Peneliti Litbang Kehutananpun belajar dari Jokowi

Peneliti Litbang Kehutananpun belajar dari Jokowi

Dalam kunjungan kerjanya di kantor Balai Penelitian Kehutanan Makassar (BPKM) beberapa waktu lalu (13/10/2014), Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Prof. San Afri Awang, menekankan beberapa hal penting yang  perlu menjadi perhatian peneliti khususnya lingkup BPKM.

Yang pertama adalah,”Peneliti itu harus banyak melakukan kegiatan membaca – meneliti atau membuat gagasan – serta menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan.”

Selanjutnya Kepala Badan juga menekankan,”Peneliti itu harus bisa Bahasa Inggris, harus bisa ngomong Inggris.”

Lantas apa hubungannya dengan Presiden Jokowi?

Pada hari kamis beberapa waktu lalu, dalam kegiatan TiMTEng (Thirty Minutes Talking in English) di ruang Kelompok Peneliti Sosial Ekonomi Kehutanan (Kelti Sosek) BPKM, peserta TiMTEng mencoba menelaah pidato Presiden Joko Widodo – yang diunggah dari youtube.

Kegiatan ini sebagai implementasi dari tugas peneliti seperti disampaikan Kepala Badan di atas.

Yang dilakukan adalah menelaah dengan cara memperhatikan dan membahas pidato Presiden Jokowi tersebut. Presiden menyampaikan pidatonya dalam bentuk presentasi itu dihadapan sekitar 1500 Chief Executive Officers (CEO). CEO-CEO tersebut merupakan peserta pertemuan puncak Asia -Pacific Economic Cooperation (APEC) CEO Summit yang diselenggarakan di Beijing, China pada tanggal 13/10/2014 lalu.

Hasil penting dari telaahan peserta TiMTEng antara lain seperti diungkapkan salah seorang peserta, yaitu Ramdana Sari atau Wiwik, peneliti dari Kelti Silvikultur yang menyatakan,”Pidato pak Jokowi sama dengan prinsip-prinsip mengkomunikasikan ilmu pengetahuan (sain), yaitu ABC.” Wiwik menyandarkan pendapatnya itu kepada pendapat dalam buku yang ditulis Malmfors, et al. (2005) yang berjudul Writing and Presenting Scientific Papers.

Dalam bukunya itu, Malmfors menyatakan bahwa dalam mengkomunikasikan sain, perlu memperhatikan tiga hal utama, yaitu ABC. A untuk (accurate) akurat dan Audience-adapted: menyesuaikan dengan audiens yang dihadapinya/targetnya; B (Brief) untuk singkat – hindari penggunaan kata-kata yang tidak perlu, serta C (Clear) yaitu jelas.

Dalam presentasinya, walau bukan presentasi ilmiah, Presiden Jokowi telah mempraktekan prinsip ABC tersebut, dalam rangka ‘mendiseminasikan’ Indonesia kepada pihak luar, audiensnya (para CEO APEC). Serupa dengan apa yang ada dalam dunia penelitian, hasil-hasil penelitian pun perlu didiseminasikan.

Diseminasi hasil penelitian telah diakui pula oleh Kepala BPKM, Ir. Misto, MP, sebagai hal yang penting, terutama dalam menaikkan peran institusi riset, seperti BPKM (07/11/2014).

Hasil telaahan lain dari peserta TiMTEng terhadap pidato Presiden Jokowi yang berguna sebagai media pembelajaran, terutama bagi para peneliti dalam melakukan kegiatan mendiseminasikan hasil-hasil penelitiannya, adalah: -          Bahasa Inggris yang digunakan adalah simple English. Bahasa Inggris yang sederhana, mudah dimengerti tapi tepat sasaran (straight to the point), bukan Bahasa Inggris yang berbunga-bunga ataupun yang sulit.

Kembali kepada nasihat Kepala Badan – “agar peneliti harus bisa ngomong Inggris“, untuk peneliti yang dituntut melakukan presentasi dalam Bahasa Inggris, presentasi Presiden Jokowi dapat dijadikan contoh.

Presentasi yang dimuat dalam bentuk power point ini mengambil format mengikuti prinsip-prinsip komunikasi populer, yaitu penting, menarik dan relevan – serta sangat memperhatikan unsur latar belakang audiens.

Secara lebih luas, hal-hal terkait komunikasi populer telah dibahas baru-baru ini dalam pelatihan menulis populer yang diselenggarakan oleh FORDA bekerjasama dengan CIFOR (29/10/2014) (info lengkap dapat dilihat pada link berikut: http://balithutmakassar.org/forda-dan-cifor-bekerjasama-gelar-pelatihan-penulisan-artikel-populer/).

Hal lain, Presiden Joko Widodo sangat memperhatikan efisiensi waktu presentasi. Presentasi yang sangat ABC tersebut, hanya membutuhkankan waktu sekitar tiga belas menit saja, tidak lebih.

Sementara kita seringkali menjumpai pemateri-pemateri yang tidak menggunakan waktu presentasinya secara efisien. Moderator telah mengingatkan waktu presentasi telah berakhir, namun masih banyak hal-hal prinsip yang belum disampaikan oleh si pemateri.

Terlepas dari isi atau konten presentasinya, cara Presiden Jokowi menyampaikan presentasinya di hadapan para CEO APEC, dapat memberikan pelajaran positif terutama bagi para peneliti.

Semoga bermanfaat

@kangbugi

Sudah diposting pula secara lengkap di: http://www.kompasiana.com/bugisumirat/peneliti-litbang-kehutananpun-belajar-dari-jokowi_54f3ba56745513932b6c7ebc

Be Sociable, Share!

You must be to post a comment