kelak.

Petani perlu mengetahui berapa harga kayu untuk jenis-jenis kayu yang ditanamnya agar petani dapat memprediksi ‘income‘ yang kelak akan diperolehnya. Sehingga pengetahuan tersebut akan berimplikasi terhadap pola pengelolaan hutan rakyat yang dilakukannya (seperti melakukan pemangkasan dan penjarangan – dengan metode yang lebih baik lagi: metode MTG) yang teratur agar menghasilkan kayu yang berkualitas.

Karena kualitas kayu baik, harga kayu akan baik, kualitas kayu buruk, harga kayupun akan buruk. Petani harus memilih kualitas kayu mana nantinya yang akan dihasilkan.

Di dunia, pelatihan MTG ini (dalam koordinasi Rowan Reid) telah dilaksanakan di Australia, Afrika dan Indonesia.

Sementara di Indonesia, dalam skala kecil, pelatihan MTG telah dilakukan di 5 (lima) lokasi yaitu Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah; Kabupaten Gunung Kidul (Provinsi Yogyakarta), Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat; Kabupaten Konawe Selatan (Provinsi Sulawesi Tenggara) dan Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Seluruh kegiatan pelatihan ini didanai oleh ACIAR.

Peserta pelatihan MTG Bulukumba dalam pelatihan MTG di Bulukumba ini, peserta pelatihan cukup beragam, terdiri dari petani hutan rakyat – dari 7 (tujuh) kecamatan di Bulukumba, yitu: Herlang, Bonto Tiro, Rilau Alle, Gantarang, Ujung Loe, Kindang, Bulukumpa, penyuluh kehutanan, pengusaha sawmill dan polisi hutan.

Sementara para nara sumber pelatihan MTG berasal dari peneliti-peneliti sosial ekonomi BPKM yang telah mumpuni menerima transfer ilmu MTG, langsung dari pakarnya yaitu Rowan Reid. Kegiatan ini terlihat cukup berhasil dari jumlah peserta yang hadir serta antusiasme peserta pelatihan yang berlangsung hingga sore hari.

Pesertapun banyak yang mengapresiasi kegiatan pelatihan MTG ini dengan mengatakan bahwa sebagai petani hutan rakyat, mereka sangat membutuhkan pelatihan-pelatihan seperti pelatihan MTG ini yang sangat bermanfaat bagi mereka, petani hutan rakyat.

Yang menarik lainnya adalah dalam pelatihan ini, cukup banyak peserta wanita yang cukup mendapat apresiasi oleh banyak pihak.

Petani hutan rakyat, untuk perbaikan pengelolaan hutan rakyat di masa depan dan untuk tingkat kehidupan masyarakat yang lebih baik dari sektor kehutanan, the decision is yours now (Keputusan ada di tangan anda).

Semoga bermanfaat.

Mei 2015

@kangbugi

[Foto-foto koleksi pribadi]

Dimuat secara lengkap di: http://www.kompasiana.com/bugisumirat/mtg-pelatihan-petani-hutan-rakyat-sangat-diperlukan-untuk-petani-pembelajaran-dari-bulukumba-sulawesi-selatan_555bd39af09273d70ef9f88f

Peneliti Litbang Kehutananpun belajar dari Jokowi

Dalam kunjungan kerjanya di kantor Balai Penelitian Kehutanan Makassar (BPKM) beberapa waktu lalu (13/10/2014), Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Prof. San Afri Awang, menekankan beberapa hal penting yang  perlu menjadi perhatian peneliti khususnya lingkup BPKM.

Yang pertama adalah,”Peneliti itu harus banyak melakukan kegiatan membaca – meneliti atau membuat gagasan – serta menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan.”

Selanjutnya Kepala Badan juga menekankan,”Peneliti itu harus bisa Bahasa Inggris, harus bisa ngomong Inggris.”

Lantas apa hubungannya dengan Presiden Jokowi?

Pada hari kamis beberapa waktu lalu, dalam kegiatan TiMTEng (Thirty Minutes Talking in English) di ruang Kelompok Peneliti Sosial Ekonomi Kehutanan (Kelti Sosek) BPKM, peserta TiMTEng mencoba menelaah pidato Presiden Joko Widodo – yang diunggah dari youtube.

