A series video for celebrating the International Day of Forests

Author Archives : @kangbugi

A series video for celebrating the International Day of Forests

These videos had been submitted to @FAOForestry as a small contribution from some Indonesian Foresters to celebrate the International Day of Forests 2017 under hastags #loveforests and #intlForestDay

First video:

IFRAME Embed for Youtube

Second video:

IFRAME Embed for Youtube

Third video:

IFRAME Embed for Youtube

Fourth video:

IFRAME Embed for Youtube

Fifth video:

IFRAME Embed for Youtube

Sixth video:

IFRAME Embed for Youtube

Note:

All actor in those videos are researchers from Balai Penelitian Kehutanan Makassar (Environment and Forestry Research and Development Institute of Makassar)

#loveforests

Herewith would like to share the video compiled by @FAOForestry regarding the Internal Day of Forests. The compiled video is a compilation expression on celebrating the #IntlForestDay from all over the world and my video is one of it. Please have a look in the link below – #loveforests #intlForestDay:

IFRAME Embed for Youtube

or

<blockquote class=”twitter-video” data-lang=”en”><p lang=”en” dir=”ltr”>Thanks to all who made a video for the <a href=”https://twitter.com/hashtag/LoveForests?src=hash”>#LoveForests</a> campaign for International Day of Forests! Here&#39;s a compilation! <a href=”https://twitter.com/hashtag/IntlForestDay?src=hash”>#IntlForestDay</a> <a href=”https://t.co/zcboiXj8zN”>pic.twitter.com/zcboiXj8zN</a></p>&mdash; FAO Forestry (@FAOForestry) <a href=”https://twitter.com/FAOForestry/status/845230262761902080″>March 24, 2017</a></blockquote>
<script async src=”//platform.twitter.com/widgets.js” charset=”utf-8″></script>

 

 

Forest and farm facility. Making a difference

Below is the video that is produced by FAO is talking about making a difference for our forest and forestry by listening to many ideas. Happy watching.

Historical tour destination in Makassar: Japan bunker site

It is in Lakkang delta in Makassar city, South Sulawesi province. You’ll find a Japan bunker. In the vlog in youtube channel below, you’ll find the detail. Happy watching

 

Rumah Menulis Indonesia (RuMI) sudah melesat dari busurnya

Rumah Menulis Indonesia

Hari Ini tanggal 28 Mei 2016 Rumah Menulis Indonesia – RuMI diresmikan sebagai bagian dari keluarga besar Linihijau.

RuMI merupakan sebuah komunitas, yang menekankan kepada pengenalan dan peningkatan kemampuan menulis masyarakat, terutama masyarakat yang ingin menjadi penulis. Output dari upaya ini adalah buku.

Mengapa buku?

Buku, baik dalam bentuk digital maupun konvensional, tetap merupakan salah satu media pencerah bangsa. Indonesia darurat penulis. Indonesia darurat meningkatkan minat baca. Sementara Indonesia tetap ingin menghasilkan generasi yang cerdas dan mencerdaskan.

Untuk itulah RuMI hadir dan dihadirkan.

RuMI sangat menyetujui pendapat yang menyatakan: “if you feel you’re stupid, READ BOOKS. If you think you’re smart, READ MORE BOOKS.”

Lalu pertanyaannya, sudahkah kita memiliki cukup penulis? Penulis-penulis untuk berkontribusi kepada apa yang telah disebutkan di atas.

RuMI memiliki moto atau tagline: writing for fun, for sharing and for being knowledgeable.

Diharapkan RuMI dapat menghasilkan penulis-penulis yang memiliki soul dalam menulis agar sesuai pula dengan ungkapan yang disampaikan oleh cendekiawan Muslim, Jalaludin Rumi yang menyatakan,”when you do things from your soul, you feel a river moving in you, a joy.”

Tiada tujuan besar tanpa langkah awal untuk memulainya. Hari Ini Linihijau mencoba membuktikannya, dengan melahirkan RuMI. Melesatkan RuMI dari busur panah Linihijau.

Semoga kehadirannya benar-benar bermanfaat. Sekali lagi selamat datang RuMI dan aammiinn YRA untuk harapan-harapan yang disematkan kepada kehadiran RuMI.

