Green Hospital Blogging competition: what a sad saga

Green Hospital Blogging Competition nampaknya harus berakhir dengan menyedihkan (what a sad saga). Hal ini akibat dari minimnya rasa tanggung jawab (malah kalau boleh dibilang tidak ada) pihak RSUD Daya Kota Makassar didalam menyelesaikan hak dan kewajiban para peserta lomba Green Hospital. Apalagi terhadap para pemenang yang sudah jelas apa saja hadiah yang harus diterimanya, dan hadiah-hadiah tersebut sudah ada peruntukkannya dan sudah diadakan, tinggal diserahkan oleh pihak RSUD Daya Kota Makassar.

Ini bermula dari terjadinya pergantian pimpinan di RSUD Daya Kota Makassar. Program Green Hospital direncanakan dan dicanangkan pada saat pimpinan RSUD Daya Kota Makassar masih dipimpin oleh dr. St Saenab, M.Kes. Beliaulah penggagas dan penyemangat kegiatan Green Hospital di rumah sakit tersebut. Penggantian beliau terjadi pada saat kegiatan Green Hospital sedang berjalan dan mendekati tahap akhir penerimaan tulisan dari para peserta lomba. Pengganti beliau, rupanya tidak paham dan tidak mengerti tentang kegiatan Green Hospital, terlebih lagi, bahwa penggantinya ini tidak paham (atau tidak mau paham?) bahwa kegiatan ini terkait dengan masyarakat luas. Tidak bisa dihentikan begitu saja, apalagi dengan alasan yang mengada-ada dan tidak jelas. Kegiatan ini memang diselenggarakan oleh institusi lokal (RSUD Daya Kota Makassar) tetapi berskala nasional. Terbukti dari tulisan-tulisan yang masuk dari pelbagai daerah, bukan hanya Makassar.

Terkait dengan masyarakat, tentu kita harus dahulukan kepentingan masyarakat. Menghentikan lomba sebelum waktunya, menunda-nunda penyerahan hadiah hingga waktu yang tidak jelas, merupakan pengabaian terhadap penuntasan kewajiban terhadap masyarakat. Sehingga, seperti yang sudah saya sarankan, seharusnya pihak Rumah Sakit Daya bisa menunjukkan apresiasinyaterhadap masyarakat yang telah bersusah payah berpartisipasi didalam kegiatan Green Hospital ini.

Linihijau adalah pihak yang dimintakan bantuan oleh RSUD Daya Kota Makassar untuk membantu mengelola kegiatan Green Hospital Blogging Competition. Kami merasa aneh pula dengan sikap RSUD Daya ini yang sepertinya tidak bermasalah dengan akibat dari pengabaian-pengabaian yang telah dilakukannya, tidak bermasalah dengan potensi tercorengnya nama RSUD Daya akibat ‘ulah’nya sendiri.

Kami sudah banyak memberikan masukan terhadap pihak RS Daya, namun, nampaknya apa yang kami lakukan adalah bak meludah ke langit. Kami pun diabaikan.

Melihat pengabaian tersebut, kami – dengan surat bertanggal 5 September 2013 – telah menarik diri dari membantu & mendukung kegiatan ini. Kami serahkan kembali semua tanggung jawab (yang sudah memang sepantasnya) yang tadinya dibebankan kepada pihak Linihijau, kembali kepada pihakl RS Daya. Kami sangat prihatin melihat kondisi seperti ini, tetapi RSUD Daya Kota Makassar sepertinya tetap bergeming dengan sikapnya dan memilih ‘berhadapan’ dengan masyarakat.

Dibagian bawah dari postingan ini, kami sertakan isi surat terakhir yang kami kirimkan kepada pihak RS Daya, tentang progres kegiatan Green Hospital Blogging Competition selama ini. Kami masih berharap agar pihak RS Daya dapat mempertimbangkan untuk dapat mengambil keputusan  bijak terkait permasalahan ini, minimal dengan memenuhi hak-hak para pemenang lomba dengan menyerahkan hadiah-hadiah yang sudah menjadi hak para pemenang.

