Petani hutan rakyat perlu mengenal pasar?

Author Archives : admin

Petani hutan rakyat perlu mengenal pasar?

 

1409175289598023882

Di Yogyakarta, tepatnya di Hotel Inna Garuda, di Jalan Malioboro no. 60, kemarin (27 Agustus 2014) berlangsung pertemuan tahunan kegiatan penelitian yang merupakan kerjasama dua negara – bilateral, antara Indonesia (dalam hal ini berada dalam tanggung jawab Kementerian Kehutanan) dan Australia (dalam hal ini didanai serta dalam tanggung jawab ACIAR – Australian Center for International Agricultural Research).

Kegiatan penelitian ini sendiri dikerjakan secara kolaboratif antar beberapa institusi seperti misalnya:

    • The Australian National University, Canberra, Australia,
    • The University of Melbourne, Melbourne, Australia
    • The University of Queensland, Queensland, Australia
    • Pusat Penelitian Perubahan Iklim dan Kebijakan Kehutanan, yang berlokasi di Bogor,
    • CIFOR (Centre of International Forestry Research) , yang berlokasi di Bogor.
    • Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, di Yogyakarta,
    • Balai Penelitian Kehutanan Makassar, yang berlokasi di Makassar,
    • WWF Indonesia, yang berlokasi di Mataram, NTB, dan
    • Trees for Trees, LSM yang berlokasi di Pati, Jawa Tengah

Menghubungkan petani hutan rakyat dengan pasar? Dan mengapa perlu dihubungkan? Apakah mereka tidak dapat menghubungkan dirinya sendiri dengan pasar?

Sementara kegiatan penelitian yang berjangka waktu kurang lebih empat setengah tahun (berakhir di tanggal 30 September 2015) ini melakukan beberapa hal seperti misalnya: Melakukan analisis terkait dimensi sosial CBCF (Community Based Commercial Forestry – Kehutanan komersial yang berbasis masyarakat), melakukan evaluasi rantai nilai, penelitian mengenai meningkatkan kapasitas petani hutan, yang terkait dengan keputusan investasi petani terkait dengan lahan hutan rakyatnya.

Sebagai informasi, hutan rakyat diartikan sebagai tanaman komoditas kehutanan (yang membentuk hutan) yang ditanam di lahan milik rakyat atau masyarakat (petani), bukan di lahan perusahaan maupun lahan negara.

Kembali kepada beberapa pertanyaan di atas, pada pertanyaan pertama ditanyakan tentang hubungan petani hutan rakyat dengan pasar. Berdasarkan hasil penelitian maupun pengamatan, sejauh ini, ternyata terlihat bahwa petani hutan rakyat belum dapat dikatakan ‘familiar’ dengan situasi pasar kayu. Berapa harga kayu, berapa harga log, apakah ada perbedaan antara harga kayu yang baik dengan yang tidak baik, berapa range-nya, serta bagaimana kriteria kayu yang baik menurut kriteria pasar ataupun industri, dan informasi-informasi seperti itu sangat minim diketahui oleh masyarakat.  Padahal dalam masa sekarang ini, telah diakui bahwa petani hutan rakyat adalah bagian tidak terpisahkan, atau dapat dikatakan sebagai aktor utama dalam kehutanan yang bersifat komersial (CBCF).

Kalau kemudian timbul pertanyaan, apakah perlu dihubungkan? Jawabannya mungkin bisa ya ataupun tidak. Hanya saja, dari pengamatan, lebih banyak yang menjawab bersedia untuk dihubungkan dengan pasar. Alasan utamanya adalah mereka masih belum merasa bisa berhubungan ataupun terhubung dengan pasar.

 Selama ini, hampir sebagian besar petani hutan rakyat akan berhubungan dengan pedagang antara (middleman), dari proses yang terkait proses jual beli serta proses penebangan, hingga informasi harga di pasar diperoleh dari pedagang antara. Sepertinya akan masih memerlukan waktu yang panjang untuk sampai tidak memiliki pola seperti itu.