28 Mei 2016

@Kangbugi

Brosur RuMI dapat diunggah di sini.

Indahnya Menginspirasi, Indahnya Berbagi, Indahnya Wajah Anak-anak Itu

Indahnya alam Kabupaten Toraja Utara yang dinikmati oleh para relawan sepanjang perjalanan pergi dan pulang menuju dan dari lokasi pelaksanaan Kelas Inspirasi Toraja Utara sangat memukau.

Memukau keindahannya, memukau keunikannya. Menambah rasa syukur kita kehadirat Sang Maha Pencipta.

Terlebih, keindahan itu dinikmati saat kita akan memberikan keindahan pula kepada anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) melalui Kelas Inspirasi, tepatnya Kelas Inspirasi Toraja Utara yang baru dilaksanakan untuk kali pertama ini (KITorut1)  (liputan tentang pra pelaksanaan KITorut1 dapat dilihat di sini).

Pelaksanaan KITorut1 itu sendiri dilaksanakan pada hari Senin, 14 Maret 2016.  Ratusan relawan KITorut1 yang telah mengikuti briefing di Ruang Pola kantor Bupati Toraja Utara pada hari Sabtu, 12 Maret 2016 bersiap menginspirasi anak-anak usia SD di hari Senin pagi itu.

Mereka yang terbagi ke dalam 13 (tigabelas) kelompok yang tersebar di 13 sekolah dari 8 (delapan) kecamatan di Kabupaten Toraja Utara ini terlihat bersemangat berangkat menuju lokasi sehari sebelumnya, yaitu hari Minggu, 13 Maret 2016.

Ada yang berangkat dengan naik truk, rental mobil hingga berkendaraan motor. Tidak semua berjalan lancar, ada yang terjebak lumpur becek hingga perlu didorong, maklum malam hari sebelumnya, Toraja Utara diguyur hujan lebat.

Namun situasi demikian tidak menyurutkan semangat para relawan, termasuk mereka yang mendapat lokasi di kecamatan yang tidak terdapat aliran listrik.

Relawan-relawan yang jumlahnya ratusan dan datang dari berbagai latar belakang profesi maupun asal tempat tinggal tersebut disebar dengan SD tujuan seperti dalam daftar berikut ini (sumber: mbak Ambun Bara’ Allo):

1. SDN 3 Kec. Buntao’, fasilitator relawan: Risa,

2. SDN 5 Kec. Rantebua, fasilitator relawan: Kanor,

3. SDN 5 Kec. Rindingallo, fasilitator relawan: Sastika Latika,

4. SDN 1 Kec. Sopai, fasilitator relawan: Eka,

5. SDN 10 Kec. Sa’dan, fasilitator relawan: Rony Salinding & Ucu’,

6. SDN 5 Kec. Kapalapitu, Fasilitator relawan: Cahaya Yahya & Ni Nyoman Anna M,

7. SDN 2 Kec. Rindingallo, fasilitator relawan: Ambun Bara’ Allo,

8. SDN 3 Kec. Bangkelekila’, fasilitator relawan: Djasriel Cido Ido, Vicky Yusuf & Thomas Lembang,

9. SDN 6 Kec. Kapalapitu, fasilitator relawan: Hernita Rantepasang,

10. SDN 9 Kec. Sopai, fasilitator relawan: Ahmæd Rianto Tarawen,

11. SDN 7 Kec. Rantebua, fasilitator relawan: Carlos Pongtambing, Manaek Bara’ Allo & Inno Angga,

12. SDN 6 Kec. Sesean Suloara’, fasilitator relawan: Zulkifli Sukarta,

13. SDN 4 Kec. Rantebua, fasilitator relawan: Yabes & Aurina Kumizaiko.

Di lokasi pelaksanaan Kelas Inspirasi, mereka menginap di rumah penduduk ataupun di wisma, tergantung dari ketersediaan akomodasi di tempat tujuan.

Apapun itu, tidak ada guratan kekecewaan yang muncul dari para relawan, ‘they enjoyed ‘the party’ though‘, seperti seliweran foto-foto keriangan dan kegembiraan yang muncul di akun facebook dengan hastag #KITorut1.