Kegiatan ini sebagai implementasi dari tugas peneliti seperti disampaikan Kepala Badan di atas.

Yang dilakukan adalah menelaah dengan cara memperhatikan dan membahas pidato Presiden Jokowi tersebut. Presiden menyampaikan pidatonya dalam bentuk presentasi itu dihadapan sekitar 1500 Chief Executive Officers (CEO). CEO-CEO tersebut merupakan peserta pertemuan puncak Asia -Pacific Economic Cooperation (APEC) CEO Summit yang diselenggarakan di Beijing, China pada tanggal 13/10/2014 lalu.

Hasil penting dari telaahan peserta TiMTEng antara lain seperti diungkapkan salah seorang peserta, yaitu Ramdana Sari atau Wiwik, peneliti dari Kelti Silvikultur yang menyatakan,”Pidato pak Jokowi sama dengan prinsip-prinsip mengkomunikasikan ilmu pengetahuan (sain), yaitu ABC.” Wiwik menyandarkan pendapatnya itu kepada pendapat dalam buku yang ditulis Malmfors, et al. (2005) yang berjudul Writing and Presenting Scientific Papers.

Dalam bukunya itu, Malmfors menyatakan bahwa dalam mengkomunikasikan sain, perlu memperhatikan tiga hal utama, yaitu ABC. A untuk (accurate) akurat dan Audience-adapted: menyesuaikan dengan audiens yang dihadapinya/targetnya; B (Brief) untuk singkat – hindari penggunaan kata-kata yang tidak perlu, serta C (Clear) yaitu jelas.

Dalam presentasinya, walau bukan presentasi ilmiah, Presiden Jokowi telah mempraktekan prinsip ABC tersebut, dalam rangka ‘mendiseminasikan’ Indonesia kepada pihak luar, audiensnya (para CEO APEC). Serupa dengan apa yang ada dalam dunia penelitian, hasil-hasil penelitian pun perlu didiseminasikan.

Diseminasi hasil penelitian telah diakui pula oleh Kepala BPKM, Ir. Misto, MP, sebagai hal yang penting, terutama dalam menaikkan peran institusi riset, seperti BPKM (07/11/2014).

Hasil telaahan lain dari peserta TiMTEng terhadap pidato Presiden Jokowi yang berguna sebagai media pembelajaran, terutama bagi para peneliti dalam melakukan kegiatan mendiseminasikan hasil-hasil penelitiannya, adalah: -          Bahasa Inggris yang digunakan adalah simple English. Bahasa Inggris yang sederhana, mudah dimengerti tapi tepat sasaran (straight to the point), bukan Bahasa Inggris yang berbunga-bunga ataupun yang sulit.

Kembali kepada nasihat Kepala Badan – “agar peneliti harus bisa ngomong Inggris“, untuk peneliti yang dituntut melakukan presentasi dalam Bahasa Inggris, presentasi Presiden Jokowi dapat dijadikan contoh.

Presentasi yang dimuat dalam bentuk power point ini mengambil format mengikuti prinsip-prinsip komunikasi populer, yaitu penting, menarik dan relevan – serta sangat memperhatikan unsur latar belakang audiens.

Secara lebih luas, hal-hal terkait komunikasi populer telah dibahas baru-baru ini dalam pelatihan menulis populer yang diselenggarakan oleh FORDA bekerjasama dengan CIFOR (29/10/2014) (info lengkap dapat dilihat pada link berikut: http://balithutmakassar.org/forda-dan-cifor-bekerjasama-gelar-pelatihan-penulisan-artikel-populer/).

Hal lain, Presiden Joko Widodo sangat memperhatikan efisiensi waktu presentasi. Presentasi yang sangat ABC tersebut, hanya membutuhkankan waktu sekitar tiga belas menit saja, tidak lebih.

Sementara kita seringkali menjumpai pemateri-pemateri yang tidak menggunakan waktu presentasinya secara efisien. Moderator telah mengingatkan waktu presentasi telah berakhir, namun masih banyak hal-hal prinsip yang belum disampaikan oleh si pemateri.

Terlepas dari isi atau konten presentasinya, cara Presiden Jokowi menyampaikan presentasinya di hadapan para CEO APEC, dapat memberikan pelajaran positif terutama bagi para peneliti.