 Dari pertemuan di Yogyakarta tersebut, makin terkuak perlunya ‘menghubungkan’ petani hutan rakyat dengan pasar, sebagai bagian dari kehutanan komersial, dimana petani hutan rakyat adalah aktor utama dari pembangunan kehutanan. Sebagai aktor utama, sudah sewajarnya kalau pihak yang mendapat keuntungan dari CBCF itu adalah mereka, petani hutan rakyat

 Dari hasil penelitian ACIAR tersebut, diperkenalkan metode MTG – MTG approach (MTG = Master Tree Grower), yang digagas oleh Rowan Reid, yang adalah konsultan sekaligus dosen di University of Melbourne. Dalam metode ini, yang dilaksanakan dalam bentuk training, peserta pelatihan – yang sebagian besar pesertanya adalah anggota kelompok tani, diberikan dan diperkenalkan dengan industri kayu, untuk memberikan pemahaman, kemana muara dari kayu yang mereka tanam. Karena muaranya adalah terutama untuk dijual, disamping untuk digunakan sesuai keperluan pemiliknya, maka mereka perlu diberikan pemahaman tentang ‘pasar’ yang akan dihadapinya kelak. Hasil awal membuktikan bahwa metode ini efektif dalam merubah paradigma mereka tentang keuntungan yang akan mereka peroleh dari pengelolaan hutan rakyat yang selama ini mereka telah lakukan (di kesempatan lain akan saya uraikan lebih jauh tentang program MTG ini).

 1409176016522830992

Acara pembukaan annual meeting

Dalam pidato pembukaannya, baik yang disampaikan (secara tertulis) oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kepala Badan Litbang Kehutanan, keduanya menekankan akan pentingnya para pihak untuk terus-menerus menyadari bahwa manusia (baca: petani hutan serta masyarakat di sekitar hutan lainnya) adalah aktor utama dalam pembangunan kehutanan dan yang diuntungkan dari pembangunan kehutanan tersebut – disamping keuntungan lain seperti misalnya untuk perbaikan lingkungan. Beranjak dari situ pulalah harapan terhadap hasil penelitian yang dilakukan oleh ACIAR – Kementerian Kehutanan (dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam kolaborasi tersebut diatas) itu.

1409176150833454773

Dr. Digby Race – Perwakilan ACIAR (sebelah kiri)

Yogyakarta, August 2014

 @kangbugi

Keterangan:

- foto-foto adalah dokumen pribadi

Reblogged from my article published at: http://sosbud.kompasiana.com/2014/08/28/petani-hutan-rakyat-perlu-mengenal-pasar-mekanisme-pemasaran-kayu-671142.html

Workshop Radar Meteorologi

 

 

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC) melalui program Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development – Maritime Continent Center Of Excellent (SATREPS – MCCOE) JST/JICA, bermaksud menyelenggarakan workshop sehari mengenai radar meteorologi dan berbagai aplikasinya, yang akan dilaksanakan pada:

  • Hari/Tanggal : Kamis, 28 Februari 2013
  • Waktu : 08.30 – 17.15 WIB
  • Tempat : Ruang Komisi Utama, Gedung II BPPT Lt. 3 (Radar Meteorology Workshop) Jl. MH Thamrin No. 8, Jakarta Pusat

Workshop internasional ini akan menghadirkan pakar radar cuaca dari Jepang dan Indonesia dan memaparkan hasil program SATREPS MCCOE melalui kajian riset fenomena atmosfer terkait cuaca ekstrem seperti banjir menggunakan radar meteorologi di wilayah Indonesia.

Undangan ini terbuka untuk umum, dan bagi peminat harap segera mengisi Lembar Konfirmasi serta mengirimkannya ke e-mail/fax sesuai dengan yang tertera pada lembar tersebut. Sehubungan dengan tempat yang terbatas maka Pendaftar pertama lebih diutamakan, dan konfirmasi paling lambat sudah diterima panitia pada hari Selasa 26 Februari 2013.