Saya sendiri (profesi: peneliti Sosiologi Kehutanan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan – Balai Penelitian Kehutanan Makassar) tergabung ke dalam tim 3, yang dikomandani mbak Sastika Latika, bersama beberapa relawan lainnya yaitu: mbak Mery Sita (profesi: karyawan BRI Makale) , mbak Nur Hasanah (profesi: fotografer profesional), mas Epon Tambing (profesi: karyawan Pemda Kabupaten Toraja Utara), mas Weldyanto Rusli Tandingan (profesi: karyawan Samsat kota Makale).

Kegiatan ini didukung oleh penyiapan dokumentasi kegiatan yang dilakukan secara ciamik oleh mas Rama Meoly, mas Michael Sancai dan kawan-kawan.

Awalnya masih zero sekali ‘ilmu’ tentang menginspirasi ini. Tidak tahu bagaimana polanya, bagaimana mekanismenya, bagaimana menginspirasi mereka, anak-anak, agar tidak salah dalam menginspirasi.

Boleh kan punya kekhawatiran demikian ya. Tapi untunglah briefing yang diberikan dua hari sebelum pelaksanaan cukup membuat ‘terang’ tentang dimana, apa dan bagaimana proses kegiatan KITorut1 ini. Walau tetap saja ‘nervous’ saat akan menghadapi our little kidos di kelas. Dimana nervous ini lebih kepada bagaimana ‘menghidupkan’ suasana agar menjadi fun buat mereka dan mereka enjoy serta happy saat mendengarkan apa yang kita akan sampaikan, that’s will be a big challenge, bukan hanya terhadap saya, tetapi beberapa peserta lainpun (terutama yang baru mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi ini) mengkhawatirkan hal yang sama.

IFRAME Embed for Youtube

Video si Otan di Youtube: https://youtu.be/kpve_tgeuhY

Yang pasti, di kegiatan KITorut1 ini saya ditemani oleh si Otan, boneka tangan (hand puppet) Orang Utan, yang belakangan ini kerap menjadi teman baik saat saya melakukan kegiatan mendongeng.

Si Otan akan menjadi teman bagi anak-anak tersebut dalam mendengarkan apa profesi yang saya jalani sekarang ini.

Kenervous-an kami pun berkurang banyak dengan baiknya pelaksanaan kegiatan KITorut1 ini yang ditunjukkan dengan baik dan tertibnya panitia-panitia KITorut1 dalam membantu serta memfasilitasi para relawan pengajar untuk melakukan kegiatan kerelawanannya. Para relawan menjadi sangat terbantukan sekali. Mereka humble dan warm dalam membantu/memfasilitasi para relawan pengajar/fotografer dan videografer ini.

Namanya juga relawan, segalanya diambil dari kocek sendiri, jadi tidak ada kata rugi di sini. Makan bayar sendiri, transport bayar sendiri, akomodasi bayar sendiri, tapi kami enjoy-enjoy saja tuh. Padahal tidak sedikit yang merogoh koceknya untuk digunakan untuk transport dari tempat yang jauh.

Sebut saja misalnya relawan dari Papua, Jakarta, wilayah Sumatera dan lain sebagainya. Termasuk panitia lokal yang telah melaksanakan survei lokasi, persiapan dan lain sebagainya sejak jauh-jauh hari agar pelaksanaan KITorut1 ini dapat berlangsung sukses dan lancar.

Tapi ‘panggilan menginspirasi’ itu memang mengalahkan segalanya.

Saya yakin mereka dan kita, ikhlas dan bahagia melaksanakannya.

Bukan begitu?

Karena memang tidak semua dapat berpikiran dan berpandangan seperti itu. Contohnya saat saya bercerita kepada seorang rekan sekerja tentang apa dan bagaimana itu Kelas Inspirasi, serta betapa enjoy dan happynya saya bisa berpartisipasi dalam kegiatan KITorut1 ini.