Semoga bermanfaat

@kangbugi

Sudah diposting pula secara lengkap di: http://www.kompasiana.com/bugisumirat/peneliti-litbang-kehutananpun-belajar-dari-jokowi_54f3ba56745513932b6c7ebc

Green Hospital Blogging competition: what a sad saga

Green Hospital Blogging Competition nampaknya harus berakhir dengan menyedihkan (what a sad saga). Hal ini akibat dari minimnya rasa tanggung jawab (malah kalau boleh dibilang tidak ada) pihak RSUD Daya Kota Makassar didalam menyelesaikan hak dan kewajiban para peserta lomba Green Hospital. Apalagi terhadap para pemenang yang sudah jelas apa saja hadiah yang harus diterimanya, dan hadiah-hadiah tersebut sudah ada peruntukkannya dan sudah diadakan, tinggal diserahkan oleh pihak RSUD Daya Kota Makassar.

Ini bermula dari terjadinya pergantian pimpinan di RSUD Daya Kota Makassar. Program Green Hospital direncanakan dan dicanangkan pada saat pimpinan RSUD Daya Kota Makassar masih dipimpin oleh dr. St Saenab, M.Kes. Beliaulah penggagas dan penyemangat kegiatan Green Hospital di rumah sakit tersebut. Penggantian beliau terjadi pada saat kegiatan Green Hospital sedang berjalan dan mendekati tahap akhir penerimaan tulisan dari para peserta lomba. Pengganti beliau, rupanya tidak paham dan tidak mengerti tentang kegiatan Green Hospital, terlebih lagi, bahwa penggantinya ini tidak paham (atau tidak mau paham?) bahwa kegiatan ini terkait dengan masyarakat luas. Tidak bisa dihentikan begitu saja, apalagi dengan alasan yang mengada-ada dan tidak jelas. Kegiatan ini memang diselenggarakan oleh institusi lokal (RSUD Daya Kota Makassar) tetapi berskala nasional. Terbukti dari tulisan-tulisan yang masuk dari pelbagai daerah, bukan hanya Makassar.

Terkait dengan masyarakat, tentu kita harus dahulukan kepentingan masyarakat. Menghentikan lomba sebelum waktunya, menunda-nunda penyerahan hadiah hingga waktu yang tidak jelas, merupakan pengabaian terhadap penuntasan kewajiban terhadap masyarakat. Sehingga, seperti yang sudah saya sarankan, seharusnya pihak Rumah Sakit Daya bisa menunjukkan apresiasinyaterhadap masyarakat yang telah bersusah payah berpartisipasi didalam kegiatan Green Hospital ini.

Linihijau adalah pihak yang dimintakan bantuan oleh RSUD Daya Kota Makassar untuk membantu mengelola kegiatan Green Hospital Blogging Competition. Kami merasa aneh pula dengan sikap RSUD Daya ini yang sepertinya tidak bermasalah dengan akibat dari pengabaian-pengabaian yang telah dilakukannya, tidak bermasalah dengan potensi tercorengnya nama RSUD Daya akibat ‘ulah’nya sendiri.

Kami sudah banyak memberikan masukan terhadap pihak RS Daya, namun, nampaknya apa yang kami lakukan adalah bak meludah ke langit. Kami pun diabaikan.

Melihat pengabaian tersebut, kami – dengan surat bertanggal 5 September 2013 – telah menarik diri dari membantu & mendukung kegiatan ini. Kami serahkan kembali semua tanggung jawab (yang sudah memang sepantasnya) yang tadinya dibebankan kepada pihak Linihijau, kembali kepada pihakl RS Daya. Kami sangat prihatin melihat kondisi seperti ini, tetapi RSUD Daya Kota Makassar sepertinya tetap bergeming dengan sikapnya dan memilih ‘berhadapan’ dengan masyarakat.

Dibagian bawah dari postingan ini, kami sertakan isi surat terakhir yang kami kirimkan kepada pihak RS Daya, tentang progres kegiatan Green Hospital Blogging Competition selama ini. Kami masih berharap agar pihak RS Daya dapat mempertimbangkan untuk dapat mengambil keputusan  bijak terkait permasalahan ini, minimal dengan memenuhi hak-hak para pemenang lomba dengan menyerahkan hadiah-hadiah yang sudah menjadi hak para pemenang.