Informasi dapat menghubungi:

Hartanto Sanjaya di http://twitter.com/httsan

Isi Lembar Konfirmasi

 

 

Social Good Summit 2012

Senin, (24/9) di Jakarta digelar acara Social Good Summit 2012 yang diselenggarakan oleh UNDP bekerja sama dengan IDBlognetwork. Seorang sahabat blogger, Brad @indobrad melaporkan kegiatan yang dihadiri oleh perwakilan blogger tersebut di blognya. Berikut tulisan selengkapnya, yang berjudul “Pikir-Pikir Perubahan Iklim”.

***

Bumi semakin panas. So what?

Sebuah diskusi digelar antara UNDP dengan para blogger Senin malam (24/Sep/2012) lalu yang bertempat di kantornya di Jakarta. Dalam diskusi ini UNDP hendak merumuskan pemikiran bersama dengan para aktivis media sosial di Indonesia dan khususnya para blogger mengenai isu-isu hangat tentang lingkungan hidup dan perubahan iklim dunia. Sebenarnya diskusi ini digelar tidak hanya di Jakarta saja namun di seluruh dunia dalam rangka Social Good Summit 2012, sebuah meetup berskala global yang mempertemukan aktivis masyarakat dari berbagai sektor dan bersama-sama memikirkan masalah dan solusi yang menghadang warga dunia, yakni perubahan iklim yang semakin drastis.

Saya datang malam itu dengan pikiran kosong; dalam arti siap menerima masukan apa saja dan mengeluarkan opini apa saja yang terpikir di kepala tanpa menjejali otak dengan referensi dan pemahaman mendalam tentang isu-isu terbaru. Dan ketika diskusi dibuka oleh Anjari Umarianto selaku moderator, kesan bahwa saya tidak sendirian langsung terasa. Meski semua peserta yang hadir paham apa saja isu umum yang mengancam bumi kita, hanya sedikit yang benar-benar menyadari keseriusan masalah dan sudah melakukan langkah-langkah tertentu untuk mencegahnya. Yang saya pikirkan dan utarakan saat itu adalah bahwa saya telah menyadari bahwa perubahan iklim dan pemanasan global telah sampai pada titik ‘no turning back’ dan usaha apa pun yang kita lakukan tidak akan mampu menghentikan gejala alam ini. Dengan segera saya lalu dimasukkan ke dalam kelompok ‘pesimistis’ oleh Eyang Anjari dan yah, mungkin itu ada benarnya.

Saya sudah sebut di atas bahwa saya datang apa-adanya dan siap belajar. Jadi bagaimana status bumi kita sekarang? Berikut beberapa fakta yang terdengar dalam diskusi Senin lalu:

1. Sekitar 900 juta penduduk Asia-Pasifik hidup di bawah garis kemiskinan; 70% di antaranya tidak mendapat akses ke fasilitas sanitasi dasar seperti air bersih.

2. Pertumbuhan mobil pribadi di Jakarta melebihi 10% per tahun; tercepat di Asia.

3. Gas metana ekses produksi pertanian menyumbang 18% terhadap pemanasan global; asap kendaraan bermotor di seluruh dunia menyumbang 13%.

4. Garis pantai sepanjang 5 kilometer di Muara Gembong, Bekasi, telah habis oleh abrasi pantai dan menyapu rumah-rumah penduduk di kampung nelayan.

5. Dalam 10 tahun terakhir, terlepas dari segala kampanye lingkungan hidup global, kondisi bumi terus memburuk dan eskalasinya semakin mengkhawatirkan.