Pertanyaan pertama yang keluar dari bibirnya adalah,”Siapa yang bayar? Siapa sponsornya?” Ketika saya jawab bahwa sebagai relawan kami tidak dibayar bahkan kami merogoh kocek kami untuk itu, secara otomatis, iapun berkomentar,”Wah …. rugi dong kalau begitu … !” Saya hanya merespon,”Yah … tergantung dari sisi mana sih kita melihatnya pak.

Kalau buat saya, saya malah merasa beruntung, bukan rugi. Insya Allah bisa dicatat menjadi salah satu amal saya nantinya.” Mungkin dia makin bingung ya mendengar jawaban saya hehehe tapi … EGP deh hehe.

To be honest, pengalaman mengikuti Kelas Inspirasi Toraja Utara kemarin ini, yang merupakan pengalaman pertama saya mengikuti Kelas Inspirasi, buat saya, tidak merugikan, bahkan menguntungkan.

Menguntungkan karena saya hanya mendapatkan dan hanya mendapatkan yang indah-indah saja.

Indah saat bertemu teman-teman sesama relawan yang baru, yang tidak saya kenal sebelumnya, tetapi kemudian menjadi kenal bahkan terjalin networking yang baik setelahnya. Berarti kita telah menjalankan yang diperintahkan agama, yaitu menjalin tali silaturahmi.

Indah saat berbagi menginspirasi anak-anak kita di SD nun jauh di sana. Mengikuti upacara bendera bersama mereka, melihat bagaimana mereka, sebagian, berpakaian sederhana (ada yang pakai sepatu, ada yang pakai sendal, bahkan ada yang tidak mengenakan alas kaki sama sekali) namun tetap memperlihatkan semangatnya, antusiasmenya mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi ini.

Indah saat melihat bagaimana mereka menjadi begitu akrab dengan kita – para pengajar – yang tidak pernah dikenal sebelumnya, bahkan bertemupun belum pernah. Bercanda bersama, bernyanyi bersama, tertawa bersama. Bahkan di akhir acara, believe it or not, mereka minta tanda tangan kita semua lho…. Ada yang meminta di buku tulisnya ada yang hanya di secarik kertas … wow … so amazing. Sepertinya mereka mengatakan,”melalui tanda tangan ini kami akan mengingatmu.” Ah … don’t worry kids, kami pun akan mengenang moment Kelas Inspirasi ini, forever.

Indah saat melihat mereka sebelum penutupan Kelas Inspirasi, menuliskan cita-cita mereka di selembar kertas kecil berwarna-warni kemudian menggantungkan di ‘pohon cita-cita’ sebagai perlambang bahwa mereka memiliki cita-cita dan memiliki keinginan untuk mewujudkannya. Selamat ya anak-anak.

Keindahan lain adalah saat kami dapat dengan leluasa menikmati keindahan alam Toraja Utara yang indah, seperti telah saya sampaikan di awal tulisan ini. Termasuk kami dapat mengunjungi Pahlawan dari Toraja: Pongtiku.

Apalagi kemudian panitia menempatkan acara evaluasi sekaligus penutupan Kelas Inspirasi Toraja Utara 1 ini di kompleks Tongkonan – rumah-rumah adat Toraja di daerah Sa’dan to’ Barana’ yang indah itu.

Bila demikian yang terjadi, bisakah kita melihat dimana kerugiannya? Kalau saya sih tidak.

Saya bahkan semakin dapat merasakan betapa indahnya berbagi, betapa indahnya dapat menginspirasi, apalagi melihat wajah-wajah mereka, anak-anak itu, semakin indah rasanya.

Semoga bermanfaat,

Makassar, 17 Maret 2016

@kangbugi
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/bugisumirat/indahnya-menginspirasi-indahnya-berbagi-indahnya-wajah-anak-anak-itu_56ea6d9fba9373dc2f536d23

Pemuda Indonesia Harus Berpikiran Jauh ke Depan

Saat briefing persiapan Kelas Inspirasi Toraja Utara yang dilaksanakan hari Sabtu, 12 Maret 2016, Bupati Toraja Utara, Frederik Bati’ Sorring, dalam sambutan yang disampaikan dihadapan relawan pengajar, videografer dan fotografer Kelas Inspirasi Toraja Utara di Ruang Pola Kantor Bupati Toraja Utara menekankan bahwa Kelas Inspirasi  telah mengambil langkah yang jauh ke depan.