Kepada para peserta lomba dan pemenang, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya karena kami tidak dapat ‘mengawal’ kegiatan ini dengan baik hingga batas waktu sesuai dengan tata waktu yang telah direncanakan dan mohon maaf pula karena kami tidak berhasil meyakinkan pihak RSUD Daya Kota Makassar agar mau memenuhi kewajibannya yang sudah sangat jelas merupakan tanggung jawab pihak RSUD Daya Kota Makassar.

Demikian yang dapat kami sampaikan.

Terima kasih

@kangbugi

Lampiran: Surat terakhir yang kami kirimkan untuk Direktur RS Daya.

Makassar, 20 September 2013

Nomor     : 10/IX/I/LH/2013

Lampiran : 1 berkas

Perihal     : Laporan Lengkap

Kepada Yth.,

Ibu Direktur RSUD Daya

Di

Tempat

Dengan hormat,

Bersama ini kami menyampaikan laporan terkait dengan kegiatan Lomba Green Hospital. Adapun  laporan ini merupakan rangkaian dari laporan-laporan sebelumnya yang sudah kami kirimkan kepada RSUD Daya kota Makassar yaitu pada tanggal sebagai berikut:

  1. Laporan pelaksanaan kegiatan pertama telah dikirimkan pada tanggal 13 Juni 2013 (seperti terlampir).
  2. Laporan pelaksanaan kegiatan kedua telah dikirimkan pada tanggal 2 Agustus 2013 (seperti terlampir).
  3. Laporan pelaksanaan kegiatan ketiga telah dikirimkan pada tanggal 5 September 2013 (seperti terlampir).

Dari laporan-laporan yang kami kirimkan tersebut, tidak ada satupun yang mendapat tanggapan dari pihak RSUD Daya Kota Makassar, sehingga kami, selaku pihak yang diminta bantuan untuk menyelenggarakan lomba Green Hospital ini menjadi bingung, sebetulnya kegiatan ini milik dan tanggung jawab siapa. Seolah-olah, kami lebih bertanggung jawab dari yang berkepentingan itu sendiri (RSUD Daya).

Namun demikian ada beberapa hal yang patut diperhatikan dan akan saya utarakan disini, yaitu:

  • Bahwa di awal kegiatan lomba Green Hospital, dengan disosialisasikan kegiatan lomba Green Hospital ini, melalui website RSUD Daya (rsudaya.org – dengan taglinenya: ‘towards the green hospital in Indonesia‘ – menuju Green Hospital di Indonesia)  dan website-website lain seperti: Kompasiana, Blogdetik, Linihijau, blog-blog pribadi dan ditambah dengan jalur facebook dan twitter, kegiatan ini telah berhasil melakukan sosialisasi tentang Green Hospital terhadap kurang lebih 3700an orang/pembaca (data sampai dengan tanggal 3 Juli 2013), dan jumlah ini terus bertambah dari waktu ke waktu (bukti terlampir). Walau dukungan dari RSUD Daya itu sendiri tidak signifikan dengan gencarnya proses sosialisasi Green Hospital seperti yang telah direncanakan, seperti misalnya: Tidak dipasangnya spanduk yang sudah dibuat sebagai bentuk sosialisasi bagi masyarakat di sekitar RSUD Daya; tidak disebarluaskannya poster-poster tentang lomba Green Hospital ini yang telah dicetak; tidak dikirimkannya pemberitahuan tentang pelaksanaan kegiatan ini melalui email ke media massa maupun institusi-institusi terkait seperti yang sudah disampaikan; tidak dilakukan update informasi terhadap kegiatan Green Hospital yang telah dilakukan oleh RSUD Daya selama ini melalui website yang telah disediakan (seperti dikeluhkan oleh banyak peserta lomba – sangat minimnya informasi yang bisa diperoleh dari website RSUD Daya – terkait kegiatan Green Hospital yang telah dilakukannya).
  •  Namun demikian, walau dengan keterbatasan kondisi seperti telah disebutkan di atas, dalam lomba ini telah berhasil menjaring sebanyak 73 buah tulisan tentang Green Hospital (keseluruhan tulisan yang masuk berjumlah diatas seratus tulisan, tetapi setelah diseleksi dengan kesesuaian peraturan lomba, maka dapat terjaring sebanyak 73 buah tulisan. Dari 73 tulisan ini dipilih 3 pemenang – juara 1 s/d 3 serta 17 tulisan pendukung lainnya untuk dapat disusun menjadi sebuah buku tentang Green Hospital). Rata-rata tulisan yang masuk (baik dimuat dalam tulisan-tulisan tersebut, maupun melalui media lain berisi pula apresiasi mereka, penghargaan mereka terhadap upaya yang telah dilakukan oleh RSUD Daya didalam mensosialisasikan Green Hospital. Dan mereka mengapresiasi pula bahwa RSUD Daya-lah sebagai rumah sakit pertama di Indonesia yang peduli akan pentingnya memperhatikan lingkungan di lingkungan rumah sakit (Green Hospital).
  • Tanggapan-tanggapan yang muncul sangatlah positif terkait dengan kegiatan Green Hospital ini, hanya saja, nampaknya kegiatan ini harus berakhir anti klimaks. Sejak saya mendapat pemberitahuan tentang keinginan RSUD Daya (melalui drg. Nona) untuk memundurkan proses lomba ini hingga waktu yang tidak ditentukan (dikatakan oleh drg. Nona  s/d sekitar bulan Oktober) serta dengan alasan yang tidak dimengerti. Terkait dengan rencana ini saya sudah mengajukan beberapa pertimbangan melalui laporan saya tertanggal 2 Agustus 2013, tentang kemungkinan akibat buruk yang mungkin timbul bagi RSUD Daya jika perlombaan diperpanjang tanpa batas waktu yang jelas, karena proses sudah terpampang dengan jelas dimana jadwal tersebut telah disetujui oleh pihak RSUD Daya. Mengingat laporan yang saya sampaikan tidak ditanggapi, saya berusaha ‘memperlama’ sedikit prosesnya. Dan betul saja, penundaan yang belum seberapa itu mendapat respon yang kurang baik, terutama dari peserta lomba. Mereka semua sudah merasa antusias untuk mengetahui siapa pemenangnya dan hingga menjadi buku. Mulailah dampak buruk itu bermunculan. Kata-kata yang kurang pantas didengar bermunculan melalui twitter, website maupun blog, yang pada umumnya menyatakan kebingungan, kekecewaan, dan perasaan dilecehkan oleh RSUD Daya terhadap profesi penulis, bahkan ada yang berniat melakukan somasi. Beberapa pertanyaan (yang nadanya tidak terlalu kasar) yang bisa dikutip seperti tertera dalam lampiran. Inilah anti klimaks yang terjadi, diawal lomba/sosialisasi, nama RSUD Daya mengemuka dengan apresiasi terhadap kegiatan Green Hospitalnya, namun di penghujung lomba, nama RSUD Daya tercoreng dengan sikapnya sendiri.
  • Melihat desakan yang muncul, yang semakin deras, para juri merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut, terutama tidak mau dianggap melecehkan profesi penulis dengan mengulur-ulur jadwal pengumuman tanpa alasan yang jelas, akhirnya para juri menyerahkan wewenang tersebut kembali kepada pihak RSUD Daya yaitu agar pihak RSUD Daya dapat sesegera mungkin mengumumkan nama-nama pemenangnya secara resmi kemudian memberikan hadiah yang sudah disiapkan dan memang sudah menjadi hak para pemenang itu. Penyerahan ini disampaikan melalui email dan website resmi RSUD Daya. Dengan upaya ini, para juri membebaskan diri  dari tanggung jawab moral yang tidak semestinya.
  •  Semoga pihak RSUD Daya dapat secara bijak menyelesaikan persoalan ini, dimana permintaan penyerahan hadiah serta proses selanjutnya seperti yang sudah dijanjikan terus bermunculan (beberapa komentar seperti dalam kutipan terlampir).

Demikian penyampaian kami, semoga dapat dijadikan perhatian.

Terima kasih atas perhatiannya.

