OMOT vs Bahasa Lokal

omot

OMOT vs Bahasa Lokal

Betul juga apa yang disampaikan seorang yang bekerja di perusahaan kayu ketika saya melakukan perjalanan dinas ke suatu kabupaten di Sulawesi Selatan beberapa waktu yang lalu, yang menyoroti masalah sosialisasi kehutanan.

Kenapa memangnya?

Rupanya ia agak ‘terusik’ dengan kebijakan yang mengambil tagline: OMOT (one man one tree) – satu orang tanam satu pohon. Ini terkait dengan kebijakan pemerintah menargetkan satu milyar pohon di tahun 2011. Kebijakan yang dirintis Kementerian Kehutanan itu dimulai sejak tahun 2008, kemudian diperkuat kembali di tahun 2009 lalu dan sempat pula mencanangkan Gerakan Penanaman 1 Milyar Pohon pada tahun 2010. 

Tidak ada yang salah dengan kebijakan itu. Makin banyak orang diingatkan akan pentingnya menanam pohon – bukan hanya untuk kepentingan jangka pendek, melainkan untuk jangka panjang – maka akan semakin baik kondisi lingkungan di Indonesia diharapkan ke depannya.
Hanya saja, menurutnya, akan lebih baik jika penyebarluasan informasinya itu menggunakan bahasa lokal.

Ya, bahasa lokal. Seperti misalnya di Sulawesi Selatan, dimana masukan ini berasal, jargon OMOT bisa diganti dengan Se’re Tao Se’re Pokok yang artinya sama dengan satu orang menanam satu pohon. Dengan pemikiran sederhananya ini, masyarakat lokal akan lebih bisa memaknai ungkapan itu dan mudah melekat didalam pikirannya. Kapan sudah melekat, tentunya akan mempermudah implementasinya. Untuk masyarakat yang mengerti Se’re Tao Se’re Pokok, akan lebih mudah mengingatnya dibandingkan dengan OMOT. Kadangkala pula, masih menurutnya, jika digunakan bahasa Indonesia, banyak masyarakat yang masih memiliki keterbatasan didalam memaknai Bahasa Indonesia – yang menurut sebagian masyarakat lokal dianggap sebagai bahasa Indonesia ‘tingkat tinggi’ – bukan bahasanya masyarakat awam.

Sepertinya ini hanya masalah penggunaan bahasa saja. Tetapi perlu diingat bahwa keberhasilan sosialisasi suatu program bagi masyarakat akan lebih berhasil dan tepat sasaran jika disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat setempat disamping harus juga sederhana dan lugas.

Untuk kepentingan pencapaian kegiatan sosialisasi, memperbanyak menggunakan bahasa/jargon lokal, mengapa tidak?

Makassar, 13 Februari 2012  
BS

sumber gambar : http://www.cargill.com/wcm/groups/public/@ccom/@assets/documents/image/cim069898.jpg

Be Sociable, Share!

You must be to post a comment