Hutan rakyat dirawat, kualitas kayu lebih baik, petani sejahtera, pembelajaran dari pelatihan MTG di Bulukumba, Sulawesi Selatan

Hutan rakyat dirawat, kualitas kayu lebih baik, petani sejahtera, pembelajaran dari pelatihan MTG di Bulukumba, Sulawesi Selatan

Salah satu alasan dilaksanakannya kegiatan pelatihan MTG (Master TreeGrower) oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Balai Penelitian Kehutanan Makassar (BPKM) pada bulan Mei 2015, seperti dikatakan oleh Kadishutbun Kab. Bulukumba, Ir. Misbawati A. Wawo, MM., bahwa sebagai satu-satunya kabupaten di Indonesia yang menerima, melaksanakan dan menyebarluaskan pelatihan untuk peningkatan kapasitas petani hutan rakyat dengan metode MTG ini, Bulukumba menunjukkan komitmennya untuk meningkatkan taraf hidup petani-petani hutan rakyatnya dari lahan-lahan hutan rakyat yang mereka miliki – dengan memperkenalkan paradigma baru kepada petani hutan rakyat.

Ditahun-tahun ke depan, pelatihan MTG ini akan diupayakan dilaksanakan secara berkelanjutan dan tepat sasaran. Untuk itu Dishutbun Kab. Bulukumba akan terus bekerja sama dengan peneliti-peneliti sosial ekonomi BPKM untuk men-training petani-petani hutan rakyat Bulukumba.

Namun dalam kesempatan penutupan kegiatan pelatihan MTG yang bertempat di areal pengembangan perlebahan di Dusun Takkue, Desa Seppang, Kabupaten Bulukumba, Kadishutbun Bulukumba kembali menyatakan kekhawatirannya jika ilmu-ilmu yang didapat dalam pelatihan ini tidak diaplikasikan oleh petani, petani akan kehilangan kesempatan untuk merawat areal hutan rakyatnya untuk menghasilkan kualitas yang lebih baik lagi. “Tujuan mereka diikutkan dalam pelatihan MTG ini agar mereka dapat meningkat pendapatannya dari kualitas kayu yang lebih baik yang dimilikinya yang tentunya akan membuat harga jual kayunya lebih tinggi, sebagai akibat dari keikutsertaan mereka dalam pelatihan ini.

“Sangat disayangkan jika mereka tidak menyerap ilmu ini dengan baik dan tidak mengaplikasikannya.” Demikian tambah Kadishut Kab. Bulukumba.

Pernyataan Kadishut tersebut beralasan. Terlihat dari masih banyak peserta di hari terakhir kegiatan MTG yang masih ‘gugup’ tentang bagaimana mempraktekan sebagian ilmu MTG ini – terutama dalam hal pengukuran seperti mengukur volume kayu, basal area pohon dan tegakan serta penerapannya untuk menentukan penjarangan pohon.

Namun dengan upaya keras pemateri-pemateri yang juga adalah peneliti-peneliti sosial ekonomi dari BPKM, kekhawatiran dan kegugupan para peserta MTG dapat diminimalisir. Minimal para peserta menguasai dasar-dasar yang perlu diketahui dan dikuasai sebagai seorang petani hutan rakyat yang MTG.

Kepala Dishutbun Kabupaten Bulukumba, yang juga adalah seorang yang ‘concern’ dengan pengembangan lebah madu di Kabupaten Bulukumba ini kemudian berkomitmen akan melakukan penyegaran bagi mereka, (hanya) alumni-alumni MTG yang serius menerapkan MTG di lahan atau kebunnya masing-masing pasca pelatihan.

“Bukan apa-apa, mereka nanti perlu penyegaran karena kan pada akhirnya mereka-mereka juga yang untung, para petani hutan rakyat, bukan kami. Kami, pihak Dishutbun, hanya berusaha memfasilitasi mereka agar meningkat kapasitasnya, menghasilkan kayu yang berkualitas baik dan kelak memiliki harga jual yang tinggi, seperti nyanyian Mars Petani Hutan Rakyat yang sering dinyanyikan selama pelatihan MTG.” Demikian tambah Misbawati, yang juga memiliki lahan hutan rakyat yang sering dipergunakan untuk kegiatan pelatihan serta penelitian, dalam sambutan penutupan pelatihanMTG tersebut.

Mars Petani Hutan Rakyat?

Selama pelatihan, para peserta yang adalah petani hutan rakyat ini diperkenalkan kepada lagu yang berjudul Mars Petani Hutan Rakyat, dengan tagline: ‘Pelihara Pohonmu’. Lagu yang mengadopsi lagu Dimana Anak Kambing Saya ini telah digubah lirik atau syairnya oleh Bugi Sumirat dan Achmad Rizal. Lirik tersebut untuk memotivasi para peserta pelatihan MTG agar dapat mengingat bahwa melalui MTG, mereka diperkenalkan pada paradigma baru bahwa tanaman kehutananpun perlu dirawat (paradigma lama, tanaman kehutanan setelah ditanam tidak memerlukan perawatan sebagaimana tanaman/komoditas pertanian/perkebunan) serta mengapa mereka perlu merawat pohon-pohonnya, merawat hutan rakyatnya.

Syair lengkap lagu Mars Petani Hutan Rakyat tersebut adalah sebagai berikut:

MARS PETANI HUTAN RAKYAT

Pelihara Pohonmu

Diadopsi dari lagu: Dimana anak kambing saya

Syair/lirik: Bugi Sumirat dan Achmad Rizal

Mana dimana meter kayu saya, Meter kayu saya ada dalam kantongku,

Mana dimana gaus kayu saya, Gaus kayu saya juga dalam kantongku.

Kemana kita bawa? Kemana kita bawa? Pasti dibawa ‘tuk pelihara pohon kita.

Knapa-kenapa harus plihara pohon. Harus plihara pohon supaya harga tinggi.

Knapa-kenapa harus plihara pohon. Harus plihara pohon supaya harga tinggi.

Kalau harganya tinggi! Kalau harganya tinggi! Pasti yang untung PETANI  HUTAN  RAKYAT!

Kalau harganya tinggi! Kalau harganya tinggi! Pasti yang untung PETANI  HUTAN  RAKYAT!

Lagu diatas, pelatihan MTG ini, dengan kerjasama yang erat antara Balai Penelitian Kehutanan Makassar dengan Dishutbun Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan merupakan bekal-bekal bagi petani hutan rakyat untuk bertransform menjadi petani hutan rakyat yang MTG, yang mau merubah paradigma lama menjadi paradigma baru: Hutan rakyat perlu dirawat untuk menghasilkan kayu yang berkualitas lebih baik. Kualitas kayu lebih baik, harga jualpun meningkat. Harga jual meningkat, petani hutan rakyatlah yang akan menikmatinya.

Benar demikian, bukan?

Semoga bermanfaat

Mei 2015

@Kangbugi [catatan: foto-foto: koleksi pribadi & Abdul Kadir W]

Telah diposting secara lengkap di : http://www.kompasiana.com/bugisumirat/hutan-rakyat-dirawat-kualitas-kayu-lebih-baik-petani-sejahtera-pembelajaran-dari-pelatihan-mtg-di-bulukumba-sulawesi-selatan_555fe07c719773f9108b4576

Be Sociable, Share!

You must be to post a comment