Hormat saya.

ttd

Bugi Sumirat

(Founder/Chief on Board)

 

Tembusan, disampaikan kepada Yth.,

  1. Bp. Walikota Kota Makassar, di Makassar
  2. Bp. Sekretaris Daerah Kota Makassar, di Makassar

 

petaslider

Green hospital in Makassar and blogging competition

Do you believe that far away from the capital city of Indonesia, in eastern part of Indonesia, in Makassar city (the capital of South Sulawesi Province, Indonesia), there is a hospital namely RSUD Daya Kota Makassar (RSUD – Rumah Sakit Umum Daerah – Daya General Hospital) that has targeted themselves to be serious to implement ‘Green Hospital’ concept in hospital area.

Located in Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 14, Daya, Makassar, Daya hospital stood around Daya intersection – in the middle of a very crowded traffic. However, its new building and color (the hospital has been painted mostly with green color).

There is the one need to be appointed to have responsibility for all efforts related to the Green Hospital activities she is Dr. Siti Saenab, M. Kes., the Director of RSUD Daya. Of course, she is not working alone. Supported by RSUD Daya Green Hospital team – led by Dr. Iriany Ridwan, the RSUD Daya Deputy Director and other team members, they try to fulfill Green Hospital in all sectors in RSUD Daya. Are they all expert in Green Hospital?

“No, we are not expert at all at Green Hospital concept, we only have a little knowledge of Green Hospital but has a huge motivation to learn and to make our dreams come true, to incorporate Green Hospital concept to RSUD Daya environment.” said Dr. Saenab.

“But in full speed. that’s why I requested Linihijau to help RSUD Daya to  hold an event entitled: “GREEN HOSPITAL BLOGGING COMPETITION.” She added.

Blogging competition?

Yes. Daya hospital is working with Linihijau to create an event related to Green Hospital concept that will be able to attract more people to seek their perspective on Green Hospital from their point of view. Blogging competition is the option. By this competition, people is requested to put their awareness of their environment, including hospital, by writing it in their blog and then join this competition.

The sequel of this blogging competition will end by providing a BOOK – bilingual book, based on 20 the best bloggers’ articles of Green Hospital, and their blog and re-submitted to Daya hospital website (rsudaya.org).

Interesting, isn’t it? Please check out at the competition timetable:

a. Socialization of Blogging Competition to community (May 31th, 2013)

b. Launching of Blogging Competition (May 27, 2013)

Cheers,

Bugi

 

 

 

 

Buku Hitam Putih Bogor

Linihijau mendukung buah pikir Blogger-Blogger Bogor

1360034334380

Buku Hitam Putih Bogor

 

Satu kalimat yang saya lupa bersumber darimana, tetapi saya dapatkan di wall facebook saya (jika ada yang mengetahui tolong kami diinformasikan untuk kepentingan ‘quote’) yang berbunyi:

 

Writing is thinking, rather than simply typing

 

Menulis itu adalah proses berpikir, bukan hanya sekedar menulis. Setujukah anda? Saya setuju sekali terhadap pernyataan tersebut. Ya, menulis adalah proses berpikir.

Berpikirartinya kita tahu apa yang kita pikirkan, kita mencoba menganalisa mengapa kita pikirkan, kita mencoba mengumpulkan unsur-unsur yang mendukung mengapa kita memikirkan hal tersebut, kemudian kita menganalisa pikiran kita, dan kita membandingkan dengan pikiran-pikiran sejenis di sekitar kita hingga kita bisa mengambil kesimpulan dari apa yang kita pikirkan itu.

Proses berpikir di atas yang terjadi selama kita menulis, merangkaikan huruf-huruf menjadi kata dan kata-kata menjadi kalimat. Kalimat berlanjut menjadi paragraf dan seterusnya sehingga menjadi sebuah tulisan – dengan diberikan bobot proses berpikir tersebut.

Maka, menulis tidak hanya sekedar merangkai kata-kata tanpa maksud tetapi sebaliknya, menyampaikan maksud dalam untaian rangkaian kata-kata. Menyampaikan ide dan buah pikir untuk dibagikan kepada para pembacanya.

Bekerja sama dengan Komunitas Blogger Bogor, Linihijau mendukung penerbitan buku kedua Komunitas ini yang diberi judul:

Hitam Putih Bogor (Bogor, an insight from different angle)

Ups … ada judul bahasa Inggrisnya?