Berpikiran jauh melebihi jangkauan pemikiran 20 tahun ke depan. “Apa yang dilakukan Kelas Inspirasi adalah hal yang teramat sangat penting untuk memotivasi munculnya inspirasi-inspirasi pada generasi muda kita, generasi muda Indonesia.” Demikian tambah Frederik.

Hari itu, ratusan relawan pengajar, videografer dan fotografer dari berbagai penjuru tanah air yang terpanggil untuk mengisi kegiatan Kelas Inspirasi Toraja Utara hadir di Ruang Pola Kantor Bupati Toraja Utara untuk memantapkan langkah mereka mempersiapkan diri memberikan inspirasi bagi murid-murid SD di beberapa kecamatan di Toraja Utara.

Di Ruang Pola tersebut, para relawan di beri informasi awal tentang apa itu Kelas Inspirasi, bagaimana menerapkannya saat para relawan itu nantinya terjun langsung di lapangan, apa yang harus dan jangan dilakukan, hingga apa manfaat Kelas Inspirasi bagi para relawan dan terutama bagi para murid-murid SD yang menjadi kegiatan Kelas Inspirasi ini berlangsung.

Relawan-relawan Kelas Inspirasi Toraja Utara Di acara perkenalan para relawan saat briefing tersebut diketahui ternyata sangat beragam latar belakang profesi yang digeluti para relawan. Misalnya: Peneliti, Wira Usaha, Pendeta, Dokter, anggota TNI AL, Pengusaha Perminyakan, Fotografer, Videografer dan lain sebagainya.

Di Toraja Utara, Kelas Inspirasi baru pertama kali ini diadakan yaitu pada tanggal 14 Maret nanti di beberapa kecamatan di Toraja Utara. Carlos, selaku Koordinator Kelas Inspirasi Toraja Utara, saat memberikan sambutan mengatakan bahwa diharapkan para relawan dapat menghayati prinsip dasar Kelas Inspirasi, yaitu “Sekali berbagi, seumur hidup menginspirasi.”

Sebenarnya apa itu Kelas Inspirasi? Kelas Inspirasi merupakan bagian dari gerakan Indonesia Mengajar yang digagas oleh Anies Baswedan.

Tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas pendidikan bangsa.

Kelas Inspirasi, seperti disebutkan dalam modul dikatakan bahwa melalui Kelas Inspirasi: ‘Indonesia Mengajar ingin mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia.

Kelas Inspirasi adalah kegiatan yang memberi pengalaman mengunjungi dan mengajar sehari pada beberapa Sekolah Dasar (SD), dengan muatan informasi dan inspirasi tentang berbagai profesi.

Harapannya, para siswa akan memiliki lebih banyak pilihan cita-cita serta menjadi lebih termotivasi untuk memiliki mimpi yang besar.

Kontak dengan beberapa SD diharapkan dapat berkembang nantinya menjadi lebih banyak gagasan dan kegiatan yang melibatkan kontribusi kaum profesional.’

Mulia kan ya? Insya Allah.

Walau pelaksanaan Kelas Inspirasi hanya dilakukan selama satu hari, ya … sehari saja, tetapi diharapkan akan dapat berkontribusi terhadap inspirasi untuk seumur hidupnya, baik untuk para relawan, maupun para siswa SD yang menjadi tujuan kegiatan Kelas Inspirasi ini.

Sebagai informasi, karena namanya juga relawan, jadi betul-betul kegiatan yang memerlukan kerelaan ‘tingkat tinggi’ mereka (kami) tidak ada yang dibayar lho ….. hanya berkontribusi semaksimal mungkin.

Saya sendiri yang akan berpartisipasi dalam kegiatan Kelas Inspirasi Toraja Utara (masuk kedalam Tim 3 – SD 5 Rindingallo, Kecamatan Rindingallo, Toraja Utara, dengan koordinator tim: Sastika), sudah tidak sabar ingin bertemu mereka, para siswa SD tersebut, dengan harapan bahwa kontribusi saya dapat bermanfaat untuk kedua belah pihak, saya dan mereka, para siswa SD tersebut.