Apa yang bisa kita lakukan sekarang kalau upaya apapun tidak membuahkan hasil dan bumi lama-lama akan ‘mati’ juga? Sejenak pandangan pesimis ini mengemuka begitu jelas sehingga saya merinding sendiri membayangkan seperti apa bumi yang akan kita tinggalkan bagi anak-cucu kita.

Mitigasi & Adaptasi

Seberapa berat pun kondisi bumi kita, saya sadar bahwa kita tidak memiliki bumi lain dan inilah satu-satunya taruhan masa kini dan masa depan umat manusia yang harus kita pertahankan dan perbaiki. Tindakan radikal berupa mitigasi mutlak perlu dan telah banyak dilakukan di seluruh dunia guna meminimalisir dampak bencana dan menghindari sebanyak mungkin jatuhnya korban. Dari data-data di atas nyata bahwa masyarakat miskin adalah lapis pertama yang akan terdampak oleh bencana lingkungan; curah hujan yang abnormal saja mampu mematikan beberapa mata pencaharian petani dan nelayan. Selain mitigasi, kita juga perlu beradaptasi dengan kondisi lingkungan baru yang, meski tidak semakin nyaman, paling tidak masih sedikit memberi ruang bernafas bagi penghuninya.

Dari pemaparan umum tentang kondisi lingkungan hidup, diskusi lalu mengerucut ke arah bagaimana kita sebagai aktivis media sosial dapat berperan sebagai agen perubahan perilaku masyarakat terhadap pelestarian lingkungan. Blogger maupun pegiat media internet lainnya tak urung telah menjadi patokan bagi perilaku masyarakat umum karena eksistensi kita di media melebihi yang lain dan kita sanggup membawa pesan-pesan penting untuk tujuan yang lebih baik. Sekian usulan sudah terdengar namun saya mencatat beberapa yang berkesan saja:

1. Suarakan status bumi dan langkah-langkah antisipasi bencana melalui jaringan internet di segala kanal.

2. Ubah pandangan orang melalui tulisan mendalam yang persuasif guna meningkatkan kesadaran akan lingkungan hidup.

3. Beri teladan dengan aktif melakukan sesuatu bagi kelestarian lingkungan melalui tindakan nyata sambil terus menyuarakannya di media sosial.

Topik penting lainnya yang mengemuka adalah bagaimana kita menciptakan kampanye yang sesuai sasaran agar isu yang nampak berat ini menjadi fun dan mampu memengaruhi orang lain dengan cepat. Beberapa teman mengusulkan event-event seru seperti lomba menulis, video, sampai traveling yang dikemas khusus untuk kampanye lingkungan. Mas Tomi Soetjipto, Communication Analyst UNDP di Indonesia bahkan sampai menayangkan video kampanye lingkungan yang pernah dibuat dan membuka kesempatan dikritik seluas-luasnya oleh peserta yang hadir. Berikut video dalam Bahasa Indonesia yang berdurasi 42 detik ini:

 

Think Big, Start Small, Act Now

Meski berawal dari diskusi yang sangat global, langkah-langkah mitigasi dan adaptasinya ternyata sangat sederhana, yaitu mulai dari diri kita sendiri. Eka Situmorang, seorang blogger sekaligus kawan baik saya ternyata telah melakukan sesuatu yang sangat sederhana tapi mengenai sasaran, yakni diet kantong plastik. Ke mana-mana Eka selalu membawa tas kain dan menolak tiap kali ditawari kantong plastik oleh kasir pasar swalayan. Saya pun teringat pada Lita Uditomo yang disiplin memilah sampah di rumahnya serta mendukung komunitas Depok Berkebun dengan cara memanfaatkan lahan kosong di tempat tinggalnya guna ditanami pohon dan tanaman yang bermanfaat. Lalu apa yang bisa saya lakukan? Berikut beberapa komitmen saya:

1. Diet kantong plastik dengan ikut membawa tas kain dari sekarang dan mengurangi penggunaan plastik.

2. Meminimalisir penggunaan kertas dengan memanfaatkan kertas bekas untuk keperluan sehari-hari.

3. Menghemat listrik.

Sangat sederhana bukan? Sempat pula terbersit pemikiran bahwa usaha ini akan menemui jalan buntu ketika sampah yang sudah dipilah sebelum dibuang, misalnya, akan dicampur lagi oleh dinas kebersihan kota yang tidak paham pentingnya pelestarian lingkungan. Untuk itu langkah lain yang patut pula ditempuh adalah berkomunikasi secara positif dengan para penentu kebijakan publik agar mengambil tindakan yang pro-lingkungan hidup melalui tulisan-tulisan kita di blog dan media lainnya.

Saya akui, saya masih pesimis karena usaha-usaha kita seolah sporadis dan belum juga nampak hasilnya. Namun sekali lagi, kita tidak memiliki bumi lain. Yang kita wajib lakukan sekarang adalah mengajak sebanyak mungkin orang untuk berbuat sesuatu bagi keberlangsungan hidup dan masa depan kita.

Terima kasih kepada UNDP dan IDBlogNetwork atas undangan diskusi yang sangat mencerahkan.

Sumber: indobrad.web.id

Global Warming Vs Petani

Ditulis oleh Toto Sugiharto @gunungkelir

Dalam Perjalanan saya ke Jakarta menggunakan Kereta api saya duduk bersebelahan dengan seorang pemuda yang kebetulan memiliki tujuan yang sama ke Jakarta , sesaat setelah berbasa basi kami pun terlibat ngobrol dan saling berbasa basi mengisi perjalanan.

Ketika saling menanyakan untuk apa ke jakarta maka saya hanya menjawab untuk bertemu dengan teman dan menjenguk saudara di Jakarta agar tidak memperpanjang kalimat, Kemudian saya yang berbalik bertanya :

“Mas Ke Jakarta dalam rangka apa..?” saya Balik bertanya kepada nya

” saya ke Jakarta untuk bertemu dengan teman teman untuk membahas Program penanganan Pemanasan Global atau Global Warming.

“ ia menjawab dengan penuh semangat

Kemudian saya iseng bertanya tentang hal yang mendasar mengenai Global Warming mengenai penyebab dan dampak dari pemanasan global bagi kita semua.

” Mas Apa sebenarnya Global Warming atau pemanasan Global itu apa penyebabnya dan apa dampaknya …..i?” saya bertanya padanya sambil menawari makanan ringan.

” Pemanasan global adalah meningkatnya suhu rata rata yang di sebebkan oleh beberapa efek termasuk efek rumah kaca dan banyak lagi pak termasuk meningkatnya carbon yang di hasilkan oleh kendaraan bermotor yang akhirnya menciptakan penyekat di atmosfir dan meningkatkan efek pemanasan terhadap bumi pak ” dia Menjelaskan dengan panjang lebar.

Sesampai di stasiun Purwokerto kereta berhenti sejenak dan setelah berjalan kembali dan kami pun terlibat pembicaraan kembali dan iapun melanjutkan menerangkan mengenai dampak pemanasan global terhadap banyak hal yang sebenarnya saya pun sudah mengerti, namun memang sudah merupakan kebiasaan saya selalu berlagak tidak mengerti dengan hal tersebut untuk bermaksud menambah atau melengkapi informasi maupun wawasan mengenai hal tersebut.

Pembicaraanpun kami lanjutkan sampai pada penanganan serta program program untuk mereduksi dn mengatasi pemanasan global tersebut dan saya juga setuju dengan cara paling mudah yaitu dengan mereduksi karbon atau mengurangi jumlah karbon dengan cara menanam banyak pohon, menanam pohon memang sangatlah efektif untuk mengikat karbon di udara yang kemudian memecahnya dalam proses fotositetis dan menyerap kedalam kayunya.

Panjang lebar dia berbicara tentang global warming yang kemudian mengerucut setelah saya bertanya pada dia mengenai program program pengendalian global warming yang di konsepkan dia dan kawan kawan.

Sejauh ini ternyata masih berkutat di tingkat konsep dan perencanaan mereka dan kawan kawannya sedangkan saya juga di ajaknya untuk ikut untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini, dalam bathin saya berkata wah saya udah di ajak juga sama kang Suryaden DKK untuk masalah seperti ini.

Kemudian saya bertanya secara pribadi apa yang telah ia lakukan secara real dalam masalah ini dan Diapun masih sampai pada melakukan kampanye serta sosialisasi di mana mana .

Waktu berjalan semakin larut malam dan saya mengakhiri pembicaraan dan dalam benak saya berkata “ ah kamu masih berjalan di atas aplikasi saya telah tanam ribuan pohon mahoni dan albasiah dengan tujuan menyelamatkan perut saya dan berefek menahan karbon wakakakakaka “

Saya akhirnya menyadari dan berterima kasih untuk para petani di lingkungan saya yang selalu mengajak saya untuk menanam pohon di sisi untuk penghijauan dan makanan ternak rupanya berfungsi juga menahan carbon dan lebih jauh tanpa sadar mereka mengajari saya untuk ikut menyelamatkan dunia dari isu global warming.

Tanpa sadar mereka memikirkan lingkungan dan berdampak secara nasional bahkan internasional ……

Hidup Petani Indonesia

Trus apa yang sudah anda lakukan ……..?

_______________________

Kontributor TOTOK SUGIHARTO adalah blogger-entrepreneur berdomisili di RT : 07 /01 Katerban . Desa Donorejo. Kec .Kaligesing . Kab Purworejo . Jawa  Tengah . Indonesia. Sukses dalam menjalankan usaha Ternak Kambing Etawa melalui penjualan langsung dan sosial media. Kontributor dapat dihubungi melalui Email : totok_kelir@yahoo.co.id atau twitter @gunungkelir

 

sumber gambar: nyitnyitdotcom

Earth Hour 2012

Tahun ini merupakan keempat kalinya Earth Hour diselenggarakan di Indonesia. Tepat pada 31 Maret 2012 besok, kita semua dihimbau untuk mematikan lampu dan peralatan listrik yang tidak diperlukan mulai pukul 20.30-21.30. Cuma 1 jam saja, tetapi boleh jadi itu berarti banget buat bumi kita.

Sebenarnya bukan perkara mati lampu yang ingin dicapai dari kampanye Earth Hour setiap tahun. Yang ingin disosialisasikan adalah gaya hidup kita dalam menghemat energi dan ramah terhadap lingkungan. Itu bisa kita mulai dari hal-hal yang sepele, seperti mematikan keran air ketika tak digunakan, mematikan peralatan bertenaga listrik jika tak benar-benar diperlukan, dan gaya hidup ramah lingkungan lainnya, seperti memprioritaskan menggunakan transportasi umum ketimbang mobil pribadi, bahkan jika perlu cukup bersepeda dan berjalan kaki untuk jarak dekat. Read More

aryani

Kebun Raya Bogor di Pagi Hari

Bagaimana Kebun Raya Bogor di pagi hari? Sila menikmati karya fotografi Aryani Leksonowati.


“Edisi hunting minggu pagi, 17 Juli 2011
Taken by Canon EOS-40D, lensa kit 18-55 mm”

From Kebun Raya Bogor di Pagi Hari, posted by Aryani Leksonowati on 7/17/2011 (41 items)

Generated by Facebook Photo Fetcher


langit senja

Lukisan Langit

Karya fotografi Mataharitimoer, Bogor. Pemandangan langit yang unik di sore hari. Read More

riau460

Lingkungan Indonesia

Video berdurasi 06:17 menit ini dibuat oleh artcrimeantisocial di youtube. Video ini menggambarkan lingkungan di Indonesia. Read More