Ya, bukan sekedar terjemahan dari judul buku Hitam Putih Bogor, tetapi memang keseluruhan buku ini, setengahnya berbahasa Inggris. Setiap artikel didalam buku ini dibuatkan terjemahannya dalam bahasa Inggris, termasuk daftar isi, kata pengantar hingga sambutan Bapak Walikota Bogor.

Seperti kata ketua Blogger Bogor periode 2010-2012 dalam pengantar buku tersebut, meng-English-kan buku itu bukan untuk keren-kerenan, tetapi sebagai salah satu upaya meningkatkan kapasitas blogger-blogger yang tergabung dalam Blogor, memberi nilai tambah kepada buku itu serta sebagai wahana untuk merambah ranah internasional.

Saya pernah mendengar di salah satu event untuk para blogger yang diadakan di Jakarta di tahun 2012, ada seorang blogger – asal Thailand – yang tertarik pada salah satu stand komunitas blogger yang sudah menghasilkan beberapa buku – dan buku-buku tersebut dipajang di pameran tersebut. Blogger asal Thailand ini terlihat membolak-balikkan buku dan seperti ragu-ragu, untuk memberi atau tidak buku itu karena for sure, ia tidak mengerti isi buku itu karena tertulis seluruhnya dalam bahasa Indonesia – dan ia tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali. Tetapi akhirnya blogger asal Thailand itu membeli salah satu buku karya blogger Indonesia yang terpampang di pameran – entah hanya sebagai bentuk motivasi (karena blogger-bloggerpun dapat menerbitkan buku), entah sebagai bentuk solidaritas sesama blogger. Ah, andai buku itu ber-dwi bahasa, tentu buku itu akan lebih bermanfaat lagi baginya.

Itulah alasan mengapa Linihijau bersemangat bekerja sama dengan komunitas Blogger Bogor menerbitkan buku Hitam Putih Bogor dalam dua bahasa: Indonesia – Inggris.

Kembali kepada awal tulisan di atas, buku ini merupakan rangkaian buah pikir karya barudak (Sunda: anak-anak) Blogger Bogor yang layak disajikan kepada khalayak umum. Terlihat ringan jika dibaca, tetapi sebetulnya memerlukan upaya keras untuk menyajikan buku yang sepertinya ringan tetapi sebetulnya memiliki muatan serius, seserius proses menulisnya, pemuatannya di blognya masing-masing hingga proses penyusunannya menjadi sebuah buku – buku yang layak dibaca dan bermanfaat.

“keren abiz”,

“ringan – mudah dimengerti dan enak dibaca”,

“hebat euy ada bahasa Inggrisnya”,

Itulah beberapa komentar mereka yang baru memiliki buku ini dan membacanya, dan Linihijau sangat bangga dapat berpartisipasi mendukung penerbitannya.

[catatan: bagi mereka yang ingin memiliki buku ini, silahkan hubungi penerbit Leutikaprio di www.leutikaprio.com, maupun sms ke nomor: 081904221928]

 

Leadership Required: Ensuring Local Communities Benefit from Climate Finance

Source: Blog RECOFTC

A vicious cycle exists in the financing of climate change activities. So said Myrna Cunningham, president of the UN Permanent Forum on Indigenous Issues, during the opening session of the 2012 Climate Investment Fund Partnership Forum in Istanbul, Turkey (November 6-7, 2012). Financiers of climate compatible development activities, particularly the private sector, require deliverables to be met and view the limited capacity typical of rural communities as reasons to circumvent them and engage with ‘higher capacity’ actors. The opening session of the Forum underscored the need for climate financing investments, by banks and by the private sector, to be profitable.

to continue reading, please visit: http://recoftc.wordpress.com/2012/11/09/leadership-required-ensuring-local-communities-benefit-from-climate-finance/

Social approach for forestry development in Indonesia is a requirement to increase community welfare

The title above is adequately long. It intended to emphasise the main concern need to be put in Forestry sector, i.e.; community welfare, Forestry development and sociology approach.

In the Research Expose Seminar that was held by FORDA Makassar (Balai Penelitian Kehutanan Makassar) at Swiss-Bel Inn, Makassar – 28 June 2012, under the seminar theme: the Role of Science and Technology for Forestry Development and Community Welfare in Wallace region, I delivered paper presentation entitled: Increasing Social Capital of Farmer Forest Groups sustainably. Read More