Walau profesi utama saya adalah seorang peneliti di bidang sosiologi kehutanan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tetapi nanti, saat Kelas Inspirasi, saya akan membagikan pengalaman saya dengan profesi lain, yaitu seorang Pendongeng Lingkungan (topik tetap tidak jauh dengan bidang pekerjaan saya: Kehutanan dan Lingkungan Hidup) dengan bantuan our new family member: si Otan.

Moga manfaat.

Toraja Utara, 13 Maret 2016

@kangbugi PS:

Terima kasih untuk para panitia relawan Kelas Inspirasi Toraja Utara yang sudah sangat-sangat ‘berkeringat’ mempersiapkan kegiatan ini. Pengalaman bagaimana praktik Kelas Inspirasi akan disampaikan setelah kegiatan itu berlangsung yaaaa ;)

Foto-foto dalam postingan ini milik: Bugi Sumirat dan Sastika

Telah diposting secara lengkap di: http://www.kompasiana.com/bugisumirat/pemuda-indonesia-harus-berpikiran-jauh-ke-depan_56e4aee8c5afbd7c088b456b

Hutan rakyat dirawat, kualitas kayu lebih baik, petani sejahtera, pembelajaran dari pelatihan MTG di Bulukumba, Sulawesi Selatan

Salah satu alasan dilaksanakannya kegiatan pelatihan MTG (Master TreeGrower) oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Balai Penelitian Kehutanan Makassar (BPKM) pada bulan Mei 2015, seperti dikatakan oleh Kadishutbun Kab. Bulukumba, Ir. Misbawati A. Wawo, MM., bahwa sebagai satu-satunya kabupaten di Indonesia yang menerima, melaksanakan dan menyebarluaskan pelatihan untuk peningkatan kapasitas petani hutan rakyat dengan metode MTG ini, Bulukumba menunjukkan komitmennya untuk meningkatkan taraf hidup petani-petani hutan rakyatnya dari lahan-lahan hutan rakyat yang mereka miliki – dengan memperkenalkan paradigma baru kepada petani hutan rakyat.

Ditahun-tahun ke depan, pelatihan MTG ini akan diupayakan dilaksanakan secara berkelanjutan dan tepat sasaran. Untuk itu Dishutbun Kab. Bulukumba akan terus bekerja sama dengan peneliti-peneliti sosial ekonomi BPKM untuk men-training petani-petani hutan rakyat Bulukumba.

Namun dalam kesempatan penutupan kegiatan pelatihan MTG yang bertempat di areal pengembangan perlebahan di Dusun Takkue, Desa Seppang, Kabupaten Bulukumba, Kadishutbun Bulukumba kembali menyatakan kekhawatirannya jika ilmu-ilmu yang didapat dalam pelatihan ini tidak diaplikasikan oleh petani, petani akan kehilangan kesempatan untuk merawat areal hutan rakyatnya untuk menghasilkan kualitas yang lebih baik lagi. “Tujuan mereka diikutkan dalam pelatihan MTG ini agar mereka dapat meningkat pendapatannya dari kualitas kayu yang lebih baik yang dimilikinya yang tentunya akan membuat harga jual kayunya lebih tinggi, sebagai akibat dari keikutsertaan mereka dalam pelatihan ini.

“Sangat disayangkan jika mereka tidak menyerap ilmu ini dengan baik dan tidak mengaplikasikannya.” Demikian tambah Kadishut Kab. Bulukumba.

Pernyataan Kadishut tersebut beralasan. Terlihat dari masih banyak peserta di hari terakhir kegiatan MTG yang masih ‘gugup’ tentang bagaimana mempraktekan sebagian ilmu MTG ini – terutama dalam hal pengukuran seperti mengukur volume kayu, basal area pohon dan tegakan serta penerapannya untuk menentukan penjarangan pohon.

Namun dengan upaya keras pemateri-pemateri yang juga adalah peneliti-peneliti sosial ekonomi dari BPKM, kekhawatiran dan kegugupan para peserta MTG dapat diminimalisir. Minimal para peserta menguasai dasar-dasar yang perlu diketahui dan dikuasai sebagai seorang petani hutan rakyat yang MTG.