Kepada para peserta lomba dan pemenang, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya karena kami tidak dapat ‘mengawal’ kegiatan ini dengan baik hingga batas waktu sesuai dengan tata waktu yang telah direncanakan dan mohon maaf pula karena kami tidak berhasil meyakinkan pihak RSUD Daya Kota Makassar agar mau memenuhi kewajibannya yang sudah sangat jelas merupakan tanggung jawab pihak RSUD Daya Kota Makassar.

Demikian yang dapat kami sampaikan.

Terima kasih

@kangbugi

Lampiran: Surat terakhir yang kami kirimkan untuk Direktur RS Daya.

Makassar, 20 September 2013

Nomor     : 10/IX/I/LH/2013

Lampiran : 1 berkas

Perihal     : Laporan Lengkap

Kepada Yth.,

Ibu Direktur RSUD Daya

Di

Tempat

Dengan hormat,

Bersama ini kami menyampaikan laporan terkait dengan kegiatan Lomba Green Hospital. Adapun  laporan ini merupakan rangkaian dari laporan-laporan sebelumnya yang sudah kami kirimkan kepada RSUD Daya kota Makassar yaitu pada tanggal sebagai berikut:

  1. Laporan pelaksanaan kegiatan pertama telah dikirimkan pada tanggal 13 Juni 2013 (seperti terlampir).
  2. Laporan pelaksanaan kegiatan kedua telah dikirimkan pada tanggal 2 Agustus 2013 (seperti terlampir).
  3. Laporan pelaksanaan kegiatan ketiga telah dikirimkan pada tanggal 5 September 2013 (seperti terlampir).

Dari laporan-laporan yang kami kirimkan tersebut, tidak ada satupun yang mendapat tanggapan dari pihak RSUD Daya Kota Makassar, sehingga kami, selaku pihak yang diminta bantuan untuk menyelenggarakan lomba Green Hospital ini menjadi bingung, sebetulnya kegiatan ini milik dan tanggung jawab siapa. Seolah-olah, kami lebih bertanggung jawab dari yang berkepentingan itu sendiri (RSUD Daya).

Namun demikian ada beberapa hal yang patut diperhatikan dan akan saya utarakan disini, yaitu:

  • Bahwa di awal kegiatan lomba Green Hospital, dengan disosialisasikan kegiatan lomba Green Hospital ini, melalui website RSUD Daya (rsudaya.org – dengan taglinenya: ‘towards the green hospital in Indonesia‘ – menuju Green Hospital di Indonesia)  dan website-website lain seperti: Kompasiana, Blogdetik, Linihijau, blog-blog pribadi dan ditambah dengan jalur facebook dan twitter, kegiatan ini telah berhasil melakukan sosialisasi tentang Green Hospital terhadap kurang lebih 3700an orang/pembaca (data sampai dengan tanggal 3 Juli 2013), dan jumlah ini terus bertambah dari waktu ke waktu (bukti terlampir). Walau dukungan dari RSUD Daya itu sendiri tidak signifikan dengan gencarnya proses sosialisasi Green Hospital seperti yang telah direncanakan, seperti misalnya: Tidak dipasangnya spanduk yang sudah dibuat sebagai bentuk sosialisasi bagi masyarakat di sekitar RSUD Daya; tidak disebarluaskannya poster-poster tentang lomba Green Hospital ini yang telah dicetak; tidak dikirimkannya pemberitahuan tentang pelaksanaan kegiatan ini melalui email ke media massa maupun institusi-institusi terkait seperti yang sudah disampaikan; tidak dilakukan update informasi terhadap kegiatan Green Hospital yang telah dilakukan oleh RSUD Daya selama ini melalui website yang telah disediakan (seperti dikeluhkan oleh banyak peserta lomba – sangat minimnya informasi yang bisa diperoleh dari website RSUD Daya – terkait kegiatan Green Hospital yang telah dilakukannya).
  •  Namun demikian, walau dengan keterbatasan kondisi seperti telah disebutkan di atas, dalam lomba ini telah berhasil menjaring sebanyak 73 buah tulisan tentang Green Hospital (keseluruhan tulisan yang masuk berjumlah diatas seratus tulisan, tetapi setelah diseleksi dengan kesesuaian peraturan lomba, maka dapat terjaring sebanyak 73 buah tulisan. Dari 73 tulisan ini dipilih 3 pemenang – juara 1 s/d 3 serta 17 tulisan pendukung lainnya untuk dapat disusun menjadi sebuah buku tentang Green Hospital). Rata-rata tulisan yang masuk (baik dimuat dalam tulisan-tulisan tersebut, maupun melalui media lain berisi pula apresiasi mereka, penghargaan mereka terhadap upaya yang telah dilakukan oleh RSUD Daya didalam mensosialisasikan Green Hospital. Dan mereka mengapresiasi pula bahwa RSUD Daya-lah sebagai rumah sakit pertama di Indonesia yang peduli akan pentingnya memperhatikan lingkungan di lingkungan rumah sakit (Green Hospital).
  • Tanggapan-tanggapan yang muncul sangatlah positif terkait dengan kegiatan Green Hospital ini, hanya saja, nampaknya kegiatan ini harus berakhir anti klimaks. Sejak saya mendapat pemberitahuan tentang keinginan RSUD Daya (melalui drg. Nona) untuk memundurkan proses lomba ini hingga waktu yang tidak ditentukan (dikatakan oleh drg. Nona  s/d sekitar bulan Oktober) serta dengan alasan yang tidak dimengerti. Terkait dengan rencana ini saya sudah mengajukan beberapa pertimbangan melalui laporan saya tertanggal 2 Agustus 2013, tentang kemungkinan akibat buruk yang mungkin timbul bagi RSUD Daya jika perlombaan diperpanjang tanpa batas waktu yang jelas, karena proses sudah terpampang dengan jelas dimana jadwal tersebut telah disetujui oleh pihak RSUD Daya. Mengingat laporan yang saya sampaikan tidak ditanggapi, saya berusaha ‘memperlama’ sedikit prosesnya. Dan betul saja, penundaan yang belum seberapa itu mendapat respon yang kurang baik, terutama dari peserta lomba. Mereka semua sudah merasa antusias untuk mengetahui siapa pemenangnya dan hingga menjadi buku. Mulailah dampak buruk itu bermunculan. Kata-kata yang kurang pantas didengar bermunculan melalui twitter, website maupun blog, yang pada umumnya menyatakan kebingungan, kekecewaan, dan perasaan dilecehkan oleh RSUD Daya terhadap profesi penulis, bahkan ada yang berniat melakukan somasi. Beberapa pertanyaan (yang nadanya tidak terlalu kasar) yang bisa dikutip seperti tertera dalam lampiran. Inilah anti klimaks yang terjadi, diawal lomba/sosialisasi, nama RSUD Daya mengemuka dengan apresiasi terhadap kegiatan Green Hospitalnya, namun di penghujung lomba, nama RSUD Daya tercoreng dengan sikapnya sendiri.
  • Melihat desakan yang muncul, yang semakin deras, para juri merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut, terutama tidak mau dianggap melecehkan profesi penulis dengan mengulur-ulur jadwal pengumuman tanpa alasan yang jelas, akhirnya para juri menyerahkan wewenang tersebut kembali kepada pihak RSUD Daya yaitu agar pihak RSUD Daya dapat sesegera mungkin mengumumkan nama-nama pemenangnya secara resmi kemudian memberikan hadiah yang sudah disiapkan dan memang sudah menjadi hak para pemenang itu. Penyerahan ini disampaikan melalui email dan website resmi RSUD Daya. Dengan upaya ini, para juri membebaskan diri  dari tanggung jawab moral yang tidak semestinya.
  •  Semoga pihak RSUD Daya dapat secara bijak menyelesaikan persoalan ini, dimana permintaan penyerahan hadiah serta proses selanjutnya seperti yang sudah dijanjikan terus bermunculan (beberapa komentar seperti dalam kutipan terlampir).

Demikian penyampaian kami, semoga dapat dijadikan perhatian.

Terima kasih atas perhatiannya.

Hormat saya.

ttd

Bugi Sumirat

(Founder/Chief on Board)

 

Tembusan, disampaikan kepada Yth.,

  1. Bp. Walikota Kota Makassar, di Makassar
  2. Bp. Sekretaris Daerah Kota Makassar, di Makassar

 

Be Sociable, Share!

Leave a Reply