Kepala Dishutbun Kabupaten Bulukumba, yang juga adalah seorang yang ‘concern’ dengan pengembangan lebah madu di Kabupaten Bulukumba ini kemudian berkomitmen akan melakukan penyegaran bagi mereka, (hanya) alumni-alumni MTG yang serius menerapkan MTG di lahan atau kebunnya masing-masing pasca pelatihan.

“Bukan apa-apa, mereka nanti perlu penyegaran karena kan pada akhirnya mereka-mereka juga yang untung, para petani hutan rakyat, bukan kami. Kami, pihak Dishutbun, hanya berusaha memfasilitasi mereka agar meningkat kapasitasnya, menghasilkan kayu yang berkualitas baik dan kelak memiliki harga jual yang tinggi, seperti nyanyian Mars Petani Hutan Rakyat yang sering dinyanyikan selama pelatihan MTG.” Demikian tambah Misbawati, yang juga memiliki lahan hutan rakyat yang sering dipergunakan untuk kegiatan pelatihan serta penelitian, dalam sambutan penutupan pelatihanMTG tersebut.

Mars Petani Hutan Rakyat?

Selama pelatihan, para peserta yang adalah petani hutan rakyat ini diperkenalkan kepada lagu yang berjudul Mars Petani Hutan Rakyat, dengan tagline: ‘Pelihara Pohonmu’. Lagu yang mengadopsi lagu Dimana Anak Kambing Saya ini telah digubah lirik atau syairnya oleh Bugi Sumirat dan Achmad Rizal. Lirik tersebut untuk memotivasi para peserta pelatihan MTG agar dapat mengingat bahwa melalui MTG, mereka diperkenalkan pada paradigma baru bahwa tanaman kehutananpun perlu dirawat (paradigma lama, tanaman kehutanan setelah ditanam tidak memerlukan perawatan sebagaimana tanaman/komoditas pertanian/perkebunan) serta mengapa mereka perlu merawat pohon-pohonnya, merawat hutan rakyatnya.

Syair lengkap lagu Mars Petani Hutan Rakyat tersebut adalah sebagai berikut:

MARS PETANI HUTAN RAKYAT

Pelihara Pohonmu

Diadopsi dari lagu: Dimana anak kambing saya

Syair/lirik: Bugi Sumirat dan Achmad Rizal

Mana dimana meter kayu saya, Meter kayu saya ada dalam kantongku,

Mana dimana gaus kayu saya, Gaus kayu saya juga dalam kantongku.

Kemana kita bawa? Kemana kita bawa? Pasti dibawa ‘tuk pelihara pohon kita.

Knapa-kenapa harus plihara pohon. Harus plihara pohon supaya harga tinggi.

Knapa-kenapa harus plihara pohon. Harus plihara pohon supaya harga tinggi.

Kalau harganya tinggi! Kalau harganya tinggi! Pasti yang untung PETANI  HUTAN  RAKYAT!

Kalau harganya tinggi! Kalau harganya tinggi! Pasti yang untung PETANI  HUTAN  RAKYAT!

Lagu diatas, pelatihan MTG ini, dengan kerjasama yang erat antara Balai Penelitian Kehutanan Makassar dengan Dishutbun Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan merupakan bekal-bekal bagi petani hutan rakyat untuk bertransform menjadi petani hutan rakyat yang MTG, yang mau merubah paradigma lama menjadi paradigma baru: Hutan rakyat perlu dirawat untuk menghasilkan kayu yang berkualitas lebih baik. Kualitas kayu lebih baik, harga jualpun meningkat. Harga jual meningkat, petani hutan rakyatlah yang akan menikmatinya.

Benar demikian, bukan?

Semoga bermanfaat

Mei 2015

@Kangbugi [catatan: foto-foto: koleksi pribadi & Abdul Kadir W]

Telah diposting secara lengkap di : http://www.kompasiana.com/bugisumirat/hutan-rakyat-dirawat-kualitas-kayu-lebih-baik-petani-sejahtera-pembelajaran-dari-pelatihan-mtg-di-bulukumba-sulawesi-selatan_555fe07c719773f9